RADAR SURABAYA – Dokter selebgram, dr Tirta Mandira Hudhi, atau yang akrab dipanggil dokter Tirta sering memberikan berbagai tips dan edukasi kesehatan tentang pola hidup sehat melalui konten-konten miliknya yang diunggah di berbagai media sosial (medsos) pribadi.
Kali ini dalam podcast YouTube terbarunya @TirtaPengPengPeng pada Senin (23/12), dokter Tirta mengundang seorang ilmuwan lulusan Selandia Baru yang ahli di bidang ilmu pangan dan bioproteksi yakni Felix Zulhendri Ph.D. untuk mengupas dugaan rekayasa genetika yang saat ini marak beredar pada buah dan ayam.
Video podcast tersebut berjudul ‘#ngopenk SATU SESI GA CUKUP! SESI KEDUA BARENG PAK FELIX ZULHENDRI Ph.D. !’ dengan durasi lebih dari 57 menit.
Pada awal video, Tirta menyebutkan jika Felix rela menyisihkan waktu di tengah-tengah jadwal yang padat seperti mengurus kebun Efi, yakni bumi perkemahan sekaligus wisata edukasi ternak lebah miliknya, dan bolak-balik ke New Zealend.
Pembahasan keduanya diawali dengan pertanyaan Tirta mengenai perbandingan kualitas buah zaman dulu dan sekarang. Menurutnya, buah yang beredar dan dikonsumsi masyarakat saat ini terasa jauh lebih manis.
Tirta menyebutkan jika memang banyak buah yang direkayasa genetika. Namun bukan hanya itu, ayam pun sekarang juga mengalami rekayasa serupa.
“Di kontennya Pak Felix itu tentang buah, jadi Pak Felix membandingkan buah zaman dulu dan buah zaman sekarang. Aku akuin buah zaman sekarang memang sangat manis, ada beberapa buah yang direkayasa genetik dan bagiku bukan hanya buah, ada ayam, yang dia itu dikasih pakan terus digoreng dadanya dijadiin fast food. Terus akhirnya kita Bulk. Nah, pertanyaanku tentang dua hal ini, pertama soal buah, kalau memang buah sekarang manis banget terus kita makannya buah apa?,” tanya Tirta dalam podcast.
Sebelum membahas lebih lanjut mengenai rekayasa gentika ayam, Tirta menanyakan apakah ada alternatif yang harus masyarakat konsumsi apabila diketahui buah pada saat ini terlalu manis karena rekayasa tersebut.
“Jadi sedikit sedikit background ya, jadi gua waktu gua ngerjain S3, gua kerja sebagai scientist di New Zealand Plant Food Research, dan mereka itu perusahaan research, ini khusus untuk keluarin fruit cultivars, jenis-jenis buah yang baru terutama apel dan kiwi fruit. Nah jadi menariknya untuk apel dan kiwi fruit, kita ngomong dulu soal apel, mereka ini punya perpustakaan dok. Perpustakaan di satu field. Perpustakaan tapi apel, jadi apel itu kan sebenarnya datang dari Asia tengah, ya dari daerah kazakstan begitu, itu sebenarnya sumber apel jadi dibawa ke New Zealand. Gua pernah ngetes apel yang zaman dulu dia tuh apelnya kecil namanya crab apples ini sekecil kayak gini, begitu kita makan sepet asem kayak kalau misal kita makan salak,” jawab Felix.
Dalam penjelasannya itu, Felix menyebutkan istilah fruit cultivar atau kultivar buah yaitu golongan buah yang dikembangkan untuk tujuan mendapat sifat tertentu seperti rasa, bau, hingga warna.
Di New Zealeand, terdapat perusahan yang melakukan penelitian mengenai kultivar buah terutama apel dan kiwi. Dalam segi ukuran buah saat ini memiliki ukuran lebih besar daripada apel dari daerah asalnya, yakni Kazakstan.
“Granny Smith yang apelnya itu hijau tapi asem terus masuk. Terus mulailah apel yang warna merah itu keluar yang rasanya manis Jadi itulah progresi apel jadi kalau kita makan buah zaman dulu itu betul-betul low sugar high fiber sama quite strangent, jadi begitu dia cross breeding, akhirnya keluarlah apel yang sekarang. Jadi pada saat di New Zealand PL food research, mereka itu punya tim jadi semua e cultivar yang sudah dikembangin akan dites ke panelis, dicek Apakah brixnya itu cukup, ya salah satu parameter yang dicari adalah Brix yaitu sugar content. Makin tinggi sugar content mereka itu makin oke. Jadi itulah permasalahannya, jadi eh fruit breeding, ya gimana kita itu mengembangkan jenis buah yang baru salah satu parameter yang dicari adalah Brix yaitu berapa manis setelah itu baru dia balance dengan acidity jadi kemanisan,” tambahnya.
Felix mengungkapkan alasan dari buah saat ini yang memiliki tingkat kemanisan jauh lebih tinggi, dikarenakan rangkaian genetika tersebut. Parameter produksi buah genetika adalah dari segi Brix, yakni satuan pengukur tingkat kemanisan pada gula. Semakin tinggi kandungan gula, maka semakin bagus buah yang diproduksi.
Pada masyarakat Asia cenderung menyukai buah dengan tingkat manis yang tinggi, sehingga buah genetika itu mendapatkan target pasar yang cukup banyak. Sehingga lumrah jika karakteristik buah saat ini terasa jauh lebih berbeda dibanding yang beredar dulu.
“Jadi pada saat kita makan buah, ingat kalau orang dulu bilang makan buah itu bagus, ya mungkin dulu karena kandungan gulanya itu kan dikit maksudnya high fiber dan segala macam. Kalau sekarang kandungan gulanya tinggi, jadi gua selalu recommend kalau buah itu dimakan sebagai dessert. Jadi kita, setelah kita makan protein kita makan fat. Kita makannya buah itu di akhir, jangan kita itu makan sebagai snack, jangan kita makan itu sendiri karena itu sugar spike sih,” tambah Felix.
Di tengah-tengah buah genetika yang tinggi gula. Pernyataan makan buah itu bagus, saat ini terkesan kurang relevan. Sehingga, Felix merekomendasikan memakan buah sebagai hidangan penutup (dessert).
Setelah memakan makanan yang mengandung protein dan lemak, diteruskan dengan memakan buah. Felix menghimbau untuk tidak memakan buah sebagai satu hidangan utuh, karena berpotensi dalam pelonjakan gula darah.
“Salah satu komentar YouTube yang aku sampai capture, kan pak Felix mengatakan protein hewan adalah komponen yang Asam Amino esensialnya paling lengkap buat tubuh yang mengandung zat banyak, gimana kalau dia ternaknya itu memang disengaja kayak ayam horen kalau orang bilang ayam negeri. Dia dikondisikan dengan pakan yang kayak gitu ada hormonalnya, aku enggak tahu ya sampai ada hormonalnya gede kayak sapi juga dan akhirnya dia digoreng. Bukan digoreng, let say kita makan telurnya, telur ayam negeri dan kita makan dagingnya. Dagingnya di fast food, jadi banyak orang yang bulking ataupun maintenance, dia memakan dada ayam dari fast food nah pendapat Pak Felix itu gimana soal fenomena ini, apakah protein hewani dari ayam peternakan seperti itu enggak sebagus ayam kampung,” terang Tirta dalam video.
Tak hanya buah, diketahui saat ini ayam horn (ayam broiler) di perternakan memang diberikan pakan dengan berbagai macam kandungan yang membuat daging ayam tersebut memiliki hormonal tinggi.
Setelahnya, telur ayam tersebut hingga dagingnya dikonsumsi masyarakat dalam sajian makanan siap santap (fast food). Maka dari itu, timbul pertanyaan apakah protein yang dikonsumsi dari ayam perternakan ini tidak sebagus dengan ayam kampung.
“Kalau bagi gua sih, kelihatan ya maksudnya lebih bagus kita tuh organik, sama ayam kampung grass fat, ya itu udah topnya lah, itu udah paling utama. Kalau misalnya kita punya budget, kita cukup duit, kita bisa ngambil. Bagi gua itu nomor satu sih ya, tapi yang kedua ya terpaksa yang ayam-ayam itu. Tapi kita ngelihat kan dalam hidup ini, kalau menurut gua sih semua itu tentang apa ya, risk management. Gimana kita itu memanage resiko kita kan, kalau gua ngelihat, oke ini ayam yang mungkin disuntik antibiotik lah whatever segala macam, versus dengan kalau kita enggak makan itu ya kan. Kalau versus kita makan dan enggak makan benefitnya bagaimana. Iya terpaksa, mau enggak mau, ya animal protein terpaksa kita makan yang itu, karena kalau tidak kita gak makan dengan ayam-ayam yang whatever yang mungkin kurang ideal, kita gak dapat essential amino acid kan. Jadi gua selalu ngelihat dari sisi selalu ada relatif, ya kita ngomong baik atau enggak baik selalu ada perbandingannya dengan apa,” jawab Felix.
Menanggapi fenomena ayam peternakan yang diberikan makanan khusus agar mendapat daging yang bergizi seimbang dalam rekayasa genetika. Felix menyebutkan apabila tidak memiliki anggaran atau dana untuk membeli ayam kampung yang diberi pakan organik, masyarakat diperbolehkan memakan ayam horen dari perternakan tersebut.
Hal ini menimbang dari segi pemenuhan asam amino yang dimiliki protein hewani. Apabila memilih tidak mengonsumsi sama sekali maka kebtuhan tersebut tidak dapat terpenuhi. Sehingga tidak masalah jika masyarakat mengonsumsi pilihan olahan ayam horen pengganti dari ayam organik atau ayam kampung yang memiliki harga relatif lebih mahal. (ang/jay)
Editor : Jay Wijayanto