RADAR SURABAYA — Keterbatasan fisik tak menjadi penghalang bagi Muayatur, seorang perempuan tangguh berusia 70 tahun asal Kecamatan Mumbulsari, Kabupaten Jember, untuk mewujudkan impiannya menunaikan ibadah haji.
Meski telah kehilangan kedua kakinya, semangat dan tekad kuatnya membuktikan bahwa tidak ada rintangan yang mustahil jika diniatkan karena Allah.
Muayatur bukan hanya jemaah haji biasa. Ia adalah simbol perjuangan dan ketulusan dalam beribadah.
Selama bertahun-tahun, ia bekerja keras sebagai penjahit demi mengumpulkan biaya keberangkatan ke Tanah Suci.
Dengan penghasilan yang hanya Rp50 ribu hingga Rp100 ribu per hari, ia menabung sedikit demi sedikit hingga akhirnya terkumpul Rp 25 juta dan bisa mendaftar haji pada tahun 2012.
“Ya, senang bisa berangkat haji. Doa saya selama ini alhamdulillah terkabul. Karena sudah lama saya ingin ke Tanah Suci,” ucap Muayatur penuh haru saat ditemui di Asrama Haji Embarkasi Surabaya, Minggu (11/5).
Meski menggunakan kursi roda, Muayatur menunjukkan kemandirian luar biasa. Dengan kedua lutut sebagai tumpuan, ia berhasil naik ke dalam bus menuju Bandara Internasional Juanda.
Aksi itu membuat banyak mata berkaca-kaca, menyaksikan keteguhan seorang perempuan tua yang tak menyerah pada kondisi fisik.
“Saya masih punya semangat walaupun kondisi saya seperti ini. Semua saya niatkan untuk ibadah kepada Allah,” ujarnya tegas.
Muayatur tak sendiri. Ia ditemani sepupunya dalam perjalanan suci ini, mengingat suaminya telah lama meninggal dunia.
Dalam balutan doa dan harapan, ia menjadi teladan nyata bagi banyak orang tentang makna kesungguhan dan keikhlasan dalam beribadah.
Plh. Sekretaris PPIH Embarkasi Surabaya, Sugiyo, menegaskan bahwa keterbatasan fisik bukan penghalang dalam menunaikan haji.
Selama kondisi kesehatan fisik dan psikologis jemaah memadai, serta ada pendampingan, ibadah haji tetap bisa dilaksanakan dengan baik.
“Tuna daksa tidak menghambat untuk berangkat haji karena ada pendampingan, petugas tetap membantu. Syarat utamanya adalah sehat secara fisik dan psikologis,” jelas Sugiyo.
Ia pun memberikan apresiasi tinggi atas semangat Muayatur. Menurutnya, kisah ini layak menjadi motivasi, terutama bagi masyarakat Jember, di mana ibadah haji dianggap sebagai pencapaian spiritual tertinggi.
“Saya pikir ini motivasi yang luar biasa, apalagi di masyarakat Jember, ibadah haji merupakan hal yang sakral,” tambahnya.
Kini, Muayatur telah berangkat ke Madinah bersama Kloter 32 Gelombang Pertama dari Embarkasi Surabaya.
Kisah hidupnya menjadi pengingat bagi kita semua: bahwa kekuatan doa, usaha, dan tekad tak akan pernah sia-sia, bahkan dalam keterbatasan sekalipun.(rmt)
Editor : Rahmat Adhy Kurniawan