Sejarah pembangunan Kabah kemudian berlanjut pada masa Nabi Muhammad SAW.
Pembangunan Kabah sudah tentu menjadi hal penting bagi umat Islam.
Bagaimana tidak? Kabah merupakan kiblat bagi seluruh umat Islam di seluruh dunia dalam menunaikan kewajiban utama, yakni salat.
Agar ibadah salat kita paripurna, penting bagi kita untuk mengetahui sejarah di balik pembangunan tempat suci tersebut.
Mengutip buku The Greatest Stories of Al-Qur’an yang ditulis oleh Syekh Kamal As Sayyid, pertama kali Kabah dibangun oleh Nabi Ibrahim As dan Nabi Ismail As.
Keduanya membangun Kabah secara perlahan. Mula-mula, Allah SWT memerintahkan keduanya untuk membangun Kabah sebagai lambang cinta mereka kepada Allah.
Nabi Ibrahim dan Ismail pun saling kerja sama membangun Kabah selama berbulan-bulan.
Selain itu, ada pula sumber yang menyebut bahwa Kabah dibangun untuk melindungi Hajar Aswad, yakni batu hitam yang datangnya dari surga.
Kabah menjadi tempat ibadah yang dikhususkan hanya untuk hamba Allah.
Untuk itu, salat menghadap ke Kabah menjadi satu tanda ketaatan dan kesatuan umat Islam di seluruh dunia, dan bukan berarti menyembah Kabah.
Sejarah Pembangunan Kabah
Merujuk buku The Great Episodes of Muhammad Saw yang ditulis oleh Dr. Said Ramadhan al-Buthy, para ulama sepakat bahwa Kabah telah mengalami pembangunan atau rehabilitasi sebanyak empat kali.
Pertama, pembangunan Kabah dilakukan Nabi Ibrahim As dan Nabi Ismail As.
Hal ini sesuai dengan QS Al-Baqarah ayat 127 yang menyebut bahwa Nabi Ibrahim meninggikan fondasi Kabah.
Ayat tersebut menyiratkan bahwa bangunan Kabah telah ada sebelum Nabi Ibrahim.
Akan tetapi beberapa sejarahwan mengungkapkan bahwa sebelum dibangun oleh Nabi Ibrahim, tempat tersebut sebelumnya adlaah sebuah tanah tinggi berwarna merah, yang mana digunakan oleh kaum Amaliq untuk beribadah sebelum mereka musnah.
Seusai Nabi Ibrahim dan juga Nabi Ismail membangun Kabah, keduanya berdoa dan memohon kepada Allah SWT agar amalnya diterima dan juga anak serta cucunya menjadi umat yang taat.
Nabi Ibrahim dan juga Ismail juga memohon kepada Allah mengenai tata cara melaksanakan ibadah haji.
Kala itu, Nabi Ibrahim meninggikan bangunan Ka’bah hingga 7 hasta, dengan panjang 30 hasta, dan lebar 22 hasta. 1 hasta= 40 cm.
Sementara itu, pendapat lain menyebutkan kalau tinggi Kabah yang sebenarnya adalah 9 hasta. Di masa itu, Kabah belum dilengkapi dengan atap.
Kedua, pembangunan Kabah dikerjakan Kaum Quraisy. Beberapa tahun sebelum Rasulullah SAW diangkat menjadi Nabi, banjir bandang menerjang Makkah hingga menyebabkan sebagian dinding Kabah roboh.
Kaum Quraisy kemudian membangun kembali Kabah yang rusak tersebut.
Nabi Muhammad yang saat itu diperkirakan berusia 35 tahun, juga turut serta dalam pembangunan Kabah.
Beliau mengangkut batu di atas pundaknya dengan beralaskan selembar kain. Beliau bahkan sempat tersungkur ketika membawa batu-batu tersebut.
Saat pembangunan telah selesai, suku-suku berselisih untuk menentukan suku mana yang paling berhak untuk meletakkan Hajar Aswad ke tempat asalnya. Nabi Muhammad kemudian mengusulkan agar Hajar Aswad ditaruh di atas selembar kain.
Kemudian, perwakilan dari suku-suku yang berselisih itu masing-masing memegang ujung kain untuk kemudian mengarahkan batu hitam itu ke tempat semula.
Pada akhirnya, semua orang sepakat dengan usul Nabi Muhammad.
Pada pembangunan kedua ini, Kabah ditinggikan hingga 18 hasta, namun panjangnya dikurangi menjadi sekitar 6,5 hasta (dari sebelumnya 30 hasta). Ka’bah dibiarkan dalam area Hijir Ismail.
Sebetulnya Nabi Muhammad “tidak sepakat” dengan pembangunan Kabah yang dilakukan Kaum Quraisy.
Pasalnya, pembangunan tersebut mengubah posisi Kabah sebagaimana ketika dibangun Nabi Ibrahim.
Namun, Nabi Muhammad memilih untuk menahan egonya atas kebenaran sejarah, dengan mendahulukan kepentingan masyarakat secara luas.
Ketiga, pembangunan Kabah pada masa Khalifah Yazid bin Muawiyah. Pada akhir tahun 683 M, pasukan Yazid bin Muawiyah di bawah komando al-Hushain bin Numair as-Sakuni menyerbu Abdullah bin Zubair dan pengikutnya di Makkah.
Peperangan itu menyebabkan sebagian besar dinding Kabah roboh dan terbakar.
Abdullah bin Zubair lalu meminta saran kepada yang lain, terkait dengan pembangunan Kabah.
Apakah dibangun bagian-bagian yang rusak saja atau diratakan semuanya, baru kemudian dibangun kembali.
Setelah menerima beberapa usulan, Abdullah bin Zubair akhirnya meratakan Kabah dengan tanah.
Ia kemudian membangun tiang-tiang di sekelilingnya dan menutupinya dengan tirai. Abdullah bin Zubair juga menambah bangunan Ka’bah sebanyak 6 hasta, dari yang dulu dikurangi Kaum Quraisy.
Ia juga menambah tingginya menjadi 10 hasta sekaligus membuat dua pintu.
Satu pintu untuk masuk, sementara pintu lainnya untuk keluar. Ia berani melakukan ini, merombak bentuk dan posisi Kabah, karena mengikuti hadis Nabi Muhammad SAW berikut:
“Wahai Aisyah, seandainya kamu bukanlah orang-orang yang baru saja berlalu dari kemusyrikan, (dan saya tidak memiliki biaya untuk pembangunannya), (niscaya saya akan menginfakkan simpanan Kabah ke jalan Allah, dan) niscaya saya akan merobohkan Kabah dan meratakannya dengan tanah. (Kemudian akan aku bangun di atas pondasi Nabi Ibrahim).
Saya akan menjadikan dua pintu baginya. Satu pintu di sebelah timur (sebagai pintu masuk) dan satu pintu lainnya di sebelah barat (sebagai pintu keluar). (Saya akan meratakannya dengan tanah). Saya akan menambah luasnya enam hasta lagi dari Hijir Ismail.” (HR. Bukhari)
Keempat, pembangunan Kabah dilakukan setelah Abdullah bin Zubari wafat.
Setelah Abdullah bin Zubari terbunuh, al-Hajjaj bin Yusuf Al Thaqafi masuk Kota Makkah pada 692 M melaporkan kepada Khalifah Dinasti Umayyah saat itu, Malik bin Marwan.
Ia menyebut bahwa Ibnu Zubair telah mendirikan pondasi Kabah yang diperselisihkan oleh para pemuka Makkah.
“Kalau tinggi bangunan yang dia (Abdullah bin Zubair), biarkan saja. Namun, panjang bangunan itu yang meliputi Hijir Ismail, kembalikanlah seperti semula. Dan tutuplah pintu yang dia buka,” bunyi perintah Malik bin Marwan kepada al-Hajjaj.
Al-Hajjaj kemudian meratakan dan membangun kembali Kabah seperti sebelum Abdullah bin Zubair mengubahnya.
Dia menutup pintu barat. Batu yang tidak dipakai kembali, digunakan menutupi lantai Kabah, sehingga permukaan lantai naik dari permukaan tanah.
Akibatnya, pintu yang oleh Abdullah bin Zubair disejajarkan dengan tanah naik 5 hasta dari permukaan tanah. Ketinggian pintu juga berkurang lima hasta.
Dia menghilangkan tangga kayu yang dipasang Abdullah bin Zubair di dalam Kabah.
Ketika Abdul Malik bin Marwan datang untuk umrah, dia mendengar hadis bahwa apa yang dilakukan Abdullah bin Zubair adalah keinginan Nabi SAW, maka dia menyesali perbuatannya.
'Demi Allah, aku ingin membiarkan apa yang dilakukan Abdullah bin Zubair," sesalnya.
Pada masa pemerintahan Khalifah Harun Al Rasyid (786-803), sang khalifah berniat mengembalikan Kabah ke bentuk yang dicita-citakan Nabi SAW.
Diapun berkonsultasi dengan Imam Malik. "Atas nama Allah aku serukan padamu, jangan kamu jadikan Baitullah sebagai mainan para raja. Jangan sampai salah seorang dari mereka berniat mengubahnya, kemudian hilang dari hati umatnya." kata Imam Malik.
Khalifah Harun Al Rasyid mematuhi nasehat itu, dan mengurungkan niatnya untuk mengembalikan kontruksi Abdullah bin Zubair.
Ketika Sultan Ottoman, Sulaiman Khan naik tahta pada tahun 960 H (1520 M), dia mengubah atap Kabah.
Sultan Ahmad Khan yang berkuasa pada 1021 H (1590 M) membuat beberapa perbaikan dan perubahan.
Hingga datanglah banjir besar, Rabu, 19 Sya'ban 1039 H (1618 M).
Saat itu seharian kota suci Makkah diguyur hujan. Sangat lebat dan konon yang terhebat dalam sejarah lembah suci Ibrahim. Rumah-rumah rusak dan dalam sehari sudah melayang seribu jiwa.
Ketinggian air mencapai tujuh meter, dan hampir menggapai lampu-lampu di dinding Kabah.
Esoknya, dinding yang bersebelahan dengan Hijr Ismail runtuh, sementara dinding sebelah barat dan timur hanya separoh yang utuh.
Beruntung, barang-barang berharga di Baitullah itu bisa diselamatkan, antara lain 20 buah teko emas, salah satunya bertakhtakan permata.
Pada 29 Sya’ban, Amir Makkah Syarif Mas’ud bin Idris segera memugar Kabah tanpa menanti perintah Istanbul, ibukota Kesultanan Ottoman yang berkuasa kala itu.
Namun, sesuai prosedur dia tetap mengirim ke Khalifah Murad Khan. Untuk pendanaan awal, kaum Muslimin diserukan untuk menyumbangkan harta yang halal.
Proyek darurat itu selesai dalam waktu sebulan, dengan menambal dinding Kabah dengan papan, sebagai antisipasi musim haji yang sudah dekat.
Khalifah Murad Khan menunjuk Muhammad Affandi bin Muhammad Al-Anqarawi, hakim di Madinah, untuk mewakili khalifah mengetuai pembangunan kembali Baitullah.
Agar pekerja dan orang-orang yang bertawaf tidak terganggu, dibuatlah dinding kayu di sekeliling Kabah.
Tiga hari rehab Kabah baru berjalan, Syarif Mas’ud meninggal. Ia digantikan Syarif Abdullah bin Numa’i.
Seminggu kemudian, hujan lebat kembali mengguyur, dinding yang tersisa runtuh lagi.
Diputuskan untuk membangun fondasi yang sama sekali baru. Dasar-dasar bangunan Abdullah bin Zubair, dan direvisi Hajjaj diruntuhkan seluruhnya, kecuali bagian yang melindungi Hajar Aswad.
Kabah sekarang, itulah yang dibangun Sultan Murad Khan. Perbaikan setelah itu tidak mendasar.
Pada masa Raja Saud, Kabah kembali direnovasi. Atap yang keropos dimakan air diganti.
Pada saat itu, 28 Rajab, 1377 H (1956 M) seorang sejarawan menghitung total batu Kabah, mendapatkan jumlah 1.614.
Batu-batu ini dari berbagai bentuk. Batu terbesar panjang 190 centimeter, lebar setengah meter, dan tebal 28 centimeter.
Batu terkecil adalah panjang setengah meter, dan lebar sekitar 40 centimeter.
Tetapi, itu hanya batu yang berada di dinding luar, batu yang tidak terlihat tidak dihitung.
Sebuah rekonstruksi utama dari Kabah berlangsung antara bulan Mei 1996 dan Oktober 1996.
Ini merupakan renovasi besar 400 tahun sejak Sultan Murad Khan. Selama rekonstruksi ini, yang asli satu-satunya dari Kabah adalah batu.
Semua material lainnya diganti, termasuk langit-langit, dan atap dan kayunya, hingga saat ini.
Mengenai asal mula Kabah dan pembangunannya ada yang berpendapat dilakukan sebanyak lima kali.
Pembangunan pertama dikerjakan oleh Nabi Adam As. Pendapat ini didasarkan pada riwayat al-Baihaqi dari Abdullah bin Umar. Di situ disebutkan bahwa Nabi Adam diperintahkan oleh Allah untuk membangun rumah bagi-Nya. Walllahu a’lam..
Pada zaman Nabi Nuh, Kabah mengalami kerusakan akibat banjir besar.
Yang mengakibatkan bagian atas hancur dan tersisa pondasinya yang disebut qaa’idah atau qawaa’id dalam bentuk jamak.
Dengan kondisi hancur bagian atas, Kabah dibangun oleh Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail untuk direnovasi.
Pasa masa inilah Nabi Ibrahim diperintahkan oleh Allah kepada Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail untuk meninggikan kembali pondasi itu. Lalu kisahnya diabadikan di Qur’an surah ke-2 ayat 127,
“Dan (ingatlah), ketika Ibrahim meninggikan dasar-dasar (pondasi) Baitullah bersama Ismail (seraya berdoa): “Ya Tuhan kami terimalah amalan kami, sesungguhnya Engkau Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”
Saat Kabah dibangun oleh Nabi Ibrahim untuk melanjutkan proses renovasinya, Ibrahim melakukan pijakan pada batu pertama yang dibawanya.
Pijakan batu tersebut adalah yang kini kita ketahui sebagai Maqam Ibrahim.
Setelah selesai membangun Kabah pada masanya, Ibrahim dan anaknya Nabi Ismail memanjatkan doa.
Jadi, versi ini Kabah sudah ada sebelum Nabi Ibrahim dan Nabi Adam.
Nabi Ibrahim hanya membangunnya kembali setelah Kabah rusak diterjang banjir. Banyak para ulama yang menafsirkan bahwa sebenarnya Kabah dibangun oleh para malaikat, tentu saja semuanya atas kuasa dan izin Allah SWT.
Kabah dengan pesonanya yang selalu berhasil mengetuk relung hati terdalam setiap umat Islam, siapa yang pertama kali melihatnya pasti akan meneteskan air mata.
Perasaan campur aduk akan dirasakan dalam setiap jiwa-jiwa yang datang untuk memasrahkan diri dan memohon ampun kepada Allah SWT.(rak)
Editor : Rahmat Adhy Kurniawan