RADAR SURABAYA - Beban kerja yang terlalu tinggi menyebabkan kesehatan mental pekerja pun kerap terganggu. Bahkan tak jarang mereka mengalami depresi yang disebabkan oleh beberapa faktor, baik internal maupun eksternal, karena tekanan untuk mencapai target yang sering kali tidak realistis.
Data Indeks Kesehatan Mental Masyarakat Indonesia Tahun 2023, di Indonesia ditemukan 9.162.886 kasus depresi dengan prevalensi 3,7 persen. Di sisi lain, jumlah penduduk Indonesia setiap tahun bisa bertambah sampai lebih dari 3 juta jiwa yang kini sudah menyentuh total 278.16.661 jiwa.
Menurut psikolog sosial, Ananta Yudiarso, beban kerja yang berlebihan dapat berkontribusi signifikan terhadap masked depression atau depresi terselubung, karena tekanan yang terus-menerus di tempat kerja sering memicu gejala depresi yang tersamar di balik keluhan fisik atau perilaku.
Seseorang dengan beban kerja yang tinggi mungkin merasa stres, kelelahan, dan frustrasi, namun tidak menyadari bahwa pekerja sedang mengalami depresi.
"Ya memang, banyaknya beban kerja yang didapat oleh pegawai menyebabkan gangguan depresi. Sehingga mereka juga butuh layanan kesehatan jiwa," ujar Ananta, Jumat (11/10).
Lebih lanjut dia menjelaskan gejala masked depression dapat muncul dalam bentuk kelelahan kronis, sakit kepala, nyeri otot, atau masalah pencernaan semua yang bisa dikaitkan dengan stres akibat pekerjaan.
Karena gejala emosional seperti perasaan sedih atau putus asa mungkin tidak tampak, individu sering kali berfokus pada penyebab fisik tanpa menyadari adanya masalah psikologis yang mendasarinya.
Akibatnya, depresi tersembunyi ini dapat memburuk seiring waktu jika beban kerja tidak dikelola dengan baik dan tidak ada intervensi psikologis yang tepat.
Oleh karena itu untuk mencegah masked depression, penting untuk mengambil langkah-langkah proaktif yang fokus pada kesejahteraan mental dan fisik.
Seperti, mengelola stres kerja secara efektif melalui teknik manajemen waktu, delegasi tugas, dan menetapkan batasan yang jelas antara pekerjaan dan kehidupan pribadi dapat mengurangi tekanan yang berlebihan.
"Kemudian bisa juga meningkatkan kesadaran akan kesehatan mental dengan mengenali tanda-tanda awal depresi tersembunyi, seperti kelelahan kronis, nyeri fisik tanpa sebab medis jelas, atau perubahan perilaku, memungkinkan intervensi dini sebelum kondisi memburuk," terangnya
Selain itu, menerapkan keseimbangan kerja dan kehidupan pribadi dengan memastikan waktu istirahat yang cukup, hobi, dan aktivitas rekreasi dapat membantu menjaga kesehatan emosional.
"Mengembangkan keterampilan coping yang sehat, seperti meditasi, olahraga, atau berbicara dengan teman dan keluarga, juga penting untuk menghadapi tekanan sehari-hari," imbuhnya.
Sedangkan di lingkungan kerja, Ananta mengatakan perlu mendorong komunikasi terbuka tentang kesehatan mental dan menciptakan budaya yang mendukung dapat memberikan ruang bagi individu untuk mencari bantuan tanpa stigma.
"Dengan mendapatkan dukungan profesional dari psikolog atau konselor saat diperlukan dapat memberikan strategi dan bantuan yang diperlukan untuk mencegah masked depression berkembang. Dengan mengintegrasikan langkah-langkah ini dalam kehidupan sehari-hari, risiko mengalami masked depression dapat diminimalisir secara signifikan," ujarnya.
Sementara itu Ananta mencontohkan seperti beban kerja seorang PNS juga sering menghadapi birokrasi yang berbelit-belit, yang menambah frustrasi dan rasa tidak berdaya dalam menjalankan tugasnya. Selain itu, ketidakpastian karier atau penundaan kenaikan pangkat dapat menyebabkan perasaan cemas dan ketidakpuasan.
"Faktor lain adalah kultur kerja yang kaku dan kurangnya fleksibilitas, yang membuat sulit untuk menyeimbangkan kehidupan pribadi dan pekerjaan, sehingga memicu stres berkepanjangan. Tuntutan masyarakat dan ekspektasi yang tinggi terhadap PNS untuk memberikan pelayanan publik yang optimal, ditambah dengan keterbatasan sumber daya, seringkali membuat PNS merasa tertekan," ungkapnya.
Selama ini menurutnya tidak jarang, minimnya dukungan psikologis di tempat kerja juga menjadi faktor, dimana kesehatan mental masih dianggap tabu untuk dibicarakan, sehingga karyawan atau pegawai yang mengalami masalah mental seperti depresi sering kali tidak mendapatkan bantuan yang memadai.
"Masalah keuangan, kurangnya pengakuan, dan isolasi sosial di tempat kerja juga dapat memperburuk kondisi mental PNS, membuat mereka rentan terhadap depresi," ujar dosen psikologi Universitas Surabaya (Ubaya) ini.
Meski demikian di Indonesia tingkat depresi karena pekerjaan pun masih minim, jika dibandingkan di negara lain.
Dari data tingkat depresi antarnegara 2023 yang dimuat laman World Population Review menyebutkan, Ukraina menjadi urutan pertama sebagai negara dengan penduduk terdepresi sebanyak 2.800.587 kasus atau sebesar 6,3 persen dari jumlah penduduk.
Urutan kedua ditempati Amerika Serikat dengan 17,491,047 kasus (5,9 persen) dan disusul Estonia 75.667 kasus (5,9 persen). (rmt)
Editor : Jay Wijayanto