RADAR SURABAYA - Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya melalui Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) terus mengembangkan inovasi untuk menjaga ketahanan pangan di tengah keterbatasan lahan pertanian di wilayah perkotaan.
Salah satu langkah terbaru adalah uji coba penanaman padi Agritan Biosalin 2 di kawasan Kebun Raya Mangrove Surabaya. Padi Agritan Biosalin 2 merupakan varietas unggul yang dirancang untuk mampu tumbuh di lahan dengan kadar garam tinggi.
Baca Juga: BMKG Imbau Warga Jauhi Pantai Jelang Tsunami Imbas Gempa di Rusia
Artinya, padi ini bisa ditanam di kawasan pesisir atau sekitar mangrove, yang umumnya dianggap tidak ideal untuk pertanian. Sebab, kadar garam di kawasan hutan bakau tergolong tinggi.
“Uji coba ini bagian dari inovasi pertanian adaptif. Kami ingin membuktikan bahwa lahan-lahan yang selama ini dianggap tidak subur bisa dimanfaatkan untuk budidaya pangan,” ujar Kepala DKPP Kota Surabaya Antiek Sugiharti.
Antiek menjelaskan, salah satu keunggulan Agritan Biosalin 2 adalah usia panennya yang relatif cepat, yaitu hanya 107 hari. Padi biasa lazimnya dipanen hingga 130 hari.
Baca Juga: Sejarah dan Asal Usul Nasi Kuning: Hidangan Sakral dalam Budaya Nusantara
Selain itu, varietas ini dikembangkan untuk dapat bersanding dengan tanaman mangrove, sehingga tetap menjaga ekosistem sekitar.
Menurut Antiek, keberhasilan uji coba ini akan membuka peluang besar bagi pengembangan pertanian di wilayah pesisir lainnya di Kota Surabaya. “Jika hasilnya sesuai harapan, tentu ini bisa menjadi solusi jangka panjang untuk ketahanan pangan kota,” tambahnya.
Program ini juga menjadi contoh pemanfaatan ruang terbuka hijau untuk produksi pangan lokal. Selain mendukung ketahanan pangan, langkah ini juga turut menjaga keberlanjutan lingkungan di wilayah pesisir. (*)
Editor : Lambertus Hurek