RADAR SURABAYA - Galeri Merah Putih Kompleks Balai Pemuda, Surabaya dipenuhi dengan nuansa budaya dan religi dalam pameran tunggal "Genthong Menep" karya Cak Luk yang digelar pada Selasa (3/12).
Pameran tunggal ini menghadirkan 20 lukisan yang mengisahkan perjalanan seni lukis Cak Luk.
Sekaligus mengajak generasi muda untuk menelusuri kembali akar budaya dan religi yang kian terlupakan.
Genthong Menep membawa pengunjung juga pada perjalanan metamorfosis ludruk, dari masa Belanda hingga era Kartolo.
Melalui lukisan, Cak Luk menggambarkan bagaimana ludruk, sebagai salah satu bentuk kesenian tradisional Jawa Timur, telah mengalami transformasi seiring berjalannya waktu.
Selain itu, pameran ini juga menampilkan lukisan yang terinspirasi dari drama musikal gambus misri, sebuah bentuk kesenian religi yang berasal dari Jombang.
Cak Luk juga menghadirkan lukisan bertema religi, seperti kaligrafi dan pahlawan nasional Hasyim Asy'ari.
Melalui karya-karyanya pria yang bernama asli Lukmanul Hakim ingin mengingatkan generasi muda akan pentingnya nilai-nilai luhur yang terkandung dalam budaya dan religi.
"Generasi sekarang tidak banyak tahu tentang budaya dan religi kita. Minimal dengan pameran ini, mereka bisa mengenal dan semoga bisa melestarikan," ujar Cak Luk.
Cak Luk menjelaskan tema Genthong Menep sendiri memiliki makna filosofis yang dalam.
Genthong Menep menggambarkan proses penciptaan seni lukis yang membutuhkan kesabaran dan ketekunan.
"Lukisan dibuat secara bertahap, seperti saya juga membuat Alquran dalam bentuk lukisan. Jadi, disela pekerjaan saya, saya menabung karya untuk pameran tunggal ini," jelas pria asal Jombang, Jawa Timur ini.
Lukisan Cak Luk bergenre dekoratif impresionis, dengan corak tiga dimensi yang menyerupai relief.
Cak Luk menggunakan teknik melukis yang unik, dengan waktu pengerjaan yang bervariasi, mulai dari dua minggu hingga tiga bulan untuk satu lukisan.
"Saya terinspirasi dari berbagai hal, dan menunggu waktu yang tepat untuk melukis. Ada kalanya saya melukis secara spontan," tambah Cak Luk.
Sementara itu, kurator lukis, Agus Koecink, melihat pameran Genthong Menep sebagai refleksi atas kondisi budaya dan religi di era modern.
"Apa yang telah dikerjakan Cak Luk merupakan bentuk laku batin, sunyi dan hening dengan melihat saat ini dimana budaya banyak ditinggalkan sendiri. Ini merupakan refleksi untuk mengenalkan kembali lewat dunia seni lukis," ujar Agus Koecink.
Pameran Genthong Menep diharapkan dapat menjadi wadah bagi generasi muda untuk mengenal dan menghargai kembali warisan budaya dan religi bangsa. (rmt/nur)
Editor : Nurista Purnamasari