Sumenep, Madura - Ketua Koperasi Merah Putih Kabupaten Sumenep, H. Syahrul Masyhudi, dibuat terkejut oleh lonjakan permintaan pinjaman dari warga yang tak biasa. Dalam beberapa hari terakhir, koperasi yang dipimpinnya dibanjiri permohonan pinjaman hingga Rp 100 juta per orang.
Lonjakan permohonan tersebut menimbulkan kekhawatiran terhadap stabilitas keuangan koperasi serta kemampuan bayar dari para peminjam. Syahrul mengungkapkan, biasanya jumlah pinjaman yang diajukan berkisar antara Rp 5 juta hingga Rp 25 juta. Namun, kini banyak warga langsung mengajukan plafon maksimal.
"Kami sampai syok. Ini di luar kebiasaan. Banyak yang datang minta Rp 100 juta tanpa perencanaan yang jelas," ujar Syahrul saat ditemui di kantor koperasi, Minggu (27/7).
Sebagian besar pemohon mengaku memerlukan dana untuk modal usaha, biaya pendidikan, hingga menutup utang di tempat lain. Namun pihak koperasi menilai, banyak dari mereka belum siap secara manajerial dan finansial untuk mengelola pinjaman sebesar itu.
Syahrul menegaskan bahwa koperasi memiliki tanggung jawab untuk menjaga keberlanjutan keuangan dan kesejahteraan seluruh anggota. Ia mengingatkan bahwa koperasi bukanlah lembaga keuangan besar yang bisa memberikan pinjaman tanpa pertimbangan.
"Kami harus menjaga keberlanjutan koperasi. Kalau semua disetujui tanpa pertimbangan, dan terjadi gagal bayar, maka yang rugi bukan hanya koperasi, tapi juga semua anggotanya," lanjutnya.
Situasi ini turut menjadi perhatian Dinas Koperasi dan UMKM Kabupaten Sumenep. Kepala Dinas, Rina Mahfud, mengimbau agar koperasi tetap selektif dalam memberikan pinjaman, dan tidak terjebak oleh nominal besar tanpa jaminan dan perencanaan yang matang.
"Kami akan lakukan monitoring agar koperasi tetap sehat dan tidak menjadi korban kredit macet," ujar Rina.
Sementara itu, sejumlah warga berharap koperasi tetap membuka akses pinjaman, namun disertai pendampingan agar dana dapat dimanfaatkan secara tepat dan dikembalikan sesuai kesepakatan. (wfq/ris/fir)
Editor : M Firman Syah