RADAR SURABAYA - Fenomena gerhana matahari total diperkirakan akan segera terjadi di tahun ini, tepatnya pada Senin (8/4) nanti.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) pun mengungkap bahwa sebanyak empat gerhana akan terjadi di tahun 2024.
Dua gerhana di antaranya adalah gerhana matahari.
Gerhana yang akan terjadi pada minggu kedua bulan April ini menjadi gerhana kedua di tahun ini, setelah Gerhana Bulan Penumbra pada 25 Maret lalu.
Tak sedikit orang yang menantikan terjadinya gerhana setiap tahunnya, namun hanya sedikit dari mereka yang mempelajari lebih dalam mengenai gerhana, khususnya gerhana matahari.
Maka dari itu, simak fakta-fakta terkait gerhana matahari berikut ini.
1. Jarang terjadi
Salah satu yang membuat fenomena gerhana matahari sangat dinantikan oleh sejumlah penduduk bumi adalah karena frekuensi terjadinya yang jarang.
Kepala Penelitian dan Analisis Heliofisika NASA, Patrick Koehn, menyampaikan kepada portal berita Amerika TheVerge bahwa peristiwa gerhana, khususnya gerhana matahari total, merupakan fenomena langka.
Kelangkaan ini pada akhirnya membuat sejumlah orang rela meluangkan waktu mereka untuk duduk dan menyaksikan peristiwa bulan yang berada cukup dekat dengan bumi menghalangi keseluruhan cahaya matahari.
2. Hanya terjadi di sejumlah wilayah bumi
Selain jarang terjadi, ketika terjadinya gerhana matahari, hanya sejumlah wilayah bumi yang dapat merasakannya.
Hal ini menambah keeksklusifan fenomena gerhana matahari, sehingga orang berbondong-bondong menyaksikan peristiwa tersebut.
Di tahun 2023, hampir seluruh bagian Negara Indonesia dapat menyaksikan gerhana matahari total.
Untuk gerhana matahari total yang akan terjadi pada bulan April ini, BMKG menyebutkan sejumlah negara seperti Amerika Utara, Amerika Serikat, Meksiko, Amerika Serikat bagian tengah dan Kanada bagian timur sebagai wilayah-wilayah yang terdampak.
3. Dapat menyebabkan kerusakan mata permanen
Melihat proses terjadinya gerhana adalah tujuan utama orang-orang menyaksikan gerhana, namun memandangnya dengan mata telanjang dapat menyebabkan kerusakan serius pada mata.
Dilansir dari Scientific American, sinar ultraviolet yang terpancar ketika gerhana berlangsung dapat merusak mata karena terjadinya reaksi kimia pada retina.
Maka dari itu, sejumlah peraturan harus ditaati orang ketika mengamati gerhana, salah satunya memakai kacamata gerhana yang nantinya akan mampu menghalangi sinar ultraviolet.
Namun, National Aeronautics and Space Administration (NASA) melalui portal berita Associated Press mengimbau untuk memastikan bahwa kacamata gerhana yang dipakai mematuhi standar ISO.
4. Hanya berlangsung selama beberapa saat
Dalam sejarah, gerhana matahari yang paling lama terjadi selama 7 menit 28 detik, yaitu di tahun 743 SM.
Pada gerhana matahari total, yang terjadi di tahun 1955 adalah yang terlama, yaitu selama 7 menit 8 detik.
Sementara itu, BMKG memperkirakan gerhana matahari total yang akan terjadi di April nanti akan berlangsung selama 4 menit 26 detik. (sha/nug)
Editor : Nofilawati Anisa