“Awalnya dapat info dari kakak kalau di UM Surabaya ada beasiswa atlet, katanya kurikulumnya mudah dan kuliahnya fleksibel untuk para atlet dan dapat saran juga dari teman-teman atlet lainnya,”ujar Ikhsan, Rabu (14/8).
Ikhsan telah mengikuti jejak sang kakak yang terlebih dahulu mengambil jurusan Psikologi di UM Surabaya. Alasan memilih kuliah karena menurut pemain 21 tahun ini, nantinya ilmu yang di dapat bisa bermanfaat selepas pensiun menjadi pemain sepak bola. “Saya juga memiliki keinginan untuk menjadi seorang pengusaha suatu saat nanti setelah pensiun dari sepak bola," ungkapnya.
Untuk kuliah Ikhsan mengatakan akan mengatur jadwal dengan pertandingan Liga 1. Yang terpenting baginya tidak meninggalkan pendidikan. "Ya ketika nanti saya ada jadwal pertandingan di Surabaya saya akan masuk kuliah. Kalau gak ya online saja," terangnya.
Ikhsan mendapatkan beasiswa bagi atlet berprestasi, sehingga dia mengucapkan terimakasih kepada UM Surabaya karena telah memberikan banyak kesempatan kepada atlet-atlet Indonesia untuk bisa mengenyam pendidikan dengan kurikulum yang mudah sehingga para atlet lebih bisa kuliah dengan fleksibel.
Sementara itu Wakil Rektor 3 UM Surabaya Ma’ruf Sya’ban mengatakan dalam sambutannya bahwa saat ini setidaknya ada 52 atlet yang kuliah di UM Surabaya, beberapa diantaranya telah lulus. Atlet tersebut diantaranya atlet sepak bola, atlet panjat tebing, sepakbola amputasi, futsal, taekwondo, tapak suci, atlet renang, atlet karate dan beragam atlet lainnya.
Program beasiswa atlet diberikan sebagai penghargaan kepada para atlet yang sudah mengharumkan nama daerah, provinsi hingga negara. "Biasanya para atlet ini tidak terlalu memikirkan pendidikan. Tapi kita ingin membantu mereka agar betul-betul memikirkan masa depannya setelah pensiun jadi atlet nanti. Tentu mereka bisa melanjutkan karirnya dengan bekal keilmuan yang dimiliki,”ujarnya.
Mahasiswa yang mendapatkan beasiswa atlet akan dibebaskan biaya pendidikan secara keseluruhan, baik DPP dan SPP. Pemberian beasiswa ini juga sebagai apresiasi atas kemauan dan kepedulian para atlet akan pendidikan tinggi.
Sebagai kampus yang konsen dengan pendidikan atlet, UM Surabaya juga menyiapkan kurikulum khusus yang berbeda dengan mahasiswa reguler.
"Kurikulum khusus ini dibentuk untuk menyesuaikan aktifitas latihan mereka, sehingga kuliahnya tidak terganggu. Jadi tidak harus datang ke kampus belajar tatap muka, tapi diberikan kurikulum yang memungkinkan mereka belajar dari mana saja, baik secara daring maupun penugasan,”pungkasnya. (rmt)
Editor : Rahmat Adhy Kurniawan