RADAR SURABAYA - Indonesia Marketing Festival (IMF) 2025 digelar di Surabaya, Kamis (28/8), di Ballroom Sheraton Hotel dengan tema Sustainable Marketing in The AI Era. Event ini memberikan penganugerahan bagi industri marketing di Jawa Timur dan menjadi kota terakhir dari rangkaian acara yang telah digelar di lima kota lainnya di Indonesia.
Founder and Chairman MarkPlus Hermawan Kartajaya membahas kelemahan dan kelebihan pemasaran di era artificial intelligence (AI) di tengah tantangan geopolitik dalam bidang bisnis dan marketing. Hermawan menyoroti perang dagang antara Tiongkok dan Amerika Serikat sebagai salah satu tantangan global dalam dunia bisnis.
Ia juga memberikan materi tentang Teach War or Trade War: Memahami Tantangan Baru Pemasaran. Konsep Marketing 7.0 disebut sebagai Augmented Human, manusia diberdayakan oleh teknologi. AI sangat membantu dalam mengoptimalkan strategi pemasaran berkelanjutan.
"AI itu kan data. Data yang diolah. Sekarang customer itu kan ada data. Kalau pakai teknologi, pakai AI itu kan lebih cepat. Tetapi nanti akhirnya mau diapain data itu, itu kan tergantung manusia," jelasnya.
Meski demikian, Hermawan memperingatkan tentang tantangan dalam penggunaan AI untuk marketing. Salah satunya adalah potensi penyalahgunaan untuk tujuan tidak etis.
"Tantangannya kalau manusia itu sedang menggunakan AI itu untuk kejahatan, untuk digunakan marketing itu kan memenangkan persaingan secara baik dan benar. Kalau kita menggunakan AI itu dan menyerahkan 100 persen kepada AI keputusannya, dia (AI) akan usulkan sesuatu yang tidak etis," katanya.
Hermawan menekankan bahwa AI tidak memiliki hati nurani atau etika, sehingga keputusan akhir harus tetap berada di tangan manusia. Dalam mengukur dampak positif penggunaan AI, Hermawan menyebutkan peningkatan penjualan dan efektivitas komunikasi sebagai indikator utama.
"Naiknya penjualan, kemudian efektifnya komunikasi itu biasanya bisa diukur," jelasnya.
Terkait regulasi, Hermawan menekankan perlunya regulasi yang tepat dari pemerintah, yang tidak menghalangi kreativitas tetapi juga tidak membiarkan penyalahgunaan data.
Sementara itu, Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak menjelaskan, Jawa Timur menjadi penyumbang terbesar kedua dalam perekonomian Pulau Jawa dengan kontribusi mencapai 25,38 persen dan 14,44 persen secara nasional. Nilai Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Jawa Timur mencapai Rp 849,30 triliun.
“Angka-angka ini membuktikan bahwa Jatim tidak hanya tumbuh, tapi juga menjadi tulang punggung perekonomian nasional,” ujar Emil.
Emil juga menyoroti kinerja sektor pertanian Jawa Timur yang menunjukkan capaian sangat baik, memperkuat statusnya sebagai lumbung pangan nasional.
Pemerintah Provinsi Jawa Timur terus memberikan dukungan konkret melalui berbagai program kredit untuk UMKM serta penguatan sektor pertanian. "Kami akan terus memperkuat sektor-sektor produktif, terutama pertanian dan UMKM, untuk memastikan Jatim tetap menjadi lumbung pangan dan motor penggerak ekonomi Indonesia," pungkasnya. (rmt)
Editor : Lambertus Hurek