RADAR SURABAYA – Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga terjun langsung mendampingi pelaksanaan Outbreak Response Immunization (ORI) campak di Kabupaten Sumenep, Jawa Timur. Langkah ini dilakukan menyusul penetapan Kejadian Luar Biasa (KLB) campak yang telah merenggut belasan korban jiwa.
Wakil Dekan III FK Unair, Sulistiawati, menjelaskan bahwa kebutuhan tenaga dokter dalam ORI menjadi alasan utama keterlibatan Unair. “Tim vaksinator di lapangan sudah lengkap, namun tetap dibutuhkan dukungan dokter, terutama untuk advokasi dan pendampingan. Karena itu, FK Unair menerjunkan tim, khususnya dari departemen pediatri,” ujarnya, Kamis (28/8).
Tim FK Unair dibagi menjadi tiga gelombang. Gelombang pertama dipimpin Dwi Yanti Puspitasari, bersama Alpha Fardah Athiyyah dan dokter PPDS lainnya. Mereka langsung berkoordinasi dengan Kementerian Kesehatan dan Dinas Kesehatan setempat untuk memetakan wilayah dengan cakupan imunisasi terendah.
Alpha menambahkan, pendampingan difokuskan pada daerah-daerah dengan cakupan ORI masih di bawah 10 persen. Salah satunya di TK Qurrota Ayun, di mana sekitar 200 anak menjadi sasaran imunisasi.
“Selain vaksinasi, tim juga memberikan edukasi kepada orang tua dan tenaga kesehatan, serta mendampingi proses screening hingga pascavaksinasi,” jelasnya.
Selain itu, tim FK Unair juga memastikan kesiapan tenaga kesehatan dalam menghadapi kemungkinan Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI). Edukasi kepada masyarakat turut diberikan mengenai pentingnya vaksinasi campak dan penanganan medis yang tepat.
Dwi Yanti menegaskan campak merupakan penyakit sangat menular dan berisiko mematikan jika tidak dicegah dengan imunisasi. Vaksin, menurutnya, bukan hanya melindungi anak sendiri, tetapi juga orang-orang di sekitarnya.
Berdasarkan laporan awal, jumlah pasien campak di RSUD Sumenep mulai menurun, dari 22 menjadi 6 orang. Namun, angka kematian akibat komplikasi pneumonia masih menjadi perhatian serius. “Rata-rata pasien datang terlambat, dalam kondisi berat, sehingga sulit ditangani,” jelas Dwi Yanti.
Ia juga menekankan bahwa ORI diberikan kepada semua anak sesuai rentang usia, tanpa memandang status imunisasi sebelumnya. “Tujuan ORI adalah melindungi semua anak. Jadi tidak dilihat dari status imunisasinya, melainkan kondisinya saat akan divaksin. Kalau sedang sakit atau demam, tentu ditunda. Tetapi kalau sehat, tetap diberikan vaksin,” tuturnya.
Dengan pelaksanaan ORI secara serentak, cakupan imunisasi diharapkan meningkat dan penyebaran campak dapat ditekan. “Sinergi antara pemerintah pusat, daerah, dan perguruan tinggi seperti Unair diharapkan dapat terus mendukung kesehatan masyarakat serta menanggulangi KLB campak di Indonesia,” pungkasnya. (*)
Editor : Lambertus Hurek