RADAR SURABAYA - Kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) berkembang pesat. Founder and Chairman MarkPlus Hermawan Kartajaya akan membahas Sustainable Marketing in The AI Era dalam Surabaya Marketing Week 2025 di The Sheraton Hotel, Kamis (28/8).
Perkembangan AI telah membuka cakrawala baru bagi dunia pemasaran. Dengan kemampuan analisis data yang canggih dan personalisasi mendalam, AI memungkinkan perusahaan memahami konsumen lebih baik dan memberikan pengalaman relevan. Namun, di tengah antusiasme ini, penting untuk tidak melupakan prinsip-prinsip sustainable marketing.
Founder and Chairman MarkPlus Hermawan Kartajaya menyebut sustainable marketing adalah pendekatan yang tidak hanya berfokus pada keuntungan jangka pendek, tetapi juga mempertimbangkan dampak sosial dan lingkungan.
"Di era AI ini, kita harus memastikan bahwa teknologi yang kita gunakan tidak hanya meningkatkan efisiensi pemasaran, tetapi juga memberikan manfaat bagi masyarakat dan lingkungan," ujar HermawanKartajaya.
Hermawan menambahkan, AI dapat digunakan untuk mengidentifikasi peluang baru dalam sustainable marketing, seperti mengembangkan produk ramah lingkungan, mengurangi limbah, dan meningkatkan efisiensi energi.
"Dengan AI, kita dapat mengoptimalkan rantai pasokan kita untuk mengurangi emisi karbon, atau mengembangkan kampanye pemasaran yang mendorong perilaku konsumen yang lebih bertanggung jawab," katanya.
Namun, Hermawan juga mengingatkan bahwa AI tidak boleh digunakan untuk memanipulasi konsumen atau menyebarkan informasi yang menyesatkan. "Kita harus menggunakan AI secara etis dan bertanggung jawab. Transparansi dan kejujuran adalah kunci untuk membangun kepercayaan dengan konsumen," tegasnya.
Meskipun AI dapat meningkatkan produktivitas dalam marketing, kreativitas tetaplah berasal dari manusia. AI dapat mempercepat pengumpulan dan pengolahan data, tetapi keputusan akhir tentang bagaimana data tersebut digunakan harus tetap di tangan manusia.
"Kalau produktivitas itu bisa diganti dengan teknologi, tapi kalau kreativitas yang sesungguhnya itu harus manusia," tegasnya.
Guru marketing itu menambahkan, AI itu harus dipakai dalam marketing sekalipun. Kalau tidak dipakai, maka tidak produktif.
Baca Juga: BRI Permudah Nasabah Aktifkan Rekening Dormant Lewat BRImo
Hermawan menjelaskan bahwa dalam konsep Marketing 7.0 yang akan datang, yang disebut sebagai "Augmented Human," manusia diberdayakan oleh teknologi. AI sangat membantu dalam mengoptimalkan strategi pemasaran berkelanjutan.
"AI itu kan data yang diolah. Sekarang customer itu kan ada data. Kalau kita kuasai historinya customer sama kita, dulu pernah di-approve gimana, terus pernah beli apa, belinya apa saja, terus kapan dan sebagainya. Itu kan bisa diolah baik. Kalau pakai teknologi, pakai AI itu kan lebih cepat. Tetapi nanti akhirnya mau diapain data itu, itu kan tergantung manusia," jelasnya.
Meski demikian, Hermawan juga memperingatkan tentang tantangan dalam penggunaan AI untuk marketing. Salah satunya adalah potensi penyalahgunaan untuk tujuan tidak etis.
"Tantangannya kalau manusia sedang menggunakan AI itu untuk kejahatan, untuk digunakan marketing itu kan memenangkan persaingan secara baik dan benar. Kalau kita menggunakan AI itu dan menyerahkan 100 persen kepada AI keputusannya, harus bagaimana nanti dia akan usulkan sesuatu yang tidak etis," katanya.
Hermawan menekankan bahwa AI tidak memiliki hati nurani atau etika, sehingga keputusan akhir harus tetap berada di tangan manusia. Dalam mengukur dampak positif penggunaan AI, Hermawan menyebutkan peningkatan penjualan dan efektivitas komunikasi sebagai indikator utama.
"Naiknya penjualan, kemudian efektifnya komunikasi itu biasanya bisa diukur," jelasnya.
Terkait regulasi, Hermawan menekankan perlunya regulasi yang tepat dari pemerintah, yang tidak menghalangi kreativitas tetapi juga tidak membiarkan penyalahgunaan data.
"Pemerintah itu harus punya regulasi yang tepat, jangan terlalu menghalangi tapi jangan terlalu membiarkan. Kalau menghalangi gini nggak boleh, gitu nggak boleh. Akhirnya kreativitas marketing menggunakan AI itu kan terbatas ya," harapnya.
Dengan demikian, AI menawarkan potensi besar dalam marketing, tetapi perlu diimbangi dengan etika, kreativitas manusia, dan regulasi yang tepat. (rmt)
Editor : Lambertus Hurek