Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Selebriti Sidoarjo Surabaya Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Mengenal Sosok Mendur Bersaudara: Sang Fotografer Detik-Detik Proklamasi 17 Agustus 1945

Jay Wijayanto • Sabtu, 17 Agustus 2024 | 12:35 WIB
Frans Mendur dan kakaknya Alex Mendur yang mengabadikan momen detik detik proklamasi kemerdekaan RI pada 17 Agustus 1945 di Jalan Pegangsaan Timur No. 56 Jakarta.
Frans Mendur dan kakaknya Alex Mendur yang mengabadikan momen detik detik proklamasi kemerdekaan RI pada 17 Agustus 1945 di Jalan Pegangsaan Timur No. 56 Jakarta.

RADAR SURABAYA – 17 Agustus 2024 menjadi saksi bahwa sudah 79 tahun Indonesia merdeka dan menjadi Negara Kedaulatan Republik Indonesia (NKRI).

Banyak sekali pahlawan-pahlawan proklamasi yang telah berjuang agar hari itu menjadi hari Kemerdekaan Indonesia. Peristiwa tersebut menjadi peristiwa sejarah bangsa Indonesia yang di nanti-nanti oleh seluruh masyarakat.

Peristiwa tersebut adalah momen yang tidak bisa diulang kembali. Dan, momen itu berhasil diabadikan oleh Alex Impurung Mendur dan Frans Soemarto Mendur. Kedua Mendur bersaudara itu berhasil menangkap momen bersejarah ini.

Lalu, siapa sosok Mendur bersaudara dan bagaimana kisahnya memperjuangkan foto detik-detik proklamasi tersebut?

1. Sosok Mendur Bersaudara

Alex Mendur dan Frans Mendur adalah dua bersaudara yang berasal dari Kawangkoan, Minahasa, Sulawesi Utara. Orang tuanya August Mendur dan Ariantjie Mononimbar adalah pasangan Minahasa yang memiliki 11 orang anak.

Alex adalah anak pertama di keluarga tersebut yang lahir pada 7 November 1907 di Kawangkoan dan meninggal di Bandung pada 31 Desember 1984.

Alex menikah dengan Innes Mandoinsong dan mereka dikaruniai tiga anak yaitu Lexy Rudolf Mendur, Yvone Marlene Mendur dan Maya Mayon Mendur.

Sedangkan Frans Soemarto Mendur adalah anak keempat dari keluarga tersebut yang lahir pada 16 April 1913 di Kawangkoan dan meninggal di Jakarta pada 27 April 1971.

Frans menikah dengan Jamailah binti Sarih dan mereka memiliki 4 anak, yaitu Jian Samartini Mendur, Johny Sumanjono Mendur, Zakaria dan Juni Prihatini.

Sejak kecil Alex menyukai ilmu bumi. Pada tahun 1922, Alex akhirnya hijrah ke Jawa bekerja sebagai wartawan dengan hanya mengandalkan ijazah lulusan Sekolah Rakjat (SR) kelas V.

Saat itu Alex dipertemukan dengan Anton Nayoan yang mengenalkannya pada dunia fotografi.

Karir Alex dimulai menjadi wartawan foto pada tahun 1925 di De Java Bode (Utusan Jawa). Alex menjadi satu-satunya wartawan foto yang berkebangsaan Indonesia di surat kabar harian yang terbit di Batavia dan didistribusikan di Hindia Belanda itu.

Pekerjaan sebagai wartawan inilah yang mengantarkan Alex untuk melakukan dokumentasi di setiap peristiwa di Indonesia pada masa itu.

Sesudah itu, Alex menularkan minatnya kepada sang adik dalam bidang fotografi.

Frans yang saat itu masih berumur 14 tahun akhirnya menyusul kakaknya ke Jawa pada tahun 1927.

Sesampainya di Jawa, Frans diangkat menjadi anak oleh seorang wanita yang berasal dari Jawa Timur yaitu Suma.

Foto hasil jepretan Frans Mendur saat Ir Soekarno membacakan naskah proklamasi didampingi Moh. Hatta (kanan) di Jalan Pegangsaan Timur No. 56 Jakarta.
Foto hasil jepretan Frans Mendur saat Ir Soekarno membacakan naskah proklamasi didampingi Moh. Hatta (kanan) di Jalan Pegangsaan Timur No. 56 Jakarta.

Frans mengikuti jejak kakaknya sebagai wartawan foto. Dia mengirim keterampilan hasil fotonya ke De Java Bode dan mingguan Wereldnieuws (Berita Dunia). Akhirnya pada tahun 1935, Frans diterima sebagai pembantu wartawan foto di De Java Bode.

Selama periode penjajahan Jepang, Frans kemudian pindah bekerja di koran Asia Raja yang digunakan propaganda Jepang.

Selain itu, Frans juga bekerja di Jawa Shimbun Sha yang merupakan media cetak bagian dari Sarekat Penerbit Suratkabar pada masa itu.

2. Mendur Bersaudara Abadikan Detik-Detik Proklamasi Kemerdekaan

Sebelum pernyataan kemerdekaan Republik Indonesia diumumkan/diproklamirkan di kediaman Soekarno di Jalan Pegangsaan Timur No. 56 Jakarta, malam harinya, Frans mendengar kabar dari kawan-kawan pergerakan kemerdekaan Indonesia bahwa esok hari akan dilaksankan momen bersejarah tersebut setelah mendapat izin dari Laksamana Maeda, penguasa Jepang.

Sedangkan Alex juga mendengar kabar tersebut dari rekan kerjanya di kantor berita Domei, yakni Zahrudi.

Meskipun ragu, mereka tetap berangkat ke rumah Soekarno.

Frans berangkat dengan berbekal kamera Leica Leitz serta satu buah roll film.

Dini hari, ia berangkat bersama rekannya dengan cara sembunyi-sembunyi mengendarai mobil Jepang yang pro terhadap kemerdekaan Indonesia. Sesampainya di Jalan Pegangsaan, mereka melihat beberapa tokoh termasuk dwitunggal Soekarno-Hatta yang sedang berunding.

Sekitar pukul 10 pagi, tokoh-tokoh pergerakan dan pejuang Indonesia dengan semangat kemerdekaan pun pecah, mereka semua berteriak, “Merdeka! Merdeka!” tak henti-henti.

Hingga kemudian, Soekarno membacakan naskah proklamasi dan diakhiri dengan sorak-sorai warga dan para tokoh yang berkumpul menyambut kemerdekaan. Momen tersebut tidak luput dari bidikan kamera yang dibawa Frans dan Alex.

Akan tetapi tidak lama setelah itu, tentara Jepang datang dan memburu mereka. Alex tertangkap oleh tentara Jepang hingga tidak bisa menyelamatkan foto dari momen bersejarah tersebut.

Foto pengibaran bendera merah putih oleh petugas disaksikan dwitunggal Soekarno-Hatta yang berhasil diabadikan Frans Mendur.
Foto pengibaran bendera merah putih oleh petugas disaksikan dwitunggal Soekarno-Hatta yang berhasil diabadikan Frans Mendur.

Sedangkan Frans berhasil melarikan diri. Saat dirinya melarikan diri, ia menyempatkan untuk menyimpan negative film hasil jepretannya di dekat kantor Harian Asia Raya.

Setelah itu, ia tetap harus bersembunyi saat dirinya akan mencetak hasil foto tersebut.

Akhirnya setelah 6 bulan penantian, pada tanggal 20 Februari 1946, foto proklamasi tersebut berhasil dicetak dan dipublikasikan di Harian Merdeka.

Di antara foto hasil jepretan Frans ini, terdapat 5 foto yang tersebar dan sering kita lihat di berbagai postingan dan media.

Yaitu Presiden Soekarno saat membaca teks proklamasi, penaikan bendera merah putih, teks proklamasi dalam tulisan tangan, teks proklamasi dalam ketikan, dan Moh. Hatta saat upacara berlangsung.

Namun berdasarkan penelitian kantor berita Antara dan Yayasan Bung Karno pada tahun 2012 ditemukan 13 foto lainnya. Diduga masih ada foto lain karya Frans Mendur yang masih belum ditemukan (Rondonuwu, 2017).

Demikianlah sedikit kisah dari Mendur bersaudara yang berhasil menangkap momen bersejarah Indonesia dalam detik-detik Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945.

Untuk mengenang jasa Mendur bersaudara di Kawangkoan, Sulawesi Utara, kemudian didirikanlah Tugu Pers Mendur yang diresmikan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada 11 Februari 2013. Tugu tersebut digagas oleh Gubernur Sulawesi Utara pada masa itu, Sinyo Harry Sarundajang.

Alex dan Frans Mendur juga telah mendapatkan Bintang Jasa Utama pada 9 November 2009 dan Bintang Mahaputera Nararya pada 12 November 2010. Namun hingga saat ini mereka masih belum menjadi Pahlawan Nasional. (bel/mag/jay)

Editor : Jay Wijayanto
#Proklamasi Kemerdekaan RI #frans mendur #bung hatta #alex mendur #soekarno #mendur bersaudara