SURABAYA-Pada bulan suci Ramadan 1445 Hijriyah (2024 Masehi) ini, akan diwarnai dengan dua fenomena alam yakni gerhana.
Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) telah mengumumkan adanya dua gerhana yakni gerhana bulan penumbra dan gerhana matahari total yang akan terjadi selama Ramadan tahun ini.
Fenomena gerhana bulan penumbra akan terjadi pada 25 Maret 2024 dan bisa diamati di Indonesia.
Wilayah timur Indonesia seperti Papua, Papua Barat dan sebagian Maluku, memiliki kesempatan untuk menyaksikan fenomena gerhana bulan penumbra.
Mereka dapat mengamati proses gerhana mulai dari saat bulan terbit hingga berakhir, dengan durasi cukup lama yakni total sekitar 4 jam 43 menit 39 detik.
Sementara fenomena Gerhana Matahari Total (GMT) akan terjadi pada tanggal 8 April 2024. Sayangnya gerhana ini tidak dapat diamati dari wilayah Indonesia secara langsung.
Wilayah yang beruntung untuk menyaksikan Gerhana Matahari Total adalah Eropa Barat, Amerika Utara, Amerika Selatan, Samudera Pasifik, Samudera Atlantik, dan Samudera Arktik.
Lantas apa sebenarnya gerhana? Gerhana merupakan peristiwa astronomi di mana satu objek langit menghalangi atau menutupi cahaya dari objek langit lainnya.
Dua jenis utama gerhana yang sering diamati di bumi adalah gerhana Matahari dan gerhana Bulan.
1. Gerhana Matahari terjadi saat Bulan berada di antara Bumi dan Matahari, menyebabkan sebagian atau seluruh cahaya Matahari terhalang dari pandangan Bumi.
Peristiwa ini hanya terjadi selama fase bulan baru, ketika Bulan berada dalam posisi tepat di antara Bumi dan Matahari.
2. Gerhana Bulan terjadi saat Bumi berada di antara Matahari dan Bulan, sehingga bayangan Bumi mencapai permukaan Bulan.
Hal ini mengakibatkan Bulan menjadi redup atau berwarna merah saat terjadi gerhana total.
Peristiwa ini terjadi selama fase purnama, ketika Bulan berada di sisi yang berlawanan dari Matahari.
Kedua jenis gerhana ini dipengaruhi oleh peredaran atau orbit relatif Bumi, Bulan, dan Matahari.
Gerhana memiliki nilai penting dalam ilmu pengetahuan karena memberikan pemahaman tentang mekanisme gerak relatif benda-benda langit di tata surya.
Selain itu, gerhana juga memiliki nilai budaya dan sejarah yang penting dalam berbagai tradisi dan kepercayaan di berbagai budaya di seluruh dunia. (mg2/sat/nug/jay)
Editor : Jay Wijayanto