Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Selebriti Sidoarjo Surabaya Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Tergencet Produk Impor dari China, Perajin Kulit dan Perak Sidoarjo Wadul ke Kadin Jatim

Mus Purmadani • Jumat, 12 Juli 2024 | 17:41 WIB
Diskusi antara asosiasi pengrajin kulit Jatim dan asosiasi pengrajin perak Jatim dengan ketua dan pengurus Kadin Jatim di Grha Kadin Surabaya.
Diskusi antara asosiasi pengrajin kulit Jatim dan asosiasi pengrajin perak Jatim dengan ketua dan pengurus Kadin Jatim di Grha Kadin Surabaya.

SURABAYA - Gempuran produk jadi dari negara tirai bambu telah membuat pelaku usaha domestik kelimpungan, khususnya usaha skala mikro kecil dan menengah (UMKM).

Di Jawa Timur, banyak UMKM yang mengaku terpaksa harus mengurangi produksi atau mem-PHK karyawannya karena permintaan semakin sepi. Bahkan ada juga yang sampai gulung tikar, seperti yang dialami oleh UMKM perajin kulit dan perak di Sidoarjo.

Ketua Asosiasi Pengrajin Kulit (Aspek) Jatim, Roni Yudianto, mengatakan bahwa kerajinan kulit di Sidoarjo, tepatnya di kecamatan Tanggulangin, beberapa tahun yang lalu sempat berjaya.

Hampir di setiap rumah yang ada di Desa Kedensari, Tanggulangin, membuka usaha pembuatan produk berbahan dasar kulit mulai dari tas, sepatu, sabuk atau jaket.

"Tetapi akibat gempuran produk serupa yang diimpor dari China, akhirnya lambat laun mulai sepi, terlebih saat covid-19," kata Roni Yudianto saat bertemu dengan Ketua Umum Kadin Jatim, Adik Dwi Putranto, di Graha Kadin Jatim Surabaya, Rabu (10/7) malam.

Menurut Roni, sebenarnya para perajin tersebut sudah berusaha untuk terus bertahan di kondisi yang tidak menguntungkan tersebut. Tetapi gempuran produk impor dari China kian hari makin tak terkendali. Apalagi dengan adanya digitalisasi, maka banyak produk yang dijual lewat e-commerce adalah impor dari China.

Produk dari negeri Tirai Bambu ini sangat bersaing selain karena tampilan atau modelnya yang dinilai sangat variatif dan inovatif, juga harganya yang jauh lebih murah dibanding produk lokal. Sehingga, daya saing produk lokal kalau jauh dibanding produk China.

"Walaupun kita tahu kualitas produk China itu tidak sebagus produk lokal, namun masyarakat akhirnya tetap lebih memilih membeli barang yang lebih murah dan lebih indah tampilannya. Di sisi lain, perang pasar di level lokal antar daerah juga kian ketat," jelas Roni.

Pengakuan yang sama juga diungkapkan Ketua Perkumpulan Perajin Perhiasan Perak Jatim, Mochammad Musa. Menurut dia, derasnya barang kerajinan perak dari China mengakibatkan perajin perak di Jatim menyusut bahkan gulung tikar. Mereka pun banyak yang memilih untuk beralih profesi.

"Saat kondisi tidak baik dan tidak ada pesanan, banyak tukang yang dulunya bekerja sebagai pembuat kerajinan perak beralih menjadi ojek online, ada juga yang jual cilok dan lain sebagainya. Mereka akhirnya merasa nyaman dan tidak lagi mau bekerja di sini, karena dianggap lebih aman. Sehingga saat kami meminta mereka kembali membuat perhiasan perak, mereka tidak mau lagi," terangnya.

Oleh karena itu, Asosiasi Pengrajin Kulit Jatim dan Perkumpulan Pengrajin Perhiasan Perak Jatim berharap pemerintah memberikan dukungan dan perlindungan atas keberlangsungan bisnis UMKM dengan melakukan pembatasan produk impor dari China untuk pasar dalam negeri. Ada satu kebijakan, dimana impor bahan baku tetap bisa dilakukan tetapi impor bahan jadi diperketat.

"Kalau memang pembatasan secara nasional tidak bisa dilakukan karena Indonesia telah terikat perjanjian dagang dengan negara-negara tersebut, maka harapan kami Pemprov Jatim bisa melakukan pembatasan secara lokal," tambah Roni.

Ia melanjutkan, dukungan juga dengan memberikan pendampingan dan pelatihan. Mulai dari membuat model yang bagus dan menjualnya. "Akses pasar atau jaringan sangat kami butuhkan. Misal diikutkan dalam pameran atau misi dagang ke sejumlah daerah," katanya.

Dukungan juga diharapkan datang dari Kadin Jatim karena Kadin memiliki jaringan yang sangat luas. "Kami berharap Kadin bisa menjembatani sebab seluruh pengusaha kecil nasibnya hampir sama," katanya.

Menanggapi keluhan tersebut, Ketua Umum Kadin Jatim Adik Dwi Putranto yang didampingi oleh Ketua Komite Tetap Promosi Produk UMKM dan Pemberdayaan Daerah Kadin Jatim, Yusuf Karim Ungsi, mengatakan bahwa pihaknya selalu men-support UMKM di Jatim.

Sebab Kadin tidak hanya menaungi industri besar atau menengah, tetapi ada banyak UMKM yang juga menjadi anggota Kadin.

"Kadin adalah rumah besar pengusaha untuk saling membantu, bersinergi demi peningkatan ekonomi Indonesia. Dukungan ini bisa diwujudkan dengan membuka peluang pasar dengan menjadikan UMKM sebagai mitra industri besar dan memberikan pelatihan kepada mereka," ujar Adik.

Selama ini, ujarnya, Kadin Jatim telah bermitra dengan PUM Netherland Expert Belanda untuk memberikan pendampingan secara gratis kepada pelaku UMKM di banyak sektor. Pendampingan ini juga bisa diberikan kepada perajin perak dan kulit untuk meningkatkan kualitas desain sehingga mampu bersaing dengan produk dari China.

"Intinya Kadin akan selalu memberikan support besar terhadap peningkatan kualitas dan kuantitas produk UMKM. Dalam hal akses pasar, Kadin senantiasa menggelar pameran tematik setiap tahun, diantarnya pameran Inapro dan Inagro yang jadi ajang promosi bagi UMKM Jatim. Sinergi harus terus dibangun untuk mencapai kesejahteraan bersama," kata Yusuf Karim Ungsi yang juga ketua Asosiasi Perusahaan Pameran Indonesia (Asperapi) Jatim ini. (mus/jay)

Editor : Jay Wijayanto
#pengrajin kulit #China #produk impor #Pengrajin Perak #kadin jatim