RADAR SURABAYA – Husnil Teba terlahir dengan keterbatasan fisik.
Pria 38 tahun itu seorang tuna daksa yang memiliki ukuran kaki kecil, sehingga dia tidak mampu berjalan seperti orang pada umumnya.
Husnil teba banyak dibantu tangannya untuk melakukan mobilisasi.
Namun, terlahir dengan keterbatasan fisik tidak serta merta menjadikan Husnil Teba, jemaah haji Nusa Tenggara Timur itu menjadi pribadi yang cengeng, apalagi mengharapkan belas kasihan orang lain.
Husnil Teba tumbuh menjadi sosok yang mandiri, kreatif, dan inovatif.
Oleh karena itu, meskipun kondisi fisiknya terbatas, Husnil Teba bisa menjadi pengusaha sukses di daerahnya.
Pria asal Desa Balauring, Kecamatan Omesuri, Kabupaten Lembata ini dapat berangkat berhaji tahun ini karena menggantikan ayahnya yang sedang sakit.
“Setelah diumumkan nama-nama yang berhak melunasi biaya haji oleh Kemenag, ayah dan ibu saya termasuk yang berhak melakukan pelunasan. Ayah sempat mengikuti tes kesehatan tetapi beliau tidak lolos. Kakak saya kemudian menelepon saya dan meminta saya menggantikan ayah karena kondisi beliau tidak memungkinkan untuk berangkat haji,” tutur Husnil sambil berkaca-kaca.
Sambil setengah terisak, meskipun dia bersyukur karena terpilih menjadi tamu Allah SWT, di satu sisi Husnil tak mampu menyembunyikan kesedihannya yang dalam.
“Semestinya ayah saya yang berangkat tahun ini. Namun takdir Ilahi berkata lain, ayah sakit permanen dan kini saya menggantikan beliau untuk mendampingi ibu berangkat haji,” terang Husnil.
Di tengah keterbatasan fisiknya, Husnil Teba yakin dia bisa melakukan serangkaian ibadah haji dengan baik dan benar.
“Insyaallah apa yang sudah ditakdirkan Allah SWT, pasti akan ada jalannya,” ungkapnya optimistis.
Sehari-hari Husnil membuka usaha untuk menjual barang-barang elektronik, kabel, balon listrik, kacamata dan masih banyak lagi.
“Memang benar, Allah SWT sungguh maha adil,” sambungnya.
Tuhan memberikan talenta pada Husnil untuk lahir sebagai pebisnis sukses dengan hanya mengandalkan dua tangan untuk bergerak dan otak yang penuh pikiran kreatif.
Husnil mengisahkan ketika dia masih di bangku sekolah dasar (SD) dulu, ada seorang temannya yang rutin menjemputnya pakai motor.
Akan tetapi lama kelamaan dia merasa malu karena merasa bergantung pada orang lain.
“Dari situ, saya memutuskan untuk berhenti sekolah dan mulai berpikir untuk berbisnis,” ungkapnya.
Berhenti sekolah bukan berarti Husnil gagal dalam mengejar masa depannya.
Kemauan kuat untuk menjadi pebisnis, mendorong dirinya untuk mulai membuka usaha di kampung halamannya, Balauring.
Rahasia Husnil Teba sukses berbisnis adalah karena dia senantiasa berusaha melayani para pelangggannya dengan tulus dan ikhlas.
“Saya berusaha melayani pelanggan sebaik mungkin. Pelanggan yang datang dengan jumlah uang terbatas, ya saya kasih mereka kredit dulu. Nanti kalau sudah gajian atau ada uang baru mereka bayar. Banyak pelanggan itu orang-orang yang sudah saya kenal seperti teman dan keluarga,” ungkapnya.
Kini Husnil Teba yang tergabung dengan kelompok terbang (kloter) 79 Embarkasi Surabaya telah berangkat ke Tanah Suci, Minggu (2/6) pukul 11.10 WIB dari Bandara Juanda.
Dia berharap semoga ayahanda mendapat kesembuhan dan dapat pulih seperti sedia kala.
Husnil juga berharap agar istri dan anaknya senantiasa sehat selalu.
“Semoga keluarga saya yang belum berangkat haji, segera diberikan kemampuan untuk berhaji,” pungkas Husnil. (rmt/opi)
Editor : Nofilawati Anisa