RADAR SURABAYA – Di tengah stagnasi ekonomi global, berbagai kebijakan strategis pemerintah berhasil menopang resiliensi ekonomi nasional.
Per Maret, tingkat kemiskinan melanjutkan tren menurun menjadi 9,03 persen.
Capaian itu turun cukup signifikan bila dibandingkan di bulan saya di tahun 2023 yang masih di kisaran 9,36 persen.
Jumlah penduduk miskin pada Maret turun 0,68 juta orang dari Maret 2023, sehingga jumlah penduduk miskin menjadi sebesar 25,22 juta orang.
Angka kemiskinan ini merupakan yang terendah dalam satu dekade terakhir.
Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan (Kemenkeu) Febrio N. Kacaribu menjelaskan, secara spasial juga terjadi perbaikan, tingkat kemiskinan menurun baik di perkotaan maupun di perdesaan.
Tingkat kemiskinan di perkotaan turun ke level 7,09 persen dari 7,29 persen pada Maret 2023.
Sementara itu, persentase penduduk miskin di perdesaan mengalami penurunan menjadi sebesar 11,79 persen dari 12,22 persen pada Maret 2023.
“Penurunan kemiskinan juga terjadi di seluruh wilayah Indonesia, dengan penurunan tertinggi terjadi di Bali dan Nusra,” ungkap Febrio di Jakarta, Selasa (2/7).
Ia menjelaskan, tingkat ketimpangan pengeluaran penduduk Indonesia (Rasio Gini) juga menurun.
Angkanya berada di bawah level prapandemi menjadi sebesar 0,379 pada Maret lalu.
Pada Maret 2023, Rasio Gini masih di angka 0,388.
Level tersebut merupakan yang terendah dalam satu dekade terakhir.
“Penurunan ketimpangan terjadi baik di perkotaan maupun perdesaan,” sambungnya.
Penurunan angka kemiskinan pada Maret ditopang oleh solidnya aktivitas ekonomi domestik dan berbagai program bantuan sosial pemerintah, khususnya dalam merespons kenaikan inflasi pangan pada awal 2024.
“Penurunan tingkat kemiskinan ini memberikan harapan di tengah stagnasi perekonomian global. Pemerintah akan terus berkomitmen menjaga stabilitas inflasi sehingga dapat mendorong peningkatan daya beli masyarakat, yang selanjutnya dapat mengakselerasi penurunan tingkat kemiskinan dan perbaikan kesejahteraan masyarakat.” ujar Febrio. (opi)
Editor : Nofilawati Anisa