RADAR SURABAYA – Sebuah video milik food vlogger, Debi Pratama, viral di sosial media. Para warganet rame-rame menyerukan boikot karena video miliknya yang sedang melakukan review di sebuah warung rawon di Jogja dinilai keterlaluan hingga terkesan sebagai penghinaan.
Beberapa hari ini jagat sosial media dihebohkan dengan kisruh food vlogger @debiprt_ di Tiktok dan Instagram.
Alih-alih membikin review jujur, Debi malah membuat sebuah video review warung rawon legend di Joga yang sudah berusia 19 tahun, Warung Makan Mamiku, terpaksa tutup.
Ini karena penilaian buruk dan mengarah ke penghinaan hingga menjatuhkan nama baik warung tersebut.
Diketahui jika warung itu telah beroperasi 19 tahun lamanya dan menyajikan masakan rawon yang sangat digemari banyak orang.
Sayangnya, kejayaan bertahun-tahun itu terpaksa berhenti akibat video review milik Debi yang membuat Warung Makan Mamiku sempat tutup.
Video ini pertama kali diunggah pada Senin (30/9). Namun karena ramai diserbu netizen, video ini telah dihapus oleh @Debiprt_.
Namun pada media sosial Twitter/X, video review rawon yang dilakukan Debi ini kembali diunggah sebagai barang bukti penghinaan oleh akun @gastronusa.
“Ada yang save barbuk sebelum akun sosmednya raib ini,” tulis @gastronusa, Selasa (1/10).
Cuitan yang telah dilihat hingga 7,4 juta kali itu menampilkan video Debi sedang membedah nasi rawon dari Warung Makan Mamiku yang disajikan di meja.
Ia menilai jika kondimen semacam nasi, toge, telur asin, hingga kemangi, tidak pas disajikan secara bersamaan. Selain itu, kuah yang keasinan dan tidak panas, after taste yang pahit, hingga menilai jika rawon tersebut tidak berbeda dengan soto.
Puncaknya, dengan tak berperasaan, ia memberikan nilai 14/21 dari hidangan rawon tersebut.
Tentu saja kolom komentarnya di penuhi dengan caci maki warganet yang geram dengan penilaian food vlogger dengan 23,4 ribu followers di Tiktok itu.
“Gak ngerti apa bagusnya dari “food vlogger” ini. Kok bisa yang begini menyebut dirinya “food vlogger” padahal sambil makan cuma nyepam asbun,” tulis akun @osc***
“ingin niru food vlogger yg kritik tapi kritiknyaa asbun + ngawur. Ga bisa deskripsiin makanan malah ngejelek2in makanannya,” tulis @exe***
“pantes di blacklist, reviewnya nyablak keliatan ngikutin selera dia saja,” sebut @foo***
Atas kegaduhan hingga seruan boikot, akhirnya Debi melakukan klarifikasi dan meminta maaf kepada pemilik Warung Makan Mamiku bernama Gilang.
Hal ini diketahui pada unggahan akun Instagram @gumoninn pada Rabu (2/10). Dalam postingan tersebut menyertakan sebuah foto dimana Gilang sedang berjabat tangan dengan Debi yang menggunakan kemeja berwarna putih.
“Saya Debi, pemilik akun @Debiprt_, sudah bertemu langsung dengan owner @warungmakanmamiku dan telah memohon maaf atas kesalahan yang saya buat pada postingan review rawon yang telah merugikan Warung Makan Mamiku. Mohon maaf juga kepada warung-warung lain jika ada kata-kata yang kurang berkenan. Saya tidak ada niat dan maksud sedikitpun untuk menjatuhkan maupun merugikan siapapun. Saya berjanji tidak akan mengulangi hal serupa ke warung lain. Maaf atas kegaduhan yang terjadi. Terima kasih,” tulis @gumoninn.
Unggahan permintaan maaf sekaligus klarifikasi itu kemudian juga direspon oleh para warganet.
Menurut mereka permintaan maaf Debi tidak seimbang dengan cara ia menghina yang terlihat begitu semangat.
“Jangan sampek kau review warung mamakku ya, kutanam di dinding kau,” ancam @owi***
“Untuk klarifikasi dapet rating 0,9/21,” sebut @bag**
“golek gawean liyane le! Rasah mok teruske!,” tulis @sak***
Sebelumnya diketahui jika Debi juga pernah melakukan review di Rumah Makan Padang Upik.
Dengan entengnya, ia berkata jika tidak ada rasa manis di rendangnya. Padahal makanan Minang terutama masakan Padang memang berciri khas pedas dan gurih, bukan manis yang justru khas kuliner Jogja.
Kasus lainnya, ia berkata bahwa Rumah Makan Seafood Yanto di Sleman, DIY, itu Overrated dan Overprice, dan masih banyak lagi review-review aneh dari food vlogger Debi Pratama ini yang dinilai asbun (asal bunyi). (ang/mag/jay)
Editor : Jay Wijayanto