RADAR SURABAYA - Holifatul Jannah berdiri anggun di atas panggung Auditorium Universitas Jember. Di tangan kirinya, ijazah sarjana Ilmu Keperawatan. Di tangan kanannya, sejuta kenangan tentang hidup yang tak pernah mudah.
Dia bukan siapa-siapa. Anak petani dari pelosok Situbondo. Lahir dari keluarga sederhana yang lebih akrab dengan tanah sawah daripada lantai kampus. Tapi hari itu, Sabtu 19 April 2025, dia jadi segalanya: bukti bahwa mimpi tidak pernah menanyakan isi dompet.
Holifa tak punya banyak pilihan saat lulus SMA. Dunia seolah membentangkan dua jalan: menyerah pada nasib atau melawan. Ia pilih yang kedua. Berbekal KIP Kuliah dan semangat yang kadang melebihi tenaganya sendiri, ia menembus batas-batas yang tak terlihat.
Di pagi hari ia kuliah, siangnya berdagang es dan jajanan ringan, malamnya belajar. Bukan gaya hidup kekinian, tapi gaya hidup bertahan. Katanya, bukan karena paksaan. Ia memang suka berdagang. Hobinya. Tapi juga satu-satunya cara untuk tetap hidup di tanah orang.
“Bukan soal lulus cepat atau IPK tinggi,” katanya dengan senyum tipis, “tapi tentang bisa bertahan di antara semua tekanan.”
IPK-nya 3,65. Bukan main-main. Bahkan saat ikut UKM Pencak Silat, dia sempat juara. Ada trofi, ada medali. Tapi yang paling berharga, katanya, adalah pelajaran tentang jatuh dan bangkit – baik di arena tanding maupun di jalan hidup.
Holifa tidak menulis teori di status media sosialnya. Tapi dia menghidupi kalimat ini: kuliah bukan hanya tentang nilai, tapi tentang tumbuh. Tentang bagaimana tetap waras ketika semua terlihat tak pasti. Tentang sabar, tentang syukur, dan tentang tidak menyerah. (*)
Editor : Lambertus Hurek