Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Selebriti Sidoarjo Surabaya Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Dosen Penyuka Sesama Jenis di Lombok Cabuli 22 Korban Mahasiswa dan Alumni, Modus Mandi Suci hingga Zikir Zakar

Jay Wijayanto • Selasa, 31 Desember 2024 | 23:30 WIB
Ilustrasi pelecehan seksual sesama jenis yang dilakukan oknum dosen di Lombok.
Ilustrasi pelecehan seksual sesama jenis yang dilakukan oknum dosen di Lombok.

RADAR SURABAYA – Kasus dugaan pencabulan sesama jenis yang dilakukan oknum dosen berinisial RL di Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat (NTB), kian bertambah korbannya. Kini total sebanyak 22 korban yang terdiri dari kalangan mahasiswa dan alumni telah melapor ke polisi.

Dosen yang mengajar di satu kampus negeri dan dua kampus swasta di NTB ini melakukan aksinya dengan beragam modus.

Aksi oknum dosen ini terbongkar ketika salah satu korban membuat laporan ke Polda NTB, yang disusul dengan sembilan mahasiswa lain yang juga mengaku menjadi korban dosen cabul tersebut.

Menurut Sabri, pendamping korban dari LSM Sasaka Nusantara, Lombok Barat, modus pelaku dilakukan dengan berbagai cara. Salah satunya mengajak korban dalam diskusi-diskusi ilmiah.

“Pelaku ini sering ikut kegiatan dengan kita di komunitas. Ikut diskusi-diskusi ilmiah,” terang Sabri yang dikutip Selasa (31/12).

Para korban mulanya tak curiga atas pendekatan yang dilakukan pelaku, karena ia merupakan dosen yang juga dekat dengan beberapa pemimpin dan ketua komunitas yang mereka ikuti.

“Dia dosen di dua universitas di Kota Mataram. Bahkan tiga, tapi yang familiar dua. Korban merasa tidak curiga karena dia mendekati pimpinan-pimpinan komunitas organisasi,” lanjutnya.

Selanjutnya, pelaku memanfaatkan korban yang ingin hijrah dari masa lalu untuk bertobat dengan modus zikir zakar alias zikir alat kelamin.

Hal ini menurut terduga pelaku merupakan kolaborasi dari kajian ilmiah dan spiritual.

Pelaku mengelabuhi korban dengan dalih Tuhan menciptakan alam semesta dalam keadaan berzikir, dan titik paling vital yang dapat digunakan sebagai pengingat Tuhan adalah kelamin atau zakar.

“Modusnya banyak. Ada zikir zakar yang mengelaborasi kajian ilmiah dengan spritual. Zikir zakar dia sebut sebagai zikir alat kelamin,” tambah Sabri.

Modus berikutnya dilakukan pelaku dengan cara melecehkan korban dengan modus mandi suci untuk membersihkan dosa dan sebagai salah satu bentuk dari pengobatan.

Beberapa korban mengaku telah merasa janggal atas metode yang digunakan oknum dosen tersebut kepada mereka. Namun, mereka tak berani bersuara karena malu dan menganggap jika peristiwa tersebut merupakan aib yang perlu disimpan dalam-dalam.

“Setelah satu korban berani speak up, ternyata korban lain juga mengaku kena. Karena satu (korban) berani buka, yang lain juga buka suara. Mereka awalnya malu karena merasa ini peristiwa yang dianggap aib. Paling parah sampai kemudian ada korban sudah tidak tertarik lagi dengan perempuan. Sampai ada yang sudah mengalami penyimpangan seksual,” katanya.

Menurut keterangan perwakilan Koalisi Stop Kekerasan Seksual NTB, Joko Jumadi, menyebutkan jika rincian korban terus bertambah dari yang awalnya hanya 10 orang menjadi total 22 yang terdiri dari kalangan mahasiswa dan alumni.

“Sejauh ini tidak ada korban anak di bawah umur. Tapi korban bisa saja lebih,” kata Joko, Selasa (31/12).

Saat ini pihak kepolisian masih melakukan pendalaman kasus dengan meminta keterangan saksi dan mencari alat bukti lain. Saat ini pelaku telah diamankan dan diketahui telah dipecat dari tiga kampus tempat dia mengajar selama ini.

“Kami butuh informasi sebanyak mungkin. Selain keterangan korban sebagai pelapor, (alat bukti lain) kami lagi dalami,” tandas Direktur Reskrimum Polda NTB, Kombes Pol Syarif Hidayat, Selasa (31/12). (ang/jay)

 

Editor : Jay Wijayanto
#lombok NTB #sesama jenis #pencabulan #dosen