Jakarta – Keamanan digital Indonesia berada dalam kondisi genting. Sepanjang 2024, Indonesia tercatat sebagai negara dengan jumlah serangan siber tertinggi di Asia Tenggara, dengan peningkatan signifikan pada kasus ransomware dan ancaman Advanced Persistent Threats (APT).
Direktur Tim Riset dan Analisis Global Kaspersky (GReAT), Igor Kuznetsov, mengungkapkan lebih dari 57 ribu serangan ransomware menargetkan sektor bisnis di Indonesia pada 2024. Angka tersebut menempatkan Indonesia sebagai target utama serangan di kawasan.
Ransomware, jenis malware yang berorientasi keuntungan finansial, biasanya masuk melalui email spam. Setelah berhasil menginfeksi sistem, malware ini mengenkripsi file penting seperti dokumen dan basis data, lalu menuntut tebusan agar akses dipulihkan atau data tidak dipublikasikan.
Salah satu kasus yang paling menyita perhatian publik adalah peretasan Pusat Data Nasional Sementara (PDNS) 2, yang berdampak pada terganggunya sejumlah layanan publik.
"Pertumbuhan ekonomi digital Indonesia sangat pesat, namun hal ini juga membuka celah bagi ancaman siber yang semakin kompleks," kata Igor dalam Media Meeting di Jakarta, Selasa (19/8).
Serangan Meluas ke Berbagai Sektor. Laporan Kaspersky mencatat sekitar 20 juta serangan siber menyasar pengguna di Indonesia sepanjang 2024. Dari jumlah itu, terdeteksi 3 juta serangan eksploitasi dan 3 juta serangan backdoor.
Ancaman terhadap sektor keuangan juga meningkat tajam. Lebih dari 649 ribu upaya malware perbankan teridentifikasi, selaras dengan data Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) yang menerima sekitar 800 ribu laporan penipuan perbankan.
Kerugian akibat kejahatan siber sepanjang tahun lalu diperkirakan mencapai Rp 476 miliar, mempertegas urgensi penguatan perlindungan data dan sistem digital.
APT Bidik Pemerintah dan Infrastruktur Strategis. Selain serangan umum, kelompok APT dengan kemampuan canggih juga aktif membidik Indonesia. Beberapa kelompok yang terdeteksi antara lain Mysterious Elephant, Spring Dragon, Ocean Lotus, Toddycat, Lazarus, Tetris Phantom dan SideWinder.
Di antara kelompok tersebut, SideWinder disebut paling agresif di Asia Pasifik, dengan fokus utama pada entitas strategis Indonesia, termasuk infrastruktur dan lembaga pemerintah. (man/gab/fir)
Editor : M Firman Syah