RADAR SURABAYA – Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak membeberkan strategi dan tantangan pengelolaan sampah serta limbah bahan berbahaya dan beracun (B3) di wilayah Jatim. Hal itu disampaikan saat menjadi narasumber Pendampingan Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) di Hotel Vasa Surabaya, Kamis (7/8).
Dalam paparannya, Emil menyebut timbunan sampah di Jawa Timur mencapai 6,5 juta ton per tahun. Dari jumlah itu, baru 3,6 juta ton yang berhasil dikurangi dan ditangani. Sisanya, 2,9 juta ton per tahun belum tertangani secara optimal.
Ia menyoroti berbagai kendala yang dihadapi, mulai dari minimnya kesadaran masyarakat, keterbatasan infrastruktur, investasi yang belum optimal, hingga koordinasi antar lembaga yang belum berjalan efektif.
"Masalah sampah bukan hanya teknis. Ini menyangkut perilaku, kebijakan, dan kemitraan lintas sektor. Harus ada pendekatan yang terintegrasi dan berkelanjutan," ujarnya.
Emil menambahkan, Pemprov Jatim telah menjalin kerja sama pengelolaan sampah regional di kawasan Gerbangkertosusilo yang melibatkan sejumlah kabupaten/kota. Ia meminta para kepala daerah berkomitmen menangani persoalan sampah, mengingat Kementerian Lingkungan Hidup telah menjatuhkan sanksi administratif kepada banyak daerah yang tidak patuh.
"Sampah bisa berdampak hukum jika tidak ditangani dengan benar. Jangan sampai ini terjadi di Jatim," tegasnya.
Pemkab Gresik disebut akan menjadi proyek percontohan penanganan sampah B3 rumah tangga. Emil berharap masyarakat mulai sadar memilah sampah, khususnya yang mengandung bahan berbahaya seperti baterai dari raket nyamuk elektrik.
Deputi KLHK Ade Palguna menegaskan, pemerintah menargetkan 51 persen sampah terkelola pada 2025 dan 100 persen pada 2029 sesuai amanat RPJMN. Pengelolaan akan dilakukan melalui teknologi ramah lingkungan, mulai dari bank sampah, TPS3R, rumah kompos, hingga fasilitas waste to energy.
Sementara itu, Bupati Gresik Fandi Akhmad Yani mengatakan bahwa wilayah kepulauan seperti Bawean membutuhkan pendampingan serius dalam menangani limbah B3, terutama dari kawasan industri. Ia mengusulkan pembangunan incinerator agar sampah tidak dibuang ke laut.
"Kami siap didampingi, agar pengelolaan limbah industri dan rumah tangga di Gresik bisa lebih maksimal," tandasnya. (*)
Editor : Lambertus Hurek