RADAR SURABAYA – Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak menegaskan bahwa Bandara Dhoho di Kediri memiliki potensi besar sebagai alternatif keberangkatan jamaah umrah dari Jawa Timur. Potensi ini menjadi bagian dari strategi desentralisasi layanan penerbangan internasional dari wilayah timur Jawa.
Hal itu disampaikan Emil usai melakukan audiensi dengan Direktur Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan RI, Lukman F Laisa, di kantor Kemenhub, Jakarta. Dalam pertemuan itu, Emil dan Dirjen Lukman membahas penguatan konektivitas udara di Jatim, khususnya optimalisasi Bandara Dhoho untuk mendukung layanan penerbangan umrah.
“Kami mendiskusikan langkah konkret untuk mengoptimalkan Bandara Dhoho, salah satunya untuk mendukung penerbangan umrah. Ibu Gubernur juga sudah menjalin komunikasi dengan sejumlah agen umrah besar yang kini mengoperasikan sekitar enam penerbangan umrah dari Jatim setiap minggu,” ujar Emil, Minggu (3/8).
Emil menambahkan, tahap awal pengembangan akan dimulai dengan uji coba penerbangan umrah sebanyak tiga hingga empat kali per bulan dari Bandara Dhoho. Pemerintah ingin memastikan kesiapan bandara, baik dari sisi infrastruktur, layanan, maupun rute penerbangan.
“Pak Dirjen ini punya pengalaman panjang di lapangan dalam menilai kapasitas bandara. Kita tahu, Juanda saat ini menghadapi sejumlah tantangan dan memerlukan perbaikan signifikan dalam waktu dekat,” kata Emil.
Menurut Emil, pengoptimalan Bandara Dhoho juga akan disinergikan dengan bandara lain di Jawa Timur, seperti Bandara Abdul Rachman Saleh di Malang, Bandara Blimbingsari di Banyuwangi, dan Bandara Trunojoyo di Sumenep. Upaya ini dilakukan untuk menopang pengalihan penerbangan selama proses perbaikan Bandara Juanda.
Sementara itu, Dirjen Perhubungan Udara Lukman F Laisa menegaskan bahwa pemerintah pusat mendukung penuh langkah Pemprov Jatim dalam memaksimalkan operasional Bandara Dhoho. Ia menyebut, bandara di Kediri tersebut merupakan salah satu proyek prioritas nasional yang menjadi perhatian Presiden RI Prabowo Subianto.
“Bandara Dhoho ini memang dirancang untuk menampung pesawat-pesawat besar seperti Boeing 777-300ER dan Airbus A380. Di antara bandara baru seperti Kulonprogo dan Kertajati, Dhoho ini yang paling indah dan memiliki spesifikasi kelas atas,” tutur Lukman.
Ia berharap, dengan adanya pertemuan ini, proses pengoperasian Bandara Dhoho sebagai bandara internasional bisa dipercepat.
Lukman menambahkan, Bandara Juanda saat ini memiliki kapasitas 21 juta penumpang per tahun, dengan realisasi sekitar 14 juta. Target semula adalah meningkatkan kapasitas hingga 50 juta penumpang. Namun, setelah evaluasi, pengembangan maksimal hanya bisa mencapai 27 juta penumpang.
“Karena itu, kita butuh bandara baru selain Juanda dan Dhoho. Secara otomatis, entah kapan, kita harus mulai menyiapkan bandara tambahan untuk mengantisipasi lonjakan kebutuhan di masa mendatang,” pungkasnya. (*)
Editor : Lambertus Hurek