Jakarta – Di tengah dinamika pasar modal yang fluktuatif, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI terus menunjukkan ketangguhannya sebagai pilar utama perbankan mikro di Indonesia. Perdagangan saham BBRI pada Selasa (22/7) menandai titik balik positif, dengan kenaikan tipis 0,26% ke level Rp 3.840 per lembar, mengindikasikan kepercayaan pasar yang mulai kembali pulih.
Sepanjang hari, saham bank milik negara ini bergerak stabil di kisaran Rp 3.830 hingga Rp 3.880. Aktivitas transaksi pun cukup menggairahkan, dengan 84,9 juta lembar saham berpindah tangan dalam 17.010 transaksi dan nilai perdagangan mencapai Rp 326,61 miliar.
Yang tak kalah menarik, investor asing mulai kembali mengoleksi saham BBRI, mencatatkan net buy senilai Rp 101 miliar, menjadikan BBRI sebagai saham dengan pembelian asing tertinggi kedua hari itu. CLSA Sekuritas dan CGS International menjadi dua broker asing yang paling aktif menyerap saham BRI.
Meski sempat terkoreksi dalam beberapa hari sebelumnya, sentimen positif kembali menguat seiring diluncurkannya Program Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) oleh pemerintah pada 19 Juli lalu. Program ini dinilai menjadi katalis penting bagi ekspansi bisnis mikro BRI, yang selama ini menjadi kekuatan utama bank tersebut dalam menjangkau lapisan terbawah masyarakat.
Analis dari Indo Premier Sekuritas menyebut, program KDMP berpotensi mendorong permintaan pembiayaan ke 80.000 koperasi desa, dengan estimasi kebutuhan pendanaan sekitar Rp 3 miliar per koperasi. Skema pembiayaan berbasis Kredit Usaha Rakyat (KUR) yang digunakan dalam KDMP dianggap sangat relevan dengan model bisnis BRI, yang telah terbukti sukses membina sektor mikro nasional.
“Skema pembiayaan KDMP sangat cocok dengan kekuatan BRI yang sudah terbentuk kuat di lapangan,” tulis Indo Premier dalam riset terbarunya (11/7), seraya tetap memberi rekomendasi “Buy” untuk saham BBRI dengan target harga mencapai Rp 4.700.
Baca Juga: Sehari Usai Diresmikan, Koperasi Merah Putih Pucungan di Tuban Ditutup
Tak hanya dari sisi kredit, program KDMP membuka peluang strategis untuk pengembangan ekosistem layanan keuangan terintegrasi milik BRI. Dari tabungan, virtual account, hingga layanan digital banking di seluruh potensi ini akan memperkuat posisi BRI sebagai mitra keuangan utama masyarakat desa.
Dari sisi valuasi, saham BBRI masih tergolong menarik. Dengan price-to-book value (P/BV) sebesar 1,8x untuk 2025, saham ini masih berada di bawah rata-rata historis 10 tahunnya yang mencapai 2,4x. Secara fundamental, BRI tetap menunjukkan kinerja keuangan yang kokoh, dengan proyeksi laba bersih 2024 mencapai Rp 56,8 triliun serta dividend yield sebesar 8,7% dan menjadikannya pilihan menarik bagi investor yang mencari kombinasi pertumbuhan dan imbal hasil.
Dengan ekspansi kredit yang stabil, manajemen risiko yang terjaga, serta dukungan program pemerintah seperti KDMP, BRI terus memantapkan diri sebagai tulang punggung inklusi keuangan nasional. Di saat banyak lembaga keuangan fokus pada kota besar, BRI hadir sampai ke pelosok desa dan menggerakkan ekonomi dari bawah, membangun Indonesia dari pinggiran. (ali/gab/fir)
Editor : M Firman Syah