RADAR SURABAYA - Presiden Presiden Prabowo Subianto telah menunjuk empat orang perwira menengah (Pamen) dari lingkungan TNI dan Polri yang bakal mendampinginya sebagai ajudan melekat di masa jabatannya selama 2024-2029.
Keempat perwira TNI - Polri yang diajukan masing-masing matra dan telah disetujui sebagai ajudan Presiden Prabowo itu masing-masing adalah Kombes Ahrie Sonta dari Polri, Kolonel Inf Wahyo Yuniartoto dari TNI AD, Kolonel Pnb Anton Palaguna dari TNI AU dan Letkol Laut (P) Romi Habe Putra dari TNI AL.
Dikutip dari CNN, berikut rangkuman profil dari keempat ajudan baru Presiden Prabowo tersebut:
1. Kombes Pol Ahrie Sonta Nasution
Ahrie bukan lah sosok yang asing di mata publik. Sebagai Sekretaris Pribadi (Sekpri) Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo, ia kerap turun langsung menjembatani aspirasi publik di media sosial, yang sering melaporkan sejumlah kasus kepada Kapolri.
Perwira kelahiran Bandung pada 2 April 1981 ini merupakan lulus Akademi Kepolisian (Akpol) Semarang tahun 2002. Ia adalah orang pertama di angkatannya yang mendapat kenaikan pangkat luar biasa dari AKBP menjadi Kombes melalui Kenaikan Pangkat Luar Biasa (KPLB).
Ia tercatat banyak terlibat dalam penanganan peristiwa kejahatan penting di tanah air, khususnya saat tergabung dalam Satgassus Nemangkawi untuk melawan Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) di Papua.
Kiprahnya di bidang reserse juga menarik banyak perhatian. Saat menjabat sebagai Kanit Subdit 2 Ditresnarkoba Polda Metro Jaya, Ahrie Sonta mampu mengungkap peredaran 100 kilogram sabu sabu hanya dalam waktu dua bulan di 2018.
Ia juga berhasil membongkar operasi sindikat Taiwan di Perairan Tanjung Berakit Pulau Bintan, Babel, dengan jumlah barang bukti narkotika mencapai 1,6 ton.
Ahrie juga sempat terlibat dalam proses penangkapan buron kelas kakap Djoko Tjandra di kasus korupsi Bank Bali. Ia tercatat ikut menjemput Djoko di Malaysia bersama Listyo Sigit saat masih menjabat sebagai Kabareskrim Polri.
Ahrie Sonta juga pernah tergabung dalam tim SAR pencarian Pesawat Sriwijaya Air SJ-182 yang hilang pada 2021 di Posko JICT II. Saat itu ia menjabat sebagai Kapolres Tanjung Priok.
Mantan Kasat Lantas Polres Sidoarjo ini juga cemerlang di bidang pendidikan. Ahrie meraih gelar Doktor Ilmu Kepolisian pertama di Indonesia pada 2018.
Ia juga pernah menempuh pendidikan kepolisian di luar negeri, di antaranya di Politie Academy di Apeldoorn Belanda, Crime Scene Analisys By Visual Comparison di Munster Jerman, dan di Joint Special Operation University, US Command Center, Tampa, Florida, Amerika Serikat.
2. Kolonel Inf Wahyo Yuniartoto
Wahyo merupakan lulusan Akademi Militer (Akmil) Magelang pada tahun 2001. Ia mengawali kariernya di Pusat Kesenjataan Infanteri (Pussenif) TNI AD pada tahun 2001.
Selang dua tahun, perwira kelahiran 1979 ini bergabung dengan pasukan baret merah alias Komando Pasukan Khusus (Kopassus) dimana Prabowo pernah menjadi komandannya.
Pada 2003, ia dipercaya sebagai Komandan Peleton 2 di Kompi Kalajengking 3, Batalyon 11 Grup 1 Kopassus hingga Komandan Peleton 1 Kopassus pada 2005.
Setahun setelahnya, Wahyo dipercaya menjadi Perwira Seksi Operasi Batalyon 11 Grup 1 Kopassus. Lima tahun kemudian, ia kembali melanjutkan kariernya di Kopassus namun beralih ke ranah intelijen sebagai Perwira Seksi Intelijen Grup 1.
Pada 2012, Wahyo diangkat sebagai Kasi Intelijen Grup 2 dan mendapatkan promosi sebagai Wakil Komandan Batalyon 21 di tahun 2013. Ia kemudian dipercaya menjabat sebagai Komandan Detasemen Markas (Dandenma) Grup 2 pada 2014.
Setahun setelahnya, ia ditugaskan sebagai Ketua Tim Pelatih di Sekolah Raider Pusdiklatpassus Kopassus. Wahyo kemudian melanjutkan pendidikan di Sekolah Staf dan Komando Angkatan Darat (Seskoad) pada 2016.
Pasca menamatkan pendidikan Seskoad, Wahyo kembali berkontribusi sebagai Pejabat Sementara Ketua Tim Pelatih Gumil/Tih di Pusdiklatpassus.
Ia kemudian menjabat sebagai Komandan Batalyon 14 Grup 1 Kopassus sebelum akhirnya ditugaskan sebagai Komandan Kodim 0703/Cilacap pada 2018.
Wahyo selanjutnya kembali menjabat sebagai Wadan Grup 2 Kopassus pada tahun 2021. Ia kembali mendapatkan kepercayaan dari Danjen Kopassus untuk menjadi Asisten Operasi Kopassus pada 2023.
Jabatan tersebut tidak lama diemban oleh Wahyo lantaran kembali ditarik ke Grup 2 Kopassus pada tahun 2024 sebagai Komandan Grup.
3. Kolonel Pnb Anton Pallaguna
Anton Pallaguna merupakan perwira lulusan Akademi Angkatan Udara (AAU) Sleman, Yogyakarta, tahun 2000, dan berasal dari Korps Penerbang khusus Penerbang Tempur.
Ia mengawali kariernya sebagai penerbang pesawat tempur F-16 Fighting Falcon di Skadron Udara 3 Lanud Iswahjudi Madiun, Jatim.
Ia kemudian beralih mengawaki pesawat tempur Sukhoi 27/30 di Skadron Udara 11 di lanud Sultan Hasanudin Makassar, Sulsel.
Sepanjang kariernya, Anton meraih sejumlah prestasi mulai dari penghargaan Trisakti Viratama AAU tahun 1998, 1999, 2000 serta penghargaan lulusan terbaik sekolah penerbang TNI AU A-64 tahun 2002.
Selain itu ia juga meraih penghargaan Best Satra Wiratama Sekkau Class 88 tahun 2010.
Anton juga memperoleh penghargaan Liocik Sniper dari Angkatan Udara Rusia di tahun 2014.
Selanjutnya penghargaan "Well Done Award" dari KSAU karena bisa menyelamatkan pesawat Su-30 MK2 TS-3009 yang mesinnya meledak di udara akibat Foreign Object Damage (FOD).
Anton juga tercatat kerap terlibat dalam pelbagai operasi matra udara dan gabungan TNI.
Selama bergabung dalam operasi pertahanan udara, ia juga beberapa kali berhasil memaksa pesawat asing yang melanggar wilayah nasional RI untuk mendarat darurat.
4. Letkol (P) Romi Habe Putra
Pria kelahiran 1981 ini merampungkan pendidikan di Akademi Angkatan Laut (AAL) Surabaya pada 2002. Romi tercatat menyelesaikan pendidikan Spesialisasi Perwira Pelaut pada 2009 dan mengikuti pendidikan Internasional Maritime Officers Course (IMOC) di Amerika Serikat pada 2013.
Dalam perjalanan kariernya, Romi antara lain pernah mendapatkan penghargaan dari Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti pada 2016 karena saat memimpin KRI Sura-802 melakukan penangkapan kapal ikan asing ilegal terbanyak.
Selain di dalam negeri, Romi juga pernah ditugaskan di Belanda, Jerman, dan Prancis pada 2007 dalam rangka factory training Korvet Sigma. Ia kemudian bertugas di Teluk Aden, Somalia, pada 2011 sebagai Liasion Officer CTF 151.
Pada 2014, Romi juga sempat bertugas di Inggris sebagai awak kapal MRLF. Beberapa kapal perang yang pernah dikomandaninya antara lain KRI Sultan Hasanuddin-366 pada 2024 dan KRI Wiratno-379 pada 2020. (cnn/jay)
Editor : Jay Wijayanto