Jakarta - Menjelang peringatan Hari Ulang Tahun ke-80 Republik Indonesia, para pedagang musiman bendera biasanya menikmati lonjakan permintaan. Namun, tahun ini, Syauqi, 43, penjual bendera di kawasan Matraman, Jakarta Timur, justru dibuat bingung oleh tren baru di kalangan anak muda.
Ia mengaku terkejut saat sejumlah pemuda datang menanyakan bendera bergambar tengkorak memakai topi yang kemudian diketahui sebagai bendera dari serial anime One Piece, simbol kelompok bajak laut Topi Jerami.
"Kemarin ada itu anak-anak muda pada ke sini, nyari bendera tengkorak pakai topi. Saya kaget, lah kok tengkorak pakai topi," ujar Syauqi, Sabtu (2/8).
Setelah mengetahui bendera tersebut merupakan bagian dari budaya pop, Syauqi tetap merasa ragu untuk menjualnya, apalagi di momen nasional yang identik dengan simbol-simbol kenegaraan.
"Iya, itu One Piece. Kata saya, bendera apa itu, saya bingung kan. Iya, malah takut saya entar, ha-ha-ha," tuturnya.
Bendera One Piece atau Jolly Roger milik kru bajak laut Topi Jerami memang tengah viral di media sosial. Banyak anak muda diketahui mengibarkannya menjelang perayaan kemerdekaan, meski tak sedikit pula yang mengkritik karena dinilai tidak pantas menggantikan Bendera Merah Putih.
Hal serupa juga dialami Ridwan, 30, pedagang lainnya. Ia menyebut banyak pembeli muda menanyakan bendera tersebut, meski dirinya tidak menjualnya.
"(Bendera) One Piece? Banyak itu kemarin yang nyari. Iya katanya lagi viral. Yang nyari kebanyakan pemuda-pemuda gitu. Katanya mau dipasang di rumah. Ya gimana, kita nggak nyediain. Di bos juga nggak ada," ucapnya.
Syauqi mulai membuka lapak sejak 25 Juli lalu. Sebelumnya ia sempat berjualan di kawasan Kali Sentiong namun dipindahkan karena tak mendapatkan izin dari Satpol PP. Sayangnya, penjualan tahun ini mengalami penurunan signifikan.
"Dari kemarin sebetulnya ada aja yang datang, tapi cuma nanya, nawar, tapi nawarnya itu di bawah modal. Ya repot kita. Ini ada yang saya jual Rp 35 ribu, tadi baru saja ada yang nawar Rp 10 ribu. Ngelus dada kadang kalau kayak gitu," ungkapnya.
Ia juga menyebut beberapa pembeli hanya membeli bambu untuk tiang bendera, karena benderanya sudah dibeli secara daring.
"Kemarin sehari cuma laku empat biji saja yang bendera biasa. Beda sama tahun-tahun sebelumnya," ucapnya.
Sebelum berdagang di Matraman, Syauqi sempat berjualan di Pamulang. Namun, ia memilih pindah karena merasa terganggu oleh aksi premanisme di lokasi tersebut.
"Kalau dulu saya jualannya di Pamulang. Itu premannya rese-rese, minta jatah mulu. Padahal kita itu jualan nggak seberapa," katanya. (man/ris/fir)
Editor : M Firman Syah