Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Selebriti Sidoarjo Surabaya Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Kesulitan Ekonomi Bisa Pengaruhi Kesehatan Mental dan Emosi

Muhammad Firman Syah • Jumat, 22 Agustus 2025 | 16:25 WIB

Studi Journal of Affective Disorders ungkap tekanan ekonomi picu emosi negatif, kecemasan, hingga serangan panik.
Studi Journal of Affective Disorders ungkap tekanan ekonomi picu emosi negatif, kecemasan, hingga serangan panik.

Surabaya – Tekanan ekonomi bukan hanya soal dompet yang menipis. Kondisi finansial yang terpuruk dapat berdampak langsung pada kesehatan mental dan kestabilan emosi seseorang. Fenomena ini mencuat setelah sebuah unggahan di media sosial, yang mengutip penelitian internasional, viral dan memicu diskusi publik.

Penelitian dalam Journal of Affective Disorders menegaskan adanya keterkaitan erat antara masalah ekonomi dan kecenderungan munculnya emosi negatif. Studi berjudul Problematic Anger and Economic Difficulties Findings from the Millennium Cohort Study menunjukkan bahwa kehilangan pekerjaan, lilitan utang, hingga ancaman kehilangan rumah menjadi pemicu utama kemarahan, kecemasan, bahkan serangan panik.

"Kesulitan finansial seperti penghasilan yang hilang atau cicilan yang menumpuk membuat seseorang lebih rentan kehilangan kendali emosi. Kalau tidak diekspresikan dalam bentuk marah, biasanya muncul dalam wujud kecemasan atau rasa panik berlebihan," jelas seorang pakar finansial yang aktif memberikan edukasi lewat media sosial.

Dampak nyata tekanan ekonomi juga terlihat dalam kehidupan sehari-hari. Pertengkaran rumah tangga kerap dipicu uang belanja, sementara orang tua meluapkan emosi kepada anak karena tak mampu memenuhi kebutuhan sederhana. Tidak jarang, masalah ekonomi berujung pada konflik berkepanjangan yang menurunkan rasa percaya diri dan harga diri.

“Kondisi finansial yang tidak terkendali sering kali membuat seseorang merasa gagal, lalu melampiaskan emosinya ke orang terdekat,” tambah pakar tersebut. Ia menawarkan tiga langkah praktis yang disebut Solusi Finansial.

Pertama, menambah pendapatan dengan konsep triangle income, yakni memiliki lebih dari satu sumber penghasilan, seperti bekerja sambil berusaha atau berinvestasi.
Kedua, mempertebal harga diri lewat aktivitas sosial, misalnya menjadi relawan atau mengajar di pedalaman, yang diyakini dapat menumbuhkan rasa tujuan hidup.
Ketiga, mengendalikan keuangan secara disiplin, mulai dari menabung, berinvestasi rutin, hingga menyusun budget plan rumah tangga yang dijalankan ketat layaknya “aturan hukum”.

Menurut pakar tersebut, tujuan utama bukanlah menjadi kaya raya, melainkan hidup cukup, stabil, dan tenang. “Uang memang penting, tapi bukan segalanya. Yang jauh lebih mahal adalah ketenangan jiwa dan keharmonisan keluarga,” tegasnya.

Artikel ini menekankan bahwa kesehatan finansial dan mental berjalan beriringan. Mengelola uang dengan baik bukan semata mengejar kekayaan, melainkan membangun fondasi emosional yang kuat untuk menghadapi tekanan hidup. (dwi/gab/fir)

Editor : M Firman Syah
#finansial #ekonomi #psikologis #tekanan ekonomi #ketenangan jiwa #stress