RADAR SURABAYA – Video viral di media sosial memperlihatkan petani wortel di Banjarnegara, Jawa Tengah, yang mengamuk karena diduga akibat turunnya harga jual wortel yang semula sekitar Rp2.500 – Rp5.000 per kilogram menjadi Rp300 per kilogram. Turunnya harga yang drastis ini tentu saja menjadi petaka bagi para petani.
Dalam video berdurasi 51 detik yang pertama kali diunggah oleh akun TikTok @mnnn9336 pada Jumat (1/11) lalu, memperlihatkan petani berbaju oranye yang mengamuk sambil mencabuti tanaman wortelnya.
Petani lain yang mengenakan baju biru muda memperingati petani tersebut untuk berhenti merusak tanaman wortelnya sendiri agar tidak rusak sia-sia. “Wis Kang. Wis Kang. Eman-eman, sabar,” ungkap petani berbaju biru muda itu.
Petani berbaju oranye menjelaskan bahwa hasil panen wortel saat ini tidak dihargai dengan layak oleh para tengkulak.
Menurut balasan pemilik akun di salah satu komentar netizen menyebutkan bahwa harga wortel memang sedang turun drastis dan hanya dihargai Rp500 per kilogram. Padahal, modal yang dikeluarkan kurang lebih bisa mencapai Rp20 juta.
Salah satu petani wortel di Desa Pasurenan, Kecamatan Batur, Banjarnegara, bernama Vandri Dwi juga mengaku mengalami kesulitan lantaran harga wortel yang anjlok. Harga wortel yang biasanya mencapai Rp2.500 – Rp5.000 per kilogram, kini turun hanya menjadi Rp300 per kilogram.
"Sekarang harga wortel anjlok banget Rp300 per kilogram. Padahal biasanya Rp2.500 per kilo. Kalau sedang tinggi ya Rp5.000 per kilo," ungkap Vandri.
Vandri menyebutkan bahwa turunnya harga jual wortel membuat para petani wortel memilih untuk tidak memanen dan membiarkannya membusuk. Sebab harga jual yang kecil tidak setara dengan semua biaya yang dikeluarkan, termasuk biaya panen.
"Sekarang banyak yang membiarkan tanaman wortel tidak dipanen, karena mau dipanen juga butuh biaya. Jadi dibiarkan membusuk di lahan," terangnya.
Kondisi yang membuat petani sengsara ini telah terjadi sekitar dua bulan terakhir. Padahal, sebagian besar tanaman wortel sudah memasuki waktu panen.
"Kalau masa tanam wortel itu empat bulan sampai panen, tapi harga sudah turun sejak dua bulan lalu. Makanya ini petani wortel benar-benar menjerit," katanya.
Penurunan harga jual ternyata tidak hanya berlaku pada wortel saja. Beberapa sayuran lain seperti kol atau kubis, misalnya, juga turun menjadi hanya Rp200 per kilogram.
Dengan adanya penurunan harga yang drastis ini, tentu sangat merugikan bagi banyak para petani. Vandri berharap agar harga sayuran bisa kembali stabil seperti sedia kala.
Vandri juga mengomentari mengenai video petani wortel mengamuk yang viral. Dia menyebutkan tidak tahu persis lokasinya, tetapi tetap termasuk petani di sekitar daerahnya. Sementara video bagi-bagi wortel lainnya yang juga viral terjadi di Sumberejo, Kecamatan Batur.
"Kalau yang video itu saya kurang tahu. Tetapi itu di daerah sini saja. Kalau yang bagi-bagi wortel itu di Sumberejo, Kecamatan Batur," ucapnya.
Balai Penyuluh Pertanian (BPP) Kecamatan Batur, Dinas Pertanian, Perikanan, dan Ketahanan Pangan Banjarnegara, Sudi Purnomo, membenarkan terkait harga wortel yang anjlok hingga Rp300 per kilogram selama dua bulan terakhir.
Akibatnya, para petani memilih untuk tidak memanen wortel atau membagikannya gratis ke masyarakat.
"Benar harga wortel saat ini anjlok jadi Rp 300 per kilogram. Jadi memang banyak petani yang tidak memanennya. Ada juga yang dibagi-bagikan," terang Sudi.
Perihal video viral, Sudi juga mengaku tidak tahu pasti dimana lokasi kejadian. Dia sudah mencari tahu ke berbagai pihak, tetapi belum menemukan lokasinya.
Video petani yang mengamuk itu menjadi viral hingga diunggah ulang di berbagai media sosial.
Hingga Selasa (12/11) hari ini, video tersebut telah mendapatkan 2,1 juta penayangan dan banjir komentar dari netizen yang terkejut akan anjloknya harga jual wortel.
“Kenapa petani bilang harganya anjlok padahal saya beli di pasar harga selalu stabil kadang naik,” tulis akun @vin***
“Perbedaan harga jual terjadi biasanya karna terlalu banyak rantai distributor, padahal di tingkat konsumen permintaan dan penawaran lebih tinggi permintaan. Tapi ya tidak enaknya petani seperti itu, tidak bisa menentukan harga pasar,” tulis akun @Fir*** (sas/jay)
Editor : Jay Wijayanto