SURABAYA - PT Freeport Indonesia bersama PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) menandatangani perjanjian Renewable Energy Certificates (REC) di Surabaya, Jumat (8/3). Melalui kerja sama ini, PT Freeport Indonesia membeli energi hijau sebanyak 1.009.000 unit REC atau setara Rp 35 Miliar untuk periode 3 tahun (2023-2025) dari pembangkit EBT PLN. Langkah ini menjadikan PT Freeport Indonesia menjadi perusahaan pertama di tahun ini yang membeli energi hijau dari PLN.
Penandatanganan Perjanjian REC antara PTFI dengan PLN dilakukan oleh Manager PLN UP3 Gresik, Andi Seno Hendriatmoko dan Executive Vice President Corporate Planning & Business Strategy PT Freeport Indonesia, Horst-Dieter Garz dan disaksikan oleh General Manager PLN UID Jawa Timur, Agus Kuswardoyo dan Vice President of Sales and Enterprise Service PLN, Fauzi Aburusman.
Executive Vice President Corporate Planning and Business Strategy PT Freeport Indonesia, Horst-Dieter Garz mengatakan, keseriusan Pemerintah Indonesia mendorong percepatan pencapaian target penurunan emisi karbon menjadi fokus PT Freeport Indonesia (PTFI) untuk mengeksplorasi peluang-peluang inisiatif dekarbonisasi dan energi terbarukan di Indonesia melalui kerjasama jual beli Renewable Energy Certificates (REC).
"Kesepakatan ini merupakan wujud komitmen kuat PTFI untuk mengurangi emisi karbon sebesar 30 persen pada tahun 2030. Pembelian REC dari PLN untuk pasokan energi listrik operasional Smelter PTFI akan memberikan kontribusi yang signifikan untuk memenuhi target tersebut," kata Garz.
Baca Juga: BUMD Jatim Siap Berkontribusi Kembangkan Smelter Freeport di JIIPE Gresik
Dikatakan, PTFI sedang melakukan pembangunan smelter yang kedua. PTFI telah menanamkan investasi hingga 3,1 miliar dolar Amerika Serikat atau setara Rp 48 triliun per akhir Desember 2023. Setelah beroperasi penuh, smelter ini akan mampu mengolah konsentrat tembaga dengan kapasitas produksi 1,7 juta ton dan menghasilkan katoda tembaga hingga 600.000 ton per tahun.
"Kami bangga menjadi bagian dari inisiatif dekarbonisasi dan energi terbarukan di Indonesia, serta berkomitmen untuk terus berkolaborasi dengan PLN. Ini adalah langkah penting dalam memperkuat keberlanjutan lingkungan dan meningkatkan kontribusi kami terhadap pembangunan berkelanjutan di Indonesia," kata Garz.
Ditempat yang sama, General Manager PLN UID Jatim, Agus Kuswardoyo mengungkapkan, REC merupakan bentuk layanan PLN untuk memudahkan pelanggan mendapatkan pengakuan internasional atas penggunaan Energi Baru Terbarukan (EBT) yang transparan, akuntabel, dan diakui secara global. Setiap sertifikat REC membuktikan bahwa listrik per megawatt hour (MWh) yang digunakan pelanggan berasal dari pembangkit EBT atau nonfosil.
“PLN memiliki peran dan keterlibatan aktif dalam program transisi energi. PLN menyediakan layanan REC dari pembangkit EBT yang telah ada.. Kami sangat mendukung para pelanggan kami memiliki semangat dan antusiasme yang sama terhadap suksesnya transisi energi di Indonesia,” kata Agus.
Baca Juga: PT Freeport Indonesia Buka Lowongan Lulusan SMA
Dia menjelaskan REC PLN merupakan produk kerja sama PLN dan Clean Energy Investment Accelerator (CEIA), yang merupakan bukti kepemilikan sertifikat berstandar internasional untuk produksi tenaga listrik yang dihasilkan dari pembangkit energi terbarukan. REC dari PLN menggunakan sistem pelacakan elektronik dari APX TIGRs yang berlokasi di California, Amerika Serikat, untuk memastikan setelah sertifikat diterbitkan, tidak dapat dibeli atau dijual ke pihak lain. Seluruh proses juga telah diverifikasi sehingga memenuhi standar internasional.
"Hingga tahun 2023, PLN UID Jawa Timur telah menjual REC kepada 28 pelanggan yaitu sebanyak 863.724 unit REC yang setara dengan Rp 30,3 Miliar," pungkasnya. (fir)