RADAR SURABAYA – Rizky Ridho merupakan salah satu pemain sepak bola Indonesia yang menjadi sorotan publik. Pasalnya, dia dinilai berbakat di usianya yang masih terbilang muda, sehingga banyak penggemar bola yang berharap dia tergabung dalam klub bola di luar negeri.
Melalui unggahan video di akun YouTube @Sport77 Official, Senin (11/11), dia mengaku pernah mendapatkan tawaran kontrak dari tiga klub di Thailand.
Akan tetapi saat itu, dia telah menandatangani kontrak dengan PERSIJA Jakarta selama 3 tahun, sehingga saat ini dia hanya ingin menjaga sikap profesionalnya.
“Sebelum di PERSIJA belum ada tawaran yang serius. Setelah saya tanda tangan dengan PERSIJA habis SEA GAMES juara, Victory Benevo hubungi saya bahwa ada tiga tim Thailand mau hubungi saya tanya kapan kontraknya habis. Saya bilang saya baru kontrak 3 tahun untuk PERSIJA, jadi enggak bisa. Orang-orang suruh saya abroad, jangan di zona nyaman, bukannya saya enggak mau keluar, tapi saya menghargai komitmen sama PERSIJA,” ungkapnya.
Tidak hanya itu, pria kelahiran 2001 itu juga menceritakan perjalanan karirnya yang bermula dari bermain sepak bola di gang yang hanya bisa dilewati dua motor saja. Saat duduk di bangku kelas 2 SD, dia suka sekali bermain bola bersama teman-teman kampungnya di daerah Simo, Kota Surabaya.
Hobinya bermain bola yang awalnya hanya sebagai hiburan lambat laun jadi sebuah harapan agar kelak dia bisa menjadi pemain profesional dan tergabung dalam tim nasional Indonesia.
Hal tersebut dia rasakan ketika dirinya dilarang menginjak rumput lapangan sepak bola di Stadion Gelora 10 November. Keinginannya itu kemudian yang membuat Rizky Ridho bergabung dengan klub El Faza Surabaya dengan posisi bek tengah.
Meskipun begitu, Rizky Ridho pernah merasa bimbang antara fokus dengan sekolah atau sepak bola. Hal ini bermula dari dirinya yang sama sekali tidak dimainkan dalam uji coba yang dilakukan klub di Sampang setelah izin sekolah selama sebulan. Sang ayah pun menanyakan pilihan yang akan ia fokuskan antara sekolah dan sepak bola.
Setelah pulang dari latihan uji coba tersebut, Rizky Ridho akhirnya memutuskan untuk fokus dengan sepak bola dan mengatakan kepada ayahnya bahwa dia akan berusaha sekuat tenaga untuk membuktikan mampu menjadi pemain profesional. Untungnya sang ayah mendukung pilihannya.
Namun keputusannya hari itu masih memerlukan perjalanan yang panjang. Rizky Ridho sempat tergabung dalam klub PERSIKOBA (Persatuan Sepak Bola Indonesia Kota Batu) yang membuatnya harus bolak-balik Surabaya - Batu di sela-sela sekolahnya di Kota Pahlawan.
Bahkan ketika mengikuti seleksi masuk tim kebanggaan arek arek Suroboyo, PERSEBAYA, dia hampir tidak bisa bergabung karena pada saat itu yang dipilih hanya pemain kelahiran 1999 dan 2000. Namun karena tekad dan bakatnya, Rizky Ridho tetap berhasil tergabung dalam klub tersebut sebagai pemain termuda.
Pengalaman bermain di Persebaya hingga mampu menembus level senior itu yang kemudian membawanya tergabung dalam Tim Nasional Indonesia U-19 bersama coach Indra Sjafri, setelah melalui seleksi yang ketat dengan lawan-lawan yang tak kalah hebat.
Namun, pencapaian ini tidak membuatnya seketika puas. Rizky Ridho mengaku bahwa jika cepat merasa puas, maka banyak pemain di bawah yang akan mengincar posisinya.
“Belum. Karena yang saya impikan selama ini belum tercapai, meskipun U-19 saya ngerasa kayak belum cukup. Bukan di sini titik saya cukup. Titik saya cukup ketika nanti kalau saya sudah selesai main bola. Makanya itu yang saya tanemin sampai sekarang, harus kerja keras terus karena yang di bawah pengen naik gantiin saya juga. Kalau saya leha-leha ini gampang banget nyalip saya,” jelasnya.
Bergabung bersama Timnas U-19 diakui belum membuat ekonomi Rizky Ridho stabil. Apalagi saat itu gajinya dipotong 25 persen dan harus membayar kebutuhan pembayaran uang muka (downpayment) rencana berangkat haji untuk orang tuanya.
Rizky Ridho mengaku bahwa dia sempat hanya memegang uang Rp400 ribu saja. Oleh karena itu, dia membantu mempromosikan (endorse) usaha ayam kakaknya di media sosial dengan iming-iming dirinya sendiri yang akan mengantarkan ke rumah konsumen.
Namun demikian, Rizky Ridho mengaku Shin Tae-yong lah yang menyelamatkan karirnya. Karena sang head coach timnas Indonesia itu memanggilnya ke Training Camp (TC) persiapan Piala Dunia U-20 yang rencananya digelar di Indonesia (Jakarta dan Surabaya). Namun kemudian dialihkan ke Argentina akibat gelombang protes keikutsertaan Timnas Israel.
Rizky Ridho pun mendapatkan pemasukkan dari TC yang kemudian dia tabung. Namun Piala Dunia U-20 tertunda karena Covid hingga ke tahun 2023. Saat itu Rizky Ridho dipanggil bergabung dan debut menjadi pemain profesional ketika melawan Oman.
“Itu yang menyelamatkan saya. Maksudnya dapat uang saku dari situ. Piala Dunia U-20. Awal mula coach Shin datang ke Indonesia, saya seleksi di Cikarang sekitar 60 orang. Karena TC TC dapat uang saku, kekumpul saya tabung,” jelasnya.
Meskipun Shin Tae-yong tidak pernah mengungkapkan secara spesifik alasan memilihnya bergabung ke Timnas Indonesia, Rizky Ridho tetap mengaku bangga dan selalu kagum ketika bermain di lapangan bersama pemain timnas lainnya.
Dia juga mengungkapkan bahwa dipilih masuk bergabung Timnas Indonesia oleh Shin Tae-yong bukanlah hal yang mudah. Sehingga meskipun dirinya sempat dijadikan cadangan pasca kedatangan bek FC Twente Belanda, Mees Hilgers, Rizky Ridho tetap menghargai kesempatan ini dan berharap untuk tetap berada di Timnas Indonesia selamanya.
“Saya menghormati coach Shin. Itu pilihan dia. Mees Hilgers pengalamannya lebih bagus dari saya, karena kan dia main di Eropa dan levelnya lebih tinggi. Terserah pelatih, saya mau dimainin apa enggak, itu hak pelatih. Yang penting saya kerja keras di lapangan ketika saya dapat kesempatan bermain saya harus nunjukin yang terbaik sebisa saya. Kalau masalah line up itu terserah pelatih bukan hak saya. Karena panggilan ke Timnas saja sudah susah, enggak sembarang orang bisa masuk Timnas. Jadi kepanggil Timnas pun sudah alhamdulillah banget gitu buat saya. Doa saya selama ini kayak saya pengen langgeng di Timnas, sampai tua di Timnas,” tutupnya dalam wawancara di YouTube tersebut. (sas/jay)
Editor : Jay Wijayanto