Jakarta - Film animasi Merah Putih One For All yang dirilis menjelang perayaan Hari Kemerdekaan RI ke-80 menjadi sorotan publik. Selain kritik terhadap kualitas visual yang dianggap kurang maksimal dibandingkan anggaran, perhatian juga tertuju pada para penggarap film ini.
Film ini diproduksi oleh Perfiki Kreasindo dan disutradarai Endiarto serta Bintang Takari. Produsernya, Toto Soegriwo, bersama produser eksekutif Sonny Pudjisasono, merupakan sosok aktif di dunia perfilman dan organisasi budaya, meski tidak lepas dari kontroversi.
Dikabarkan, film ini menelan biaya produksi hingga Rp 6,7 miliar. Namun, Sonny Pudjisasono menilai anggaran tersebut masih tergolong kecil untuk film animasi berskala nasional.
"Film animasi sebetulnya lebih dari itu, Rp 6,7 miliar itu kecil. Kalau ditanggung bersama, terasa lebih ringan," ujarnya.
Sonny Pudjisasono dikenal sebagai pengusaha bioskop keliling sejak 1977, kini menjabat Direktur Utama Yayasan Pusat Perfilman H. Usmar Ismail dan Ketua Umum Perfiki Kreasindo. Selain itu, ia pernah terlibat di dunia politik sebagai kader Partai Buruh dan calon legislatif di DIY dan Papua Tengah.
Sementara itu, Toto Soegriwo adalah alumnus SMAN 1 Purwodadi, Purworejo, yang aktif di seni peran, PARFI, radio, dan majalah film. Ia kini menjabat Sekretaris Umum Gabungan Pengusaha Bioskop Seluruh Indonesia (GPBSI) dan kurator di platform lokalfilm.id.
Profil Perfiki Kreasindo sebagai rumah produksi masih minim informasi di publik. Meski demikian, keterkaitan film dengan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) sempat muncul karena kehadiran pejabat saat peluncuran. Namun, Wakil Menteri Ekraf, Irene Umar, menegaskan tidak ada dukungan dana maupun fasilitas dari pemerintah.
"Kami tidak memberikan bantuan finansial dan tidak memberikan fasilitas promosi," tegasnya.
Merah Putih One For All mengusung semangat nasionalisme dan pendidikan karakter. Kontroversi yang muncul menegaskan pentingnya transparansi dalam industri kreatif nasional. Sosok-sosok di balik layar menjadi pusat perhatian, tidak hanya terkait visi mereka, tetapi juga sejumlah pertanyaan publik yang belum terjawab. (wfq/ris/fir)
Editor : M Firman Syah