RADAR SURABAYA - Tak semua yang dimulai dengan penolakan berakhir buruk. Lihat saja Waduk Nipah di Sampang, Madura.
Waktu pembangunannya dimulai tahun 1973, banyak yang tidak setuju. Warga gusar. Takut sawah tergenang. Bahkan sempat ribut. Tapi pemerintah jalan terus. Sempat terhenti. Lalu hidup lagi. Sampai akhirnya diresmikan Presiden Jokowi pada 19 Maret 2016.
Kini, setelah hampir satu dekade beroperasi, waduk yang dulu sempat dicurigai itu malah jadi harapan. Khususnya bagi petani. Khususnya bagi Prabowo. Waduk ini jadi andalan untuk mendukung program pangan presiden baru itu.
Sampang pun tak mau ketinggalan. Kepala Dinas Pertanian Suyono sudah keliling desa-desa. Membujuk para petani. Supaya jangan ada lahan yang dibiarkan tidur. “Tanam padi, tanam jagung,” katanya. “Airnya sudah ada. Waduk sudah mengalir.”
Air dari Waduk Nipah bisa menghidupi 1.150 hektare sawah. Dulu sebagian besar sawah tadah hujan. Sekarang, sudah naik pangkat: jadi sawah teknis. Bisa panen tiga kali setahun.
Khusus Desa Montor, tempat waduk ini berada, lahan sawahnya 225 hektare. Produksinya bisa sampai 7 ton per hektare. Angka yang bikin iri daerah lain di Madura.
Airnya tidak cuma dari satu sumber. Ada Bendungan Montor, ada Bendungan Tebanah. Semua mengalir lewat jaringan irigasi. Ada saluran primer. Ada saluran sekunder. Bahkan petak tersier.
Yang kanan, yang kiri, semua dapat. Tebanah, Montor, Batioh, Masaran, Glagah, Nepah, sampai Banyusokah di Ketapang ikut menikmati. Total delapan desa. Tujuh di Banyuates, satu di Ketapang.
Dan waduk ini, ternyata, bukan cuma soal air. Ia juga jadi tempat wisata. Juga konservasi air. Bahkan tempat tebar ikan. (*)
Editor : Lambertus Hurek