RADAR SURABAYA – Penjabat (Pj) Bupati Subang, Imran, mengambil langkah tegas dengan menonaktifkan kepala sekolah di SDN Jayamukti, Pantura, Subang, setelah seorang siswanya, ARO, 9, meninggal dunia akibat perundungan yang dilakukan oleh kakak kelasnya.
Keputusan tersebut diumumkan langsung oleh Imran usai mengunjungi jenazah korban di kamar jenazah RSUD Ciereng Subang, Senin (25/11) malam.
"Saya sudah berulang kali menyampaikan bahwa pemerintah Subang anti-bullying. Kalau bullying terjadi, kepala sekolah akan saya pecat atau siswanya dipindahkan. Hari ini saya buktikan, kepala sekolah saya nonaktifkan sampai pemberkasan pemeriksaan selesai," kata Imran kepada media.
Imran menegaskan, kejadian ini menjadi peringatan keras untuk seluruh pihak agar tidak menyepelekan kasus perundungan. Ia menyebutkan bahwa sosialisasi anti-bullying telah dilakukan secara masif, sayangnya kasus seperti ini masih terjadi.
"Polres harus memproses kasus ini. Sosialisasi dan advokasi anti-bullying sudah kami lakukan, tapi itu belum cukup. Harus ada penegakan hukum," tegasnya.
Sebagai langkah lanjutan, Imran mengungkapkan rencananya untuk menggelar apel di sekolah korban.
Ia akan mengundang semua wali murid serta kepala sekolah di Subang untuk memberikan perrhatian serius terhadap pencegahan perundungan.
"Saya akan apel di sekolah korban. Semua wali murid dan kepala sekolah saya kumpulkan untuk menyaksikan dan menyadari pentingnya mencegah bullying. Kejadian seperti ini tidak boleh terulang lagi," tambah Imran.
Sebelumya, diketahui bahwa ARO yang merupakan siswa kelas 3 SDN Jayamukti telah menjadi korban perundungan oleh tiga kakak kelasnya yang duduk di kelas 4 dan kelas 5 berinisial M, D, dan O.
Akibat perundungan tersebut, korban mengalami cedera serius hingga meninggal dunia setelah sempat menjalani perawatan intensif di RSUD Ciereng selama enam hari.
Wakil Direktur Pelayanan Medik RSUD Ciereng, Syamsu Riza, mengungkapkan bahwa ARO tiba di rumah sakit dalam kondisi koma dan mengalami pendarahan otak.
"Kondisinya tidak stabil sejak hari pertama dirawat. Secara medis, korban mengalami mati batang otak, dan akhirnya meninggal dunia pada pukul 16.10 WIB, Senin (25/11)," jelasnya, Selasa (26/11).
Menurut Syamsu, berbagai upaya medis telah dilakukan untuk menyelamatkan nyawa korban, tetapi kondisi korban terus memburuk hingga akhirnya dinyatakan meninggal dunia.
Sebelum dirawat, kondisi korban baru diketahui pihak keluarga setelah korban mengeluh sakit kepala, muntah-muntah, dan sakit perut selama dua hari.
Selama mengalami perundungan, korban tidak pernah bercerita kepada siapa pun. Baru saat kondisinya drop, korban mengaku telah ditendang dan kepalanya dibenturkan ke tembok hingga membuat dirinya sulit untuk membuka mata dan berjalan.
"Dua hari itu dia muntah terus kalo makan muntah, makan muntah, perutnya sakit, sama uwa-nya enggak cerita karena takut, kata saya kenapa kamu kayak gitu, sakit perutnya, dibenerin (diurut) abis diurut nggak muntah lagi," ujar Sarti, saudara korban, saat ditemui di rumahnya.
"Gak pernah cerita, itu waktu dia mau drop mau berangkat ke rumah sakit, saya tanya kamu kenapa kepalanya sakit, melek gak bisa jalan susah, katanya dijedotin ke tembok, ditajong (tendang) pengakuan aldi (korban) sama tiga orang itu," tambahnya. (aul/jay)
Editor : Jay Wijayanto