RADAR SURABAYA – Perang Diponegoro, atau dikenal juga sebagai Perang Jawa, merupakan salah satu episode paling menentukan dalam sejarah perjuangan bangsa Indonesia melawan penjajahan Belanda.
Perang ini berlangsung selama lima tahun, dari 20 Juli 1825 hingga 28 Maret 1830, dipimpin langsung oleh Pangeran Diponegoro, seorang bangsawan Keraton Yogyakarta yang memilih jalan perlawanan demi martabat rakyat.
Perang ini bukan sekadar konflik bersenjata, tetapi mencerminkan krisis identitas, ketidakadilan struktural, dan keteguhan mempertahankan harga diri sebagai bangsa yang berdaulat.
Dengan taktik gerilya yang cerdas dan semangat rakyat yang menyala-nyala, Diponegoro mengobarkan perang terhadap kekuasaan kolonial yang dianggap merusak tatanan sosial dan nilai-nilai keagamaan masyarakat Jawa.
Siapakah Pangeran Diponegoro?
Pangeran Diponegoro dilahirkan pada 11 November 1785 di Yogyakarta dengan nama kecil Bendara Raden Mas Mustahar.
Ia adalah putra dari Sri Sultan Hamengkubuwono III dan selirnya yang bernama Mangkarawati, berasal dari Pacitan.
Sejak muda, Diponegoro dikenal religius dan menjauh dari kehidupan keraton yang penuh intrik.
Ia lebih memilih hidup sederhana dan mendekat pada kehidupan rakyat serta nilai-nilai keislaman.
Ketika Belanda mulai ikut campur dalam suksesi Keraton dan memperluas pajak serta kekuasaan mereka, Diponegoro merasa bahwa kehormatan dan martabat bangsa telah diinjak-injak.
Penempatan patok jalan yang melintasi makam leluhurnya menjadi simbol puncak penghinaan—dan dari sanalah api Perang Jawa menyala.
Strategi Gerilya dan Tokoh Pendukung
Didukung tokoh-tokoh besar seperti Kyai Mojo, Sentot Prawirodirdjo, dan Kerto Pengalasan, Pangeran Diponegoro menggunakan medan perbukitan dan hutan sebagai taktik pertahanan
yang membuat Belanda kewalahan.
Perang ini menyebar luas dari Tegalrejo ke hampir seluruh Jawa Tengah dan sebagian Jawa Timur.
Belanda kehilangan lebih dari 15.000 pasukan, dan biaya perang mencapai 20 juta Gulden, membuat kas pemerintahan kolonial ambruk.
Situasi ini memaksa mereka menerapkan sistem tanam paksa (cultuurstelsel) pada tahun-tahun setelahnya demi memulihkan ekonomi, namun justru menyengsarakan rakyat Indonesia.
Untuk menghadapi Diponegoro, Belanda menerapkan taktik Benteng Stelsel mulai 1827, membangun ratusan benteng untuk mempersempit ruang gerak pasukan pribumi.
Setelah kekuatan melemah, Belanda mengundang Diponegoro ke perundingan yang berujung pada penangkapan secara licik di Magelang pada 28 Maret 1830. Ia kemudian diasingkan ke Manado, lalu ke Makassar, hingga wafat pada 1855.
Pengakuan Dunia: Babad Diponegoro sebagai Memory of the World
Salah satu peninggalan paling penting dari perjuangan Pangeran Diponegoro adalah naskah autobiografi yang ia tulis sendiri selama pengasingannya, yakni Babad Diponegoro.
Naskah ini tidak hanya mencatat kisah hidup dan pertempuran, tetapi juga menggambarkan pemikiran, prinsip, dan spiritualitas seorang pemimpin sejati.
Pada 2013, UNESCO secara resmi mengakui Babad Diponegoro sebagai bagian dari program Memory of the World (Ingatan Kolektif Dunia).
Pengakuan ini menempatkan perjuangan Diponegoro setara dengan dokumen-dokumen besar dunia, seperti Magna Carta atau Naskah Laut Mati.
Pengakuan ini menjadi bukti bahwa kisah Perang Jawa bukan hanya milik bangsa Indonesia, tetapi bagian dari narasi universal tentang keadilan, kemerdekaan, dan perlawanan terhadap penindasan.
Peringatan 200 Tahun Perang Jawa: Menghidupkan Kembali Semangat Bangsa
Dalam rangka memperingati dua abad Perang Jawa, Perpustakaan Nasional (Perpusnas) menggelar pameran bertajuk “Lentera Bangsa” yang berlangsung dari 20 Juli hingga 20 Agustus 2025.
Pameran ini menampilkan artefak bersejarah seperti replika keris dan pelana kuda Diponegoro, serta dokumentasi perjuangan mulai dari masa kecilnya sebagai Mustahar, masa perang sabil, hingga babak pengasingan.
Menurut Sekretaris Utama Perpusnas, Joko Santoso, pameran ini juga tersedia secara digital melalui Google Arts & Culture, sehingga masyarakat dapat mengakses warisan sejarah ini secara luas.
Tak hanya itu, buku Babad Diponegoro dan Sketsa Perang Jawa juga diluncurkan, serta 25 judul komik anak yang mengangkat kisah dan nilai-nilai perjuangan Diponegoro.
Kepala Perpusnas, Prof. E. Aminudin Azis, menyatakan bahwa Perang Jawa adalah refleksi dari upaya rakyat mempertahankan harga diri di tengah tekanan kolonial.
“Dari perspektif Pangeran Diponegoro, esensi Perang Jawa adalah ‘I want respect!’ Ini adalah perang untuk kehormatan, bukan sekadar kekuasaan,” ujarnya.
Nilai-Nilai Perjuangan untuk Generasi Muda
Menteri Kebudayaan, Fadli Zon, mengajak generasi muda untuk menjadikan Pangeran Diponegoro sebagai teladan nilai: jujur, tangguh, cinta Tanah Air, dan berprinsip kuat.
“Kemerdekaan bangsa tidak dibangun dari kenyamanan, tetapi dari perlawanan terhadap ketidakadilan,” tegasnya.
Perang Diponegoro mengajarkan bahwa perjuangan kemerdekaan Indonesia berakar pada semangat kerelawanan, pengorbanan, dan keberanian moral—nilai-nilai yang tetap relevan dalam membangun masa depan bangsa yang berdaulat dan berkarakter.
Editor : Rahmat Adhy Kurniawan