Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Selebriti Sidoarjo Surabaya Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Saking Bahagianya Usai Upacara, Presdir Freeport Indonesia Langsung Joget dengan Karyawan

Nofilawati Anisa • Senin, 21 Agustus 2023 | 02:32 WIB
Presiden Direktur PT Freeport Indonesia (PTFI) Tony Wenas (jas hitam), Roshita Wenas (kebaya merah) dan tamu undangan joget bersama setelah upacara HUT ke-78 Kemerdekaan RI di Tembagapura, Papua.
Presiden Direktur PT Freeport Indonesia (PTFI) Tony Wenas (jas hitam), Roshita Wenas (kebaya merah) dan tamu undangan joget bersama setelah upacara HUT ke-78 Kemerdekaan RI di Tembagapura, Papua.

TEMBAGAPURA - Puncak perayaan HUT ke-78 Kemerdekaan RI PT Freeport Indonesia (PTFI)  ditandai dengan upacara bendera yang digelar di Sport Hall Tembagapura, Kamis (17/8/2023).

Di tengah rintik hujan dan kabut, semua peserta antusias mengikuti upacara yang berlangsung khidmat.

Berikut laporan jurnalis Radar Surabaya, Nofilawati Anisa, yang merekam kekhidmatan upacara 17-an di atas ketinggian 2.000 meter di atas permukaan laut (mdpl).

Sudah berminggu-minggu rintik hujan menyelimuti Tembagapura. Pagi itu, hujan juga membuat kawasan perkotaan yang dibangun Freeport Indonesia pada tahun 1970-1972 itu semakin dingin. Suhu berkisar di angka 10-11 derajat Celsius.  

Meski hujan sekaligus dingin, namun tak menyurutkan peserta untuk mengikuti upacara pengibaran bendera merah putih. Buktinya, meskipun jadwal upacara dimulai pukul 08.00 WIT namun sejak setengah jam sebelumnya, peserta upacara sudah berkumpul. Peserta upacara adalah karyawan PTFI. Jumlahnya ratusan dan mewakili semua divisi.

Dress code untuk peserta adalah baju adat nusantara. Masing-masing divisi berbeda-beda. Ada yang pakai adat Minang, Batak, Jawa, hingga Dayak. Nyaris adat nusantara dari semua pulau  terwakili. Keragamannya seperti makna Bhinneka Tunggal Ika.

“Sesuai dengan tema tahun ini, Kita Satu untuk Indonesia Maju, peserta upacara mengenakan busana yang mencerminkan keberagaman Indonesia,” ungkap Tony Wenas, Presiden Direktur PTFI yang menjadi inspektur upacara.

Tak mau kalah dengan peserta upacara, tamu undangan yang hadir juga mengenakan dress code khusus. Yang laki-laki mengenakan jas atau kemeja batik, sementara yang perempuan mengenakan kebaya atau baju adat. 

Bagaimana dengan pengibar benderanya? Yang bertugas adalah karyawan PTFI dan pelajar SMP Yayasan Pendidikan Jaya Wijaya. Mereka terpilih melalui proses seleksi yang cukup ketat. Pasukan pengibar bendera merah putih terdiri dari 40 karyawan, dan 30 siswa SMP Yayasan Pendidikan Jayawijaya.

Meskipun hujan terus mendera sepanjang berlangsungnya upacara, namun para peserta tak patah semangat. Pun demikian dengan para petugas upacara. Mereka melaksanakan tugasnya dengan sangat baik. “Terima kasih yang sebesar-besarnya, saya sampaikan kepada seluruh peserta dan petugas upacara,” kata Tony Wenas.

Dalam pidatonya, Tony Wenas menyampaikan sejumlah sumbangsih PTFI untuk negara. Disebutnya bahwa PTFI adalah salah satu perusahaan dengan kontribusi terbesar ke penerimaan negara. Selama 30 tahun, tepatnya terhitung sejak 1992 sampai 2022, PTFI telah menyumbang sebesar Rp 407 triliun untuk penerimaan negara.

"Sementara untuk manfaat tidak langsung PTFI terhadap negara mencapai USD 59 miliar atau sekitar Rp 903 triliun," papar Tony yang juga seorang musisi itu.

Lebih jauh ia menjelaskan, di tahun 2022, PTFI menyumbang USD 3,6 miliar atau sekitar Rp 55 triliun kepada penerimaan negara dalam bentuk pajak, royalti, dividen dan pembayaran lainnya. Dari angka itu, sebesar Rp 8,7 triliun merupakan manfaat langsung yang diterima Papua.

"Sementara manfaat tidak langsung yang dikontribusikan PTFI di 2022 mencapai USD 5,9 miliar atau sekitar Rp 90 triliun dalam bentuk pembayaran gaji karyawan, pembelian dalam negeri, pengembangan masyarakat, pembangunan daerah, dan investasi dalam negeri," papar Tony.

Usai upacara tersebut, Tony juga memberikan penghargaan kepada para pegawai yang telah mengabdi di PTFI selama 25 dan 30 tahun.

Setelah upacara pengibaran bendera rampung, peserta dan tamu undangan dihibur dengan lagu-lagu dan atraksi dari masing-masing divisi.

Nah, di sinilah keseruan terjadi. Tony Wenas dan istrinya, Roshita Wenas turun ke lapangan untuk ikut berjoget dengan karyawan. “Ayok-ayok, kita memeriahkan 17-an bersama mereka,” ajak Roshita sambil menggandeng sejumlah tamu undangan untuk turun ke lapangan.

Ajakan itu rupanya langsung direspons oleh tamu undangan dan hampir semua peserta upacara. Jadilah Sport Hall Tembagapura sebagai lapangan joget dengan lagu-lagu daerah yang ngehits.

Upacara 17-an dipungkasi dengan joget Maumere yang membuat peserta berkeringat padahal gerimis terus turun di kota tambang yang dinamai Tembagapura pada 3 Maret 1973 itu. (opi)

 

Editor : Lambertus Hurek
#tembagapura papua #Freeport Indonesia #freeport #hari kemerdekaan