RADAR SURABAYA – Ketua Umum PSSI Erick Thohir memastikan bahwa proses naturalisasi dua calon pemain timnas Indonesia masih menunggu kelengkapan dokumen resmi sebelum bisa diumumkan ke publik.
“Kami sedang menunggu surat-surat dari dua pemain ini. Naturalisasi harus dilakukan dengan hati-hati.
Kami tidak ingin sembarangan karena pemain-pemain sebelumnya bergabung karena cinta pada timnas Indonesia, bukan karena alasan komersial,” ujar Erick dalam jumpa pers di Jakarta, Kamis (24/7).
Erick sebelumnya mengonfirmasi bahwa PSSI tengah berupaya mendatangkan dua pemain naturalisasi baru. Namun, hingga kini ia belum membocorkan identitas kedua pemain tersebut.
“Saya belum bisa spill karena suratnya belum masuk. Saya tidak bisa mengomentari semua rumor. Kami di PSSI hanya menjaga saja,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa respons dari kedua pemain dan orang tua mereka sejauh ini sangat positif. Namun, secara administratif masih ada yang harus dilengkapi.
“Respons dari kedua pemain dan orang tuanya positif, tetapi dokumennya belum masuk. Jadi, kami harapkan proses ini bisa berjalan bersama Mauro (Zijlstra).
Kami akan melakukan pendaftaran pada Agustus. Mudah-mudahan mendapat kemudahan, dan kami akan menghadap Presiden minggu depan terkait hal ini,” jelas Erick.
Tanggapan Soal Grade Pemain Naturalisasi: Indonesia Harus Sadar Diri
Menanggapi anggapan bahwa pemain-pemain naturalisasi yang direkrut bukan dari kategori grade A, Erick menilai hal itu berkaitan dengan kondisi peringkat Indonesia di FIFA saat ini.
“Kenapa kita merekrut Simon Tahamata? Itu untuk melihat talent pool di U-17, U-20, U-23, dan senior. Ini harus kita jaga dan perhatikan.
Soal grade A atau B, itu tergantung pada talent pool-nya. Pemain dan pelatih harus sadar diri. Seorang pemain memilih negara karena peringkat dan kesempatan bermain,” katanya.
“Kebetulan, kita masih di peringkat 118. Jadi, tim kepelatihan dan para pemain yang memilih kita patut kita syukuri.
Kalau ingin mendapatkan pemain yang lebih berkualitas, ya peringkat kita harus masuk 50 besar. Sekarang kita masih di 118,” tutupnya.
Editor : Rahmat Adhy Kurniawan