Surabaya - Hari ini 29 Februari 2024 menjadi hari yang langka. Sebab, 29 Februari hanya akan berulang empat tahun sekali. Tahun kabisat adalah tahun yang habis dibagi empat dan habis dibagi 400 alias leap day. Normalnya, satu tahun terdiri dari 365 hari, tapi saat tahun kabisat menjadi 366 hari. Lalu, apa jadinya jika dunia tanpa tahun kabisat?
Tahun kabisat ada, sebagian besar, untuk menjaga agar bulan-bulan tetap selaras dengan peristiwa tahunan, termasuk titik balik matahari dan titik balik matahari, menurut Jet Propulsion Laboratory di California Institute of Technology hal ini juga sebagai koreksi untuk mengimbangi fakta bahwa orbit Bumi tidak tepat 365 hari dalam setahun. Perjalanan ini memakan waktu sekitar enam jam lebih lama dari itu, kata NASA.
Berlawanan dengan yang dipercayai sebagian orang, tidak setiap empat tahun sekali terjadi kabisat. Menambahkan hari kabisat setiap empat tahun sekali justru akan membuat kalender menjadi lebih panjang lebih dari 44 menit, menurut National Air & Space Museum.
Kemudian, pada kalender yang akan datang, ditetapkan tahun-tahun yang habis dibagi 100 tidak mengikuti aturan hari kabisat empat tahunan kecuali jika tahun-tahun tersebut juga habis dibagi 400.
Dalam 500 tahun terakhir, tidak ada hari kabisat pada tahun 1700, 1800, dan 1900, tetapi tahun 2000 memiliki satu hari kabisat. Jika praktik ini terus diikuti sampai 500 tahun ke depan, maka tidak akan ada hari kabisat pada tahun 2100, 2200, 2300, dan 2500.
Tahun kabisat berevolusi. Peradaban kuno mengandalkan kosmos untuk merencanakan hidup mereka, dan ada kalender yang berasal dari Zaman Perunggu. Kalender-kalender tersebut berdasarkan fase Bulan atau Matahari, seperti halnya berbagai kalender saat ini. Biasanya kalender-kalender tersebut bersifat "lunisolar", menggunakan keduanya.
Melansir LiveScience, ada karena satu tahun dalam kalender Gregorian sedikit lebih pendek daripada tahun Matahari, yaitu jumlah waktu yang dibutuhkan Bumi untuk mengorbit Matahari sepenuhnya satu kali.
Satu tahun kalender panjangnya tepat 365 hari. Namun, satu tahun Matahari kira-kira panjangnya 365,24 hari, atau 365 hari, 5 jam, 48 menit, dan 56 detik.
Jika tidak memperhitungkan perbedaan ini, National Air and Space Museum mengungkap dampaknya ada pada pergeseran waktu musim. Selain itu, dalam 700 tahun, musim panas di belahan Bumi utara akan dimulai pada Desember, bukan Juni.
Menambahkan hari kabisat setiap tahun keempat akan menghilangkan sebagian besar masalah pergeseran waktu ini. Dengan hari tambahan, yakni 366 hari karena ada 29 Februari, jumlahnya bakal hampir sama dengan selisih yang terakumulasi selama waktu tersebut. Namun, sistem ini masih belum sempurna lantaran kita memperoleh lebih kurang 44 menit tambahan setiap tahunnya atau setara satu hari setiap 129 tahun.
Untuk mengatasi masalah ini, kita melewatkan tahun kabisat setiap seratus tahun kecuali tahun kabisat yang habis dibagi 400, seperti 1600 dan 2000. Walau begitu, masih ada perbedaan kecil antara tahun kalender dan tahun Matahari, itulah sebabnya IBWM telah bereksperimen dengan detik kabisat.
Secara keseluruhan, tahun kabisat berarti kalender Gregorian tetap sinkron dengan perjalanan Bumi mengelilingi Matahari.
Editor : M Firman Syah