SURABAYA - Pemkot Surabaya terus menggenjot program padat karya untuk warga miskin (gamis). Kali ini aset bekas Kelurahan Wonokromo disulap jadi rumah padat karya. Bidang usahanya produksi sabun pembersih lantai hingga cuci piring.
Kepala Bidang Keamanan dan Infrastruktur Teknologi Informasi Diskominfo Surabaya Tri Aji Nugroho mengatakan, padat karya yang dinamai Wani Wangi ini sebagai wujud dari komitmen Diskominfo dalam menjalankan program Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi untuk menggerakkan ekonomi masyarakat.
Sesuai dengan arahan Wali Kota Cak Eri, akhirnya Kepala Diskominfo M. Fikser sepakat menggerakkan produksi toiletries di Rumah Padat Karya Wonokromo di Jalan Pulo Wonokromo 170-C. “Kenapa dipilih produk ini? Karena pasarnya cukup bagus. Sebab, ini barang habis pakai yang pasti akan selalu dibutuhkan. Itu menjadi salah satu alasan kami memilih produk ini,” kata Aji, Kamis (13/7).
Aji menjelaskan, rumah padat karya itu bekerja sama dengan Kecamatan Wonokromo. Sebab, tempat yang digunakan untuk produksi sabun Wani Wangi adalah aset pemkot eks bangunan Kelurahan Wonokromo.
Di dalam rumah padat karya itu ada tiga orang yang ikut dalam pelatihan produksi sabun. Ketiganya warga miskin dari wilayah Kelurahan Wonokromo. Diskominfo Kota Surabaya juga menggandeng PT Dua Sahabat Mendunia untuk melakukan bimbingan pelatihan kepada tiga orang tersebut.
“Yang dilatih adalah para staf yang nantinya akan memproduksi ini (sabun pembersih). Harapannya, dengan pelatihan ini mereka bisa melakukan produksi secara mandiri. Kemudian produknya bisa dipasarkan ke seluruh OPD, sekolah, maupun puskesmas,” terangnya.
Tidak hanya OPD, sekolah, dan puskesmas. Nantinya, hasil produksi itu juga akan dipromosikan ke hotel, perkantoran, dan masyarakat di seluruh Surabaya. Sebelum dijual, produk Wani Wangi akan didaftarkan terlebih dahulu izin edarnya.
Setelah ada izin edar, produk pembersih akan dipromosikan melalui media sosial (medsos) dan kantor OPD di lingkungan Pemkot Surabaya. “Sementara ini, yang kami produksi ada dua jenis, yakni pembersih lantai dengan kemasan 800 mililiter dan jeriken. Kemudian ada porselen dengan kemasan botol,” jelasnya.
Aji berharap, produk padat karya bisa berjalan maksimal dan berkelanjutan. Ketika sudah berjalan maksimal dan banyak pesanan, diharapkan juga bisa menambah tempat produksi sehingga dapat mengangkat perekonomian masyarakat. “Alat kami juga sesuai dengan pabrikan rumah tangga. Sekali produksi bisa menghasilkan ratusan botol,” katanya.
Andi, warga Karangrejo Gang III, mengaku masih kesulitan ketika baru pertama kali memproduksi sabun pencuci piring. “Kalau sudah tahu pasti mudah, tapi ini baru pertama kali. Jadi, perlahan-lahan. Perlu belajar lagi,” kata Andi. (rmt/rek)
Editor : Jay Wijayanto