RADAR SURABAYA – Surabaya masih mengalami hujan lokal meski tengah berada di puncak musim kemarau. Seperti terjadi pada sore dan malam hari di beberapa wilayah Kota Surabaya.
Koordinator Prakirawan BMKG Maritim Tanjung Perak Surabaya, Ady Hermanto,
menjelaskan bahwa hujan masih berpotensi terjadi di beberapa wilayah Surabaya
dan Jawa Timur, meskipun sifatnya lokal dan tidak merata.
Baca Juga: Hidupkan Kembali Sejarah PPPK Petra yang Menghibur dan Menginspirasi
"Saat musim panas, hujan masih ada secara lokal di beberapa wilayah karena
pengaruh dari suhu muka laut. Hujan tidak merata," ujar Ady, Selasa (19/8).
Ady menambahkan, hujan biasanya terjadi pada siang dan sore menjelang malam. Kondisi ini dipengaruhi oleh awan cumulonimbus (CB) yang berpotensi
menghasilkan petir dan angin kencang. "Jadi, saat hujan di musim kemarau ini,
banyak potensi terbentuknya awan CB," jelasnya.
Lebih lanjut, Ady menjelaskan bahwa Surabaya saat ini memasuki puncak musim
kemarau yang diperkirakan berlangsung hingga Oktober. Suhu di Surabaya
berkisar antara 31-34 derajat Celcius. Namun, ia memastikan tidak ada kenaikan
suhu signifikan hingga mencapai 40 derajat Celcius.
Baca Juga: Tiga Penumpang Tewas Usai Wuling Tabrak Truk Muatan Tepung di Tol Jombang
"Untuk panas, hampir sama dengan tahun lalu, tidak ada yang mencapai 39.
Kondisinya hampir sama dengan tahun lalu. Kecuali tahun 2023, ketika El Nino,
suhu panas bisa mencapai 40 derajat Celcius," ungkapnya.
Ady juga menyoroti minimnya tutupan awan selama musim kemarau yang
menyebabkan sinar matahari langsung terpapar ke permukaan bumi.
"Saat musim kemarau, tutupan awan tidak ada sama sekali sehingga sinar
matahari tidak ada yang menghalangi dan langsung dirasakan. Jadi, tidak ada
tutupan awan yang signifikan di wilayah Jawa Timur," pungkasnya. (*)