RADAR SURABAYA - Di tengah upaya global untuk mengatasi krisis
polusi plastik melalui perjanjian global tentang Plastik di Jenewa, Swiss,
Indonesia justru kembali menjadi sasaran impor sampah plastik dari
Australia. Hal ini yang menjadi protes keras dari aktivis lingkungan
Ecoton yang menggelar aksi demonstrasi di depan Konsulat Jenderal
Australia di Surabaya, Rabu (6/8).
Mereka juga membawa replika boneka seorang perempuan dan juga
anak kecil dalam etalase yang dipenuhi dengan tumpukan plastik. Aksi
ini sebuah bentuk protes banyaknya sampah plastik yang berdampak
pada kesehatan ibu dan bayi.
Sementara itu Kepala Laboratorium Ecoton, Rafika Aprilianti,
menambahkan rahim tidak lagi menjadi ruang aman bagi janin, karena
mikroplastik telah ditemukan di plasenta. Khususnya pada bayi dan
anak-anak, berpotensi menyebabkan berbagai masalah kesehatan
serius.
"Kami menemukan bahwa cairan ketuban, darah tali pusat, dan darah
ibu. Hal ini dapat menyebabkan janin mengalami stres oksidatif,
gangguan hormonal, dan kerusakan DNA janin," terang Rafika.
Ecoton juga menyoroti minimnya respons Australia terhadap masalah
ini sejak 2024, Ecoton telah mendesak Australia untuk bertanggung
jawab, namun hingga kini belum ada tindakan nyata.
Koordinator Aksi Sampah Impor Ecoton Alaika Rahmatullah,
menegaskan bahwa Australia harus segera menghentikan ekspor
sampah plastik ke Indonesia dan mendukung perjanjian internasional
yang adil dalam Global Plastic Treaty.
"Melalui aksi ini, bertepatan dengan perundingan Global Plastic Treaty
sesi ke-5.2, Ecoton menyerukan penghentian ekspor sampah plastik
dari Australia ke Indonesia," tegas Alaika.
Ia mengatakan dukungan terhadap perjanjian global yang ambisius dan
berkeadilan, serta kolaborasi pemerintah Indonesia dan Australia
dalam melindungi kesehatan masyarakat dan lingkungan dari dampak
buruk polusi plastik.
"Aksi ini penting bagi dunia akan tanggung jawab bersama dalam
mengatasi krisis sampah plastik global dan mendesak tindakan nyata
dari negara-negara maju," pungkasnya. (*)