Jakarta — Masuknya truk impor asal China dengan harga lebih murah dan memanfaatkan celah regulasi dinilai mengancam keberlangsungan industri karoseri dalam negeri. Kondisi ini berpotensi memicu pemutusan hubungan kerja (PHK) massal di sektor padat karya tersebut.
Ketua Dewan Pengawas Asosiasi Karoseri Indonesia (Askarindo) Sommy Lumadjeng mengungkapkan pelaku karoseri lokal kesulitan bersaing secara harga dan regulasi.
"Ya, kami kalau diadu sama mereka ya mungkin kalah, karena kami sudah tahu sendiri kan, barang dari negara sana (China). Itu kan memang jauh lebih murah daripada kita. Nah, ini kan memang butuh pemerintah untuk andil dalam hal ini," ujarnya, Kamis (7/8).
Menurutnya, karoseri melibatkan banyak tenaga kerja dan sebagian besar berskala kecil hingga menengah.
"Karoseri ini kan padat karya, dan perusahaannya bukan yang masif semua. Tapi tahu-tahu terdampak saja, tidak bisa jualan, lama-lama mati. Satu karoseri kecil saja, kalau mati mungkin 50 orang sampai 100 orang bisa di-PHK," jelas Sommy.
Sommy menjelaskan truk impor asal China masuk melalui skema masterlist impor, yakni kategori barang modal, bahan baku, atau peralatan yang dapat diimpor tanpa dikenakan bea masuk dan/atau pajak tertentu sebagai fasilitas investasi di Indonesia.
Data menunjukkan impor truk utuh asal China tahun lalu mencapai nilai 647 juta US dolar. Fenomena ini terjadi di tengah penurunan tajam penjualan truk domestik yang tercatat Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), dari 77.581 unit pada 2023 menjadi 66.570 unit atau turun 14,1 persen pada 2024. Meski penjualan menurun, arus impor truk China justru meningkat signifikan dan tidak tercatat dalam laporan Gaikindo. (man/gab/fir)
Editor : M Firman Syah