RADAR SURABAYA - PSSI bersama Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) mendorong percepatan pertumbuhan jumlah pelatih sepak bola nasional melalui gelaran National Coaching Conference 2025 yang dimulai Jumat (19/7) di Jakarta International Stadium (JIS).
Ketua Umum PSSI, Erick Thohir, menegaskan bahwa percepatan ini merupakan langkah strategis untuk memperkuat sistem pembinaan sepak bola dari akar rumput. Meski jumlah pelatih meningkat 49 persen dari 10.000 menjadi 15.000 sejak 2023, angka tersebut dinilai belum mencukupi.
“Bagus, tapi kurang. Sepak bola bukan milik satu-dua klub. Pemain tumbuh dari bawah,” ujar Erick dalam konferensi pers, Kamis (18/7).
Target 36 Ribu Pelatih untuk 12 Ribu Klub
Erick menyebut, jika dari 514 kabupaten/kota terdapat minimal 25 klub sepak bola, maka akan terbentuk sekitar 12 ribu klub. Dengan asumsi tiga pelatih per klub, dibutuhkan sedikitnya 36 ribu pelatih berkualitas di seluruh Indonesia.
PSSI akan menghidupkan kembali Liga 4 sebagai kompetisi berjenjang dari tingkat kota/kabupaten, provinsi, hingga nasional, seperti era perserikatan.
Digitalisasi Lisensi dan Transfer Ilmu dari Pelatih Senior
Untuk mempercepat peningkatan jumlah pelatih, PSSI telah: Menurunkan biaya lisensi pelatih di tingkat Asprov, menggunakan sistem digitalisasi pelatihan, merekrut 200 pelatih berlisensi tinggi untuk menjadi mentor pelatih lokal. “Mereka wajib transfer knowledge. Tidak hanya pelatih asing, pelatih lokal juga harus tumbuh,” tegas Erick.
Erick mencontohkan keberhasilan pelatih lokal Nova Arianto yang membawa Indonesia lolos ke Piala Dunia U-17 2025 sebagai bukti bahwa kualitas pelatih dalam negeri tak kalah bersaing.
PSSI Larang Pelatih dan Pemain Titipan
Erick Thohir menegaskan kepada seluruh Asosiasi Provinsi (Asprov) agar menghindari praktik "titipan pelatih" maupun "titipan pemain". Semua proses pembinaan harus dilakukan secara objektif dan adil.
“Saya minta Asprov tidak ada pelatih titipan. Tapi saya juga bilang ke pelatih: jangan ada pemain titipan. Semua harus diberi kesempatan yang sama,” tuturnya.(sam)
Editor : Rahmat Adhy Kurniawan