RADAR SURABAYA – Pada 1 Januari 2025, dunia akan memasuki babak baru dengan kelahiran Generasi Beta, sebuah istilah untuk menyebut anak-anak yang lahir antara tahun 2025 hingga 2039.
Generasi Beta menandai akhir dari era Generasi Alpha yang mencakup anak-anak kelahiran 2010–2024.
Istilah ini pertama kali dicetuskan oleh McCrindle, seorang analis sosial dan demografi yang telah banyak membahas karakteristik generasi dalam konteks perubahan zaman.
Seiring waktu, pembagian generasi menjadi semakin relevan untuk memahami perubahan sosial, budaya dan teknologi.
Generasi adalah sekelompok orang yang lahir dalam interval waktu yang sama, umumnya dengan cakupan waktu sekitar 20 tahun.
Lalu apa yang membuat Gen Beta unik? Dan bagaimana perbedaannya dengan Gen Alpha?
Generasi Beta akan menjadi generasi pertama yang sepenuhnya tumbuh dalam dunia yang sangat terintegrasi dengan teknologi canggih.
McCrindle memperkirakan bahwa generasi ini akan hidup di tengah percepatan inovasi teknologi seperti kecerdasan buatan (AI), realitas virtual (VR), Internet of Things (IoT) dan otomatisasi.
Dengan memanfaatkan kemajuan teknologi yang ada, Gen Beta diprediksi memiliki karakteristik sebagai berikut:
1. Generasi Teknologi Tinggi
Teknologi akan menjadi bagian yang tidak terpisahkan dalam kehidupan mereka. Dari pendidikan hingga pekerjaan, hampir semua aspek kehidupan mereka diperkirakan akan bergantung pada teknologi canggih.
2. Rasa Ingin Tahu yang Tinggi
Akses informasi yang semakin mudah akan membuat Gen Beta tumbuh menjadi generasi yang sangat ingin tahu. Mereka akan menjadi pembelajar cepat yang mampu menyerap berbagai informasi untuk eksplorasi dan inovasi.
3. Menghargai Keberagaman
Dengan dunia yang semakin terhubung, Gen Beta akan tumbuh dalam lingkungan yang sangat global. Mereka diharapkan memiliki toleransi tinggi terhadap perbedaan budaya, identitas, dan perspektif, menjadikan keberagaman sebagai kekuatan, bukan penghalang.
4. Terbuka pada Perubahan
Dunia yang terus berubah akan membentuk Gen Beta menjadi individu yang fleksibel dan mudah beradaptasi.
Di sisi lain, Gen Alpha adalah generasi pertama yang sepenuhnya lahir di abad ke-21. Sebagai anak dari generasi milenial, mereka dibesarkan dalam lingkungan yang sangat memperhatikan nilai-nilai kekeluargaan.
Teknologi tetap memainkan peran besar, tetapi mereka juga diarahkan untuk menyeimbangkan dunia digital dengan nilai-nilai tradisional.
Mereka disebut generasi yang dekat dengan keluarga, cenderung memiliki kepercayaan diri tinggi, dan sering kali dibekali dengan kemampuan berpikir kritis sejak dini.
Dibandingkan dengan Gen Alpha, Gen Beta diperkirakan akan lebih jauh terintegrasi dengan teknologi. Mereka akan tumbuh di era yang semakin inklusif secara sosial dan budaya.
Kebutuhan untuk menghadapi tantangan global seperti perubahan iklim, ketimpangan sosial, dan perkembangan teknologi akan membentuk mereka menjadi generasi yang lebih sadar akan tanggung jawab global.
Gen Beta kemungkinan besar akan mendefinisikan ulang hubungan manusia dengan teknologi, menjadikannya tidak hanya sebagai alat, tetapi juga sebagai mitra dalam kehidupan sehari-hari.
Setiap generasi dibentuk oleh konteks sosial, politik dan budaya pada masa pertumbuhan mereka.
Deborah Carr, profesor sosiologi di Boston University, menjelaskan bahwa generasi adalah sekelompok individu yang mengalami peristiwa besar dan transisi kehidupan dalam waktu yang sama, sehingga membentuk nilai-nilai bersama.
Bagi Gen Beta, peristiwa besar di abad ke-21 seperti perubahan iklim, perkembangan AI, dan dinamika geopolitik global akan memainkan peran besar dalam membentuk karakter mereka.
Selain itu, akses yang semakin luas terhadap pendidikan dan teknologi yang bukan hanya akan membuka peluang baru, tetapi juga menimbulkan tantangan yang berbeda dari generasi sebelumnya.
Meskipun belum lahir, Gen Beta diperkirakan akan menjadi generasi yang membawa perubahan besar di berbagai bidang.
McCrindle menyatakan bahwa prediksi tentang generasi baru selalu bergantung pada tema kehidupan saat ini.
Namun seperti semua prediksi, perkembangan generasi ini akan tetap dipengaruhi oleh faktor-faktor tak terduga, termasuk peristiwa global yang mungkin belum dapat dibayangkan saat ini. (aul/jay)
Editor : Jay Wijayanto