SIDOARJO - Mengulik sejarahnya, Deltras Sidoarjo yang kini berlaga di kompetisi Liga 2 pernah terancam sanksi berat dari PSSI.
Hal tersebut terjadi saat The Lobster masih bermain di kompetisi tertinggi sepak bola nasional, yakni Indonesia Super League (ISL), 13 tahun silam.
Penyebabnya klasik, para pemain Deltras enggan masuk lapangan untuk main bola karena gaji yang menjadi hak pemain belum terbayarkan oleh pihak manajemen.
Karena itu pula, The Lobster dipastikan kalah walk over (WO) atas Persiwa Wamena. Tak hanya itu, tim kebanggaan arek-arek Sidoarjo ini juga dikurangi tiga poin.
Kapten Deltras Sidoarjo saat itu, Bejo Sugiantoro mengungkapkan, pemain sudah tak tahan dengan janji-janji yang dilontarkan manajemen.
Hingga menjelang berakhirnya kompetisi ISL, pemain sama sekali belum menerima hak mereka.
Oleh sebab itu, Bejo dan kawan-kawan berencana mendatangi kantor Bupati Sidoarjo saat itu, Saiful Illah. Pihaknya ingin permasalahan gaji segera diselesaikan oleh manajemen.
Sebenarnya, pemain sudah bergerak ke kantor Pemkab Sidoarjo beberapa beberapa hari sebelum pertandingan. Akan tetapi belum ada kongkrit soal kapan gaji akan dibayarkan.
Saat itu menjadi awal dari buruknya finansial klub asal Kota Bandeng. Hingga akhirnya turun kasta selama bertahun-tahun ke amatir Liga 3.
Pada 2022 kemarin Deltras mulai menunjukkan kebangkitannya. Klub kebanggaan warga Sidoarjo tersebut berhasil promosi ke Liga 2.
Bahkan pada musim 2023/2024 Deltras nyaris saja lolos ke Liga 1. Akan tetapi mimpi tersebut kembali harus tertunda.
Meski begitu, Deltras Sidoarjo kini dipimpin oleh manajemen yang benar-benar mempunyai mimpi membangun sepak bola berkarakter Sidoarjo. Sepak bola tingkat grassroot sudah dikembangkan melalui Deltras Academy.
Tak main-main, Deltras Academy diarsiteki langsung oleh pelatih berpengalaman pada pemain usia muda, Fakhri Husaini. Karena itu, hal tersebut menjadi modal penting bagi perkembangan Deltras ke depannya. (sai/vga)
Editor : Jay Wijayanto