RADAR SURABAYA – Maraknya aksi demonstrasi yang melibatkan pelajar dan berujung kerusuhan di sejumlah daerah membuat Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya bergerak cepat. Forum Pembauran Kebangsaan (FPK) bersama Pemkot Surabaya mengajak seluruh elemen masyarakat untuk memperkuat keamanan kampung dan mencegah pelajar terseret aksi anarkis.
Ketua FPK Kota Surabaya, Hosli Abdullah, menegaskan bahwa Surabaya yang dihuni 27 suku dan dua etnis besar harus menjadi teladan keberagaman yang damai. Menurutnya, demonstrasi berisiko disusupi oknum yang bertujuan merusak, menjarah, hingga mengganggu aktivitas warga.
“Kami imbau seluruh warga menjaga lingkungannya, dan yang paling penting orang tua harus memastikan putra-putrinya tidak ikut demo yang berpotensi menimbulkan kerusuhan,” kata Hosli.
Hal senada ditegaskan Plt Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika (Kominfo) Kota Surabaya, M Fikser. Ia mendorong pengurus RT/RW, pemuda, hingga tokoh masyarakat memperkuat Pengamanan Swakarsa (PAM Swakarsa) sebagai garda terdepan kampung.
“Setiap kampung harus jadi benteng pertama. PAM Swakarsa perlu diperkuat agar keamanan tidak hanya bergantung pada aparat, tapi juga tumbuh dari kepedulian warga,” ujar Fikser.
Selain itu, Fikser mengingatkan pentingnya peran keluarga. Orang tua diminta lebih ketat mengawasi anak-anak, terutama pelajar SMA dan SMK, agar tidak terjerumus dalam kegiatan yang merugikan.
Ia juga mengajak seluruh ormas, LSM, komunitas hingga tokoh agama dan budaya untuk memperkuat solidaritas, menolak diskriminasi, intoleransi, serta kekerasan berbasis identitas.
“Semangat kebhinekaan adalah kekuatan utama kita. Surabaya harus tetap menjadi kota yang aman, nyaman, dan ramah bagi semua,” pungkasnya. (dim)