Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Selebriti Sidoarjo Surabaya Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Kembali Viral! Kisah Tragis Mayang Prasetyo, Transgender Indonesia yang Dimutilasi dan Direbus Suami Bulenya di Australia

Jay Wijayanto • Jumat, 11 Oktober 2024 | 19:58 WIB
Marcus Volke dan Mayang Prasetyo saat masih mesra yang kemudian berakhir dengan tragis.
Marcus Volke dan Mayang Prasetyo saat masih mesra yang kemudian berakhir dengan tragis.

RADAR SURABAYA – Kasus tragis dari transgender Mayang Prasetyo kembali viral di sosial media dan menjadi trending.

Peristiwa sadis ini berlangsung pada 4 Oktober 2014, sehingga pada bulan ini merupakan peringatan satu dekade kematian transgender asal Lampung tersebut.

Begini kisahnya seperti dibagikan oleh akun X/Twitter @exvianpro pada Kamis (10/10).

Mayang Prasetyo, yang sebelumnya bernama Febri Andriansyah, 27, lahir 13 Februai 1987 di Tanjung Karang, Bandar Lampung.

Ia memutuskan mengganti identitasnya dengan melakukan serangkaian operasi pada tahun 2009 agar menjadikan dirinya sebagai seorang wanita yang ia idam-idamkan, lalu mengganti namanya menjadi Mayang Prasetyo.

Nama wanitanya ini diambil dari nama artis favoritnya yakni, Mayang Sari, dan nama Prasetyo yang diambil dari nama mantan kekasihnya.

Mayang merupakan anak pertama dari tiga bersaudara, sehingga menjadikannya sebagai tulang punggung keluarga pada saat itu.

Ia kemudian bekerja di sebuah kapal pesiar, dengan profesi sebagai penari dan bertemu dengan Marcus Volke, 28, yang bekerja sebagai koki.

Namun, bukan hanya itu keduanya ternyata memiliki pekerjaan lain sebagai Pekerja Seks Komersial (PSK). 

Pada saat itu, Mayang memerlukan Visa Australia dan Volke perlu membayar hutang. Hal ini kemudian mengantarkan keduanya pada pernikahan yang dilandasi dari ‘kesepakatan/transaksi bisinis’.

Mayang membantu Volke untuk melunasi hutangnya senilai Rp120 juta dan Volke membantu Mayang mendapatkan Visa Australia dengan cara menikahinya.

Pernikahan ini berlangsung pada Agustus 2013 dan telah direstui oleh ibunda Mayang, namun tidak dengan pihak keluarga Volke.

Bahkan keluarga Volke tidak mengetahui jika selama ini putra mereka yang bekerja sebagai koki memiliki pekerjaan lain sebagai gigolo.

Keduanya memutuskan menetap di Apartemen Teneriffe di Brisbane, Queensland.

Seiring berjalannya waktu, rupanya Mayang jatuh hati pada Volke namun tidak sebaliknya.

Pernikahan keduanya tidak berlangsung mulus, hingga puncaknya Mayang mengancam akan mengungkap rahasia Volke yang seorang gigolo itu ke keluarganya.

Tak terima akan ancaman tersebut, Volke lalu terpancing emosi. Keributan keduanya sempat didengar oleh tetangga apartemen mereka pada 2-3 Oktober 2014.

Puncaknya Volke melakukan pembunuhan dengan menusuk leher Mayang menggunakan pisau pada 4 Oktober 2014.

Volke yang panik bingung harus melakukan apa pada mayat Mayang, memutuskan untuk memutilasinya.

Tak sampai dengan itu, Volke berpikir jika hanya membuang potongan tubuh itu tentu saja akan menimbulkan bau yang menyengat.

Akhirnya ia melakukan aksi merebus potongan tubuh sang istri dalam sebuah panci. Karena muatan yang besar, pertama-tama ia merebus kaki Mayang terlebih dahulu.

Naas, di apartemen mereka hanya memiliki kompor listrik. Saat di tengah kegiatan merebus listrik mengalami korsleting. Volke pun memutuskan menelepon tukang listrik untuk memperbaikinya.

Untungnya, tukang listrik mengetahui gelagat aneh dari Volke. Ia mencium bau anyir dari dalam apartemen itu, ditambah lagi ia melihat noda darah di lantai dan sarung tangan serta pemutih yang baru saja dibeli Volke.

Tukang listrik itu kemudian melaporkan kecuriagaanya pada manajer gedung. Selanjutnya, manajer gedung melapor ke polisi.

Sesaat kemudian, polisi mendatangi apartemen Volke dan Mayang. Tentu saja kunjungan itu membuat Volke panik, ia berkata jika polisi boleh menggeledah apartemennya tapi setelah ia mengikat anjingnya terlebih dahulu.

Hal ini hanya sebuah dalih. Sebab, Volke memutuskan kabur melalui pintu darurat dan membawa sebilah pisau yang ia gunakan untuk mengakhiri nyawa.

Ia menggorok leher serta pergelangan tangannya dengan sadis, kemudian mayatnya ditemukan di sebuah tempat sampah industri. Polisi kembali menyelidiki apartemen Volke dan menemukan kaki kiri Mayang masih terebus di dalam sebuah panci.

Menurut penyidik forenssik Queensland, Terry Ryan, polisi yang menanggapi kejadian tersebut tak bisa melakukan pencegahan Volke untuk melakukan aksi bunuh diri setelah melarikan diri dari petugas yang datang ke unit apartemennya.

"Kematian Volke tak bisa dicegah dengan kehadiran petugas," kata Terry.

Diketahui jika Volke selama ini mengidap gangguan psikologi Bipolar. Pihak keluarga sama sekali tidak merasakan kecurigaan pada anaknya itu, karena volke dikenal memiliki kepribadian yang baik.

Di sisi lain, banyak orang menyayangkan kepergian Mayang, karena ia dikenal sebagai sosok yang pekerja keras apalagi diketahui jika Mayang sering berbagi ke panti asuhan.

“Kalau dia ada rejeki lebih, dia selalu memberikan uang, seperti sembako dan uang. Terakhir kali dia memberikan sumbangan membawa sembako se mobil dan uang sekitar Rp20 juta,” kata Aldi, orang kepercayaan Mayang, Rabu (8/10/14).

Kisah tragis Mayang dan Volke kembali viral di sosial media. Kejadian ini diunggah kembali oleh akun X/Twitter @exvianpro pada Kamis (10/10).

Dalam cuitan yang telah dilihat hingga 5 juta pengguna ini, menjelaskan kronologi lengkap dari kisah pasangan LGBT tersebut.

Tentu saja, kolom komentar dipenuhi dengan berbagai macam tanggapan warganet atas kisah Mayang, transgender asal Lampung itu.

“sadis banget an*ir sudah gila itu si volke psikopett,” @rya***

“an*ir dulu ngikutin ini serem banget,” @OHM***

“so far ngikutin true crimes selalu saja kejahatan yang dilakukan kaum lgbt sadisnya sudah setara iblis. Ga jauh2 deh ini baru saja kejadian anak2 yatim panti asuhan di sodomi pemiliknya sendiri, mau dikata bintang tapi binatang gada yang kaya klian bo*i sialan na*is,” @urd***

(ang/mag/jay) 

Editor : Jay Wijayanto
#Mayang Prasetyo #transgender #Marcus Volke