Tulungagung – Sepasang suami istri di Dusun Krajan, Desa Panggungkalak, Kecamatan Pucanglaban, Tulungagung, Jawa Timur, ditemukan meninggal dunia di rumah mereka pada Minggu (10/8). Dugaan sementara menyebut keduanya mengakhiri hidup akibat tekanan ekonomi yang berkepanjangan.
Korban berinisial SMR, 57, dan SGN, 50, pertama kali ditemukan oleh keponakan mereka. Keponakan korban mengaku curiga karena sejak pagi rumah dalam keadaan terkunci dan tidak ada aktivitas seperti biasanya.
"Saya curiga karena tidak ada suara apa-apa sejak pagi. Biasanya mereka sudah keluar rumah," ujar keponakan korban kepada petugas.
Saat memasuki rumah, ia mendapati kedua korban tergeletak. Petugas yang datang ke lokasi melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) dan pemeriksaan medis.
Polisi menemukan dua botol cairan racun tikus di dekat tubuh korban, satu di antaranya dalam keadaan kosong. Dari hasil pemeriksaan, tidak ditemukan tanda-tanda kekerasan.
"Kami tidak menemukan adanya tanda-tanda kekerasan. Dugaan sementara, keduanya meninggal akibat menenggak racun tikus," Jelas Kanit Reskrim Polsek Pucanglaban, Aiptu Bilal Ahmar.
Selain itu, petugas menemukan surat wasiat yang ditulis oleh korban, berisi pesan kepada keluarga agar tidak menggelar selamatan, menjaga ibu dan permintaan maaf, serta permintaan dimakamkan berdampingan.
"Keluargaku, aku meting aku mati ojo dislameti ritek, ra usah di Slameti. Welingku jaga mboke, Kakang jaluk sepuro nek keluarga kabeh. Aku karo Gini dadi siji lek makamne."
(Keluargaku, aku pesan aku mati jangan diselamati, tidak usah diselamati. Pesanku jaga ibu. Kakak minta maaf ke keluarga semua. Aku sama Gini jadikan satu makamnya).
Menurut penyelidikan sementara, pasangan ini telah lama mengalami kesulitan ekonomi.
"Keluarga ini memang sedang kesulitan ekonomi. Itu bisa jadi motifnya," tambah Aiptu Bilal.
Warga sekitar mengaku terkejut dengan peristiwa ini. Mereka menyebut pasangan tersebut dikenal baik, namun jarang bersosialisasi.
"Kami semua kaget. Mereka memang jarang bersosialisasi, tapi orangnya baik," kata salah satu tetangga. (wfq/gab/fir)
Editor : M Firman Syah