RADAR SURABAYA – Sebuah kasus unik viral di media sosial dimana perkara karena bukan orang Minang asli, sebuah Rumah Makan (RM) Padang di Cirebon dirazia oleh Perkumpulan Rumah Makan Padang Cirebon.
Hal ini mereka lakukan diduga karena kesepakatan bisnis dimana pemilik RM tersebut menggunakan merek dagang nasi Padang tetapi ia bukanlah orang asli Padang.
Kejadian ini diuungah oleh akun X/Twitter @tagarabak pada Minggu (28/10) dan langsung viral di medsos. Video razia itu telah ditonton lebih dari 1,4 juta kali.
Cuitan tersebut menarasikan jika adanya persekusi oleh ormas Minang perantauan terhadap warga non Minang yang membuka restoran Padang di Cirebon.
“Terkait persekusi RM Padang yang dilakukan oleh ormas Minang perantauan kpd non Minang. Coba dipikir jika keadaannya dibalik. Jika etnis lain ikut gila seperti kalian, kemudian mempersekusi balik apa yang dijual oleh etnis Minang di perantauan, bagaimana?,” tulis @tagabarak.
Dalam unggahannya, akun tersebut juga menyematkan video yang ternyata diunggah pertama kali di Facebook oleh akun Fahmi Ldg yang mengatakan lokasi kejadian berada di Cirebon.
“Akhirnya PERKUMPULAN RUMAH MAKAN PADANG CIREBON merazia pedagang nasi Padang yang tidak mematuhi kesepakatan yg telah di buat. Semua akan di tertibkan termasuk orang Minang yg tidak mematuhi aturan,” tulis Fahmi Ldg dalam unggahannya di Fb.
Pada video juga diberi keterangan bahwa kegiatan itu merupakan razia pedagang yang menggunakan merek Padang padahal bukan orang asli Padang.
Sontak saja unggahan ini bikin para netizen bingung, karena faktanya banyak masakan daerah yang dibuat dan dijual bukan oleh orang asli daerah tersebut.
Pada cuitan berikutnya, @tagarabak menuliskan jika dirinya kurang setuju atas razia tersebut yang bisa jadi memicu perselisihan.
Apabila pedagang asli orang Minang tersebut merasa kalah saing, menurut dia, mereka bisa mulai memperbaiki kualitas dan bukan malah menutup ladang pencaharian orang lain dengan dalih memakai merek dagang asli mereka.
“Kalau merasa kalah bersaing, perbaiki kualitas, buat terobosan baru. Jangan hajat hidup orang dipersekusi. Hidup merantau itu akal diperluas. Tenggang menenggang diperbanyak. Bukan semangat kedaerahan yang sempit dibawa-bawa, kemudian dipamerkan. Semakin bodoh kita dilihat orang,” lanjut @tagabarak.
Lapak cuitan @tagabarak ini langsung dibanjiri komentar para netizen yang merasa jika fenomena penjual kuliner daerah ‘X’ bukan asli daerah ‘X’ telah banyak dilakukan para masyarakat di luar dari suku, ras dan antar golongan di Indonesia.
“Padahal dulu sempat ada Soto Lamongan di Kampung Rambutan yang punya namanya Benget Situmorang,” tulis @And***
Baca Juga: Tragis! Ditabrak Kendaraan Roda Tiga Wanita di Kedinding Lor Surabaya Tewas di Depan Suaminya
“Kalo keturunan tionghoa sweeping nasi goreng, kwetiaw, siomay, dimsum, bakpau, bakmi, dan bakso bagaimana,” kata @pyr***
“Kok bisa2ya orang perantauan ngributin masalah begituan? Mereka sendiri kan cari makan di tempat orang lain,” tulis @Aba***
Hingga saat ini Perkumpulan Rumah Makan Padang Cirebon belum memberikan komentar atas viralnya video tersebut.
Namun, alangkah baiknya, membicarakan masalah dengan kekeluargaan tanpa melakukan razia yang dapat memicu gesekan hingga munculnya pertikaian yang melibatkan suku, agama, ras dan antar golongan tersebut. (ang/jay)
Editor : Jay Wijayanto