SEMARANG - Enam oknum TNI pelaku penganiayaan terhadap dua sukarelawan pasangan Calon Presiden dan Wakil Presiden RI Ganjar Pranowo-Mahfud MD di Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah, akhirnya ditetapkan sebagai tersangka.
"Berdasarkan alat bukti dan keterangan terperiksa, penyidik Denpom IV/4 Surakarta telah mengerucutkan keenam pelaku," kata Kepala Penerangan Kodam IV/ Diponegoro, Kolonel Richard Harison di Semarang, Selasa (2/1).
Keenam pelaku tersebut masing-masing Prada Y, Prada P, Prada A, Prada J, Prada F, dan Prada M. Keenamnya adalah anggota Kompi B Yonif Raider 408/Suhbrastha.
Menurut dia, perkara tersebut selanjutnya akan diserahkan ke Oditur Militer sebelum disidangkan di pengadilan militer. Richard memastikan proses hukum terhadap keenam oknum ini akan berjalan independen.
"TNI, dalam hal ini Kodam IV/ Diponegoro, tidak melakukan intervensi," katanya.
Sebelumnya, dua anggota relawan pasangan Ganjar Pranowo-Mahfud MD diduga menjadi korban penganiayaan sejumlah oknum TNI di Kabupaten Boyolali, Sabtu (30/12). Kejadian tersebut diduga dipicu oleh kesalahpahaman antara pelaku dan korban usai mengikuti kampanye pasangan Ganjar-Mahfud.
Terkait tindak penganiayaan yang menimpa relawannya di Boyolali ini, Ganjar Pranowo mengaku turut berduka dan telah menjenguknya. Calon presiden nomor urut tiga itu pun membeberkan kronologi penganiayaan.
Dikatakan Ganjar, ia tak menyangkal bahwa relawannya sempat menggeber-geber sepeda motor yang diduga menjadi pemicu pengeroyokan dari 15 oknum TNI di Boyolali. Namun, Ganjar tak membenarkan apabila relawan yang geber-geber motor tersebut sebelumnya sudah diingatkan oleh oknum TNI.
"Nggak ada itu. Jadi itu cerita lewat saja. Dia (relawan) berhenti dipukul, gitu aja. Tanpa peringatan," ungkap Ganjar saat menjenguk relawannya yang dirawat di RS Pandan Arang Boyolali, Minggu (31/12).
"Tidak ada komunikasi sebelumnya, karena saya ikuti ceritanya, katanya peringatan. Tidak ada itu," lajutnya menegaskan.
"Jadi saya ingin luruskan agar tidak 'bengkok-bengkok'. Saya kira hanya pengadilan yang bisa putuskan dengan baik. Agar menjadi peringatan untuk kita semua," tegas Ganjar.
Dikatakan Ganjar, kejadian ini harus menjadi peringatan. Apabila ada yang melanggar aturan, lebih baik diserahkan kepada aparat yang berwenang. Sehingga tidak terjadi aksi main hakim sendiri.
"Siapa pun tidak boleh mengatasnamakan apa pun dengan semena-semena. Kami akan urus itu, dan kami komunikasi dengan teman-teman di Jakarta juga sudah bicara dengan Pak Panglima TNI dan Pak Kasad," ungkap Ganjar.
"Saya sudah komunikasi dengan Pak Pangdam. Dan sambutannya baik tadi. Ada tim dari saya untuk bisa dikomunikasikan terus-menerus mengenai perkembangannya. Kami akan ikuti terus," tegasnya.
Ganjar mengaku juga mengingatkan pendukungnya tetap tertib untuk tidak terpancing atas kejadian tersebut. (jpc/ant/jay)
Editor : Jay Wijayanto