Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Piala Dunia 2026 Selebriti Sidoarjo Surabaya Surabayapedia Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Viral Tantangan Carok Masyarakat Madura di Yogyakarta kepada Etnis Papua Picu Kontroversi, ini Tanggapan Dosen UTM

Magang • Rabu, 12 Februari 2025 | 02:16 WIB
ebuah surat terbuka dari komunitas Madura di Yogyakarta kepada etnis Papua viral di media sosial. (IST)
ebuah surat terbuka dari komunitas Madura di Yogyakarta kepada etnis Papua viral di media sosial. (IST)

RADAR SURABAYA – Sebuah surat terbuka dari komunitas Madura di Yogyakarta kepada etnis Papua viral di media sosial, memicu perdebatan dan kekhawatiran luas. Surat tersebut berisi keluhan atas dugaan aksi pemalakan dan penganiayaan yang dilakukan oleh sekelompok orang dari etnis Papua terhadap tempat usaha masyarakat Madura di Yogyakarta.

Situasi ini menciptakan keresahan, hingga akhirnya muncul tantangan carok—duel tradisional khas Madura—jika tidak ada solusi konkret untuk menghentikan tindakan tersebut.

Surat yang ditandatangani oleh RB. Jucil Adiningrat, S.H. dan M. Fahri Hasyim, S.H., M.H., menyatakan dengan tegas, “Jika saudara tidak memberikan solusi jaminan yang bergaransi bagi kami untuk tidak melakukan lagi gangguan terhadap masyarakat Madura di Yogyakarta, maka kami menantang saudara untuk CAROK terbuka antara etnis Papua Yogyakarta dan etnis Madura Yogyakarta.”

Situasi ini mendapat perhatian luas dari berbagai pihak, termasuk masyarakat Yogyakarta yang menginginkan perdamaian antara kedua kelompok agar ketegangan tidak semakin memanas. Pihak kepolisian pun tengah mencari solusi agar konflik ini tidak berkembang menjadi bentrokan terbuka.

Imron Rosyadi, dosen Universitas Trunojoyo Madura (UTM) yang pernah tinggal di Madura dan Yogyakarta, memberikan pandangannya terkait polemik ini. “Bagi saya, ini adalah mekanisme pertahanan diri ketika seseorang merasa tidak aman. Namun, dalam surat tersebut masih ada kesempatan untuk berdialog.

Biasanya, masyarakat Madura tidak memberi kesempatan dialog jika merasa terancam. Agaknya, orang Madura di Yogyakarta sedikit banyak terpengaruh budaya Jawa yang mengedepankan prinsip ‘menang tanpa ngasorake’ atau menang tanpa merendahkan, sehingga lebih memilih musyawarah daripada kekerasan.”

Sikap menahan diri juga ditekankan oleh Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan, Kerjasama, dan Alumni UTM, Surokim, S.Sos., S.H., M.Si. Ia menegaskan pentingnya menjaga persaudaraan dan tidak terpancing emosi.

“Persaudaraan dan silaturahim harus terus dikedepankan. Semua pihak harus bisa menahan diri, tidak terprovokasi, dan tidak reaktif. Bagaimanapun, konflik semacam ini berpotensi memicu perpecahan. Mari mempercayakan penyelesaian kepada pihak keamanan jika memang ada pelanggaran hukum. Kita harus menjaga situasi agar tetap kondusif demi persatuan dalam bingkai NKRI.”

Meredakan ketegangan melalui dialog dan mediasi menjadi solusi yang diharapkan dapat diterapkan untuk menjaga stabilitas di Yogyakarta. Semua pihak diimbau untuk menahan diri dan mencari penyelesaian yang damai agar kehidupan bermasyarakat tetap harmonis tanpa meninggalkan dendam. (mg/utm)

Editor : Lambertus Hurek
#carok madura #surat terbuka masyarakat madura #kisruh madura vs papua #budaya carok madura